Anakkku Seperti Malaikat#part3
Tak ku sangka mas Adit pulang lebih awal, punggung tangan lelaki itu langsung ku cium sambil kepalaku dibelainya tulus. Matanya sayu. Badannya yang kekar tertunduk lalu digenggamnya kedua tanganku erat. Diciumnya dengan kumis tipis yang amat kurindukan. Tak terasa tetesan airmata pun mengalir di kedua tanganku. "Maafkan mas yah....", suaranya lirih pelan menahan isakan. Mata kami bertemu dekat dan menatapku dalam-dalam. Ku hanya menggangguk. Diciumnya keningku dengan kasih sayang. Ahh... Mas Adit memang selalu membuat beban dipundakku terasa berkurang. Hanya dengan ciuman keningnya yang tulus seperti membuatku mendapatkan energi baru untuk menghadapi semua ini. Dari balik tirai kak Dini menutup tirai rapat. Tak ingin mengganggu kami, yang sedang menahan isak tangis. Mas Adit memelukku. Lama. " Mas...anak kita...", ku mulai membuka pembicaraan hendak memberitahukan kepada mas Adit apa yang terjadi, walaupun ku tahu pasti kak Dini sudah menceritakannya. " ...