Anakku Seperti Malaikat#part1
Dadaku bergemuruh. Jantung yang berdetak kencang, merasakan denyut lain melalui alat pendeteksi jantung yang merekam detak makhluk mungil yang ada dalam perutku. Rasanya sungguh ku tak sabar menantinya keluar melihat dunia, merajut benang kehidupan hingga membentuk perpaduan kehidupan yang sempurna. Tak hanya aku, seluruh pasukan keluarga sudah menanti. Suamiku yang sedang bertugas di ujung pulau sumatra, terpaksa kuikhlaskan. Perkiraan HPL memang belum tiba, namun dokter meminta kami mempercepat kelahiran melalui operasi. Bukan karena aku tidak menginginkan kelahiran normal. Sungguh, bukan itu. Walaupun seringkali ku mendengar bisikan yang kerap kali menggangguku, kuberusaha untuk bersikap tenang. Dibilang tidak sabar dalam menghadapi proses kelahiran pun, hanya ku balas mereka dengan senyuman. Padahal di dalam hatiku, kelahiran normal adalah sebuah keajaiban dariNya. Airmataku menggenang di pelupuk mata. Buru-buru ku usap sebelum terlihat oranglain.
"Mba, saya cabut selangnya," suara suster sedikit mengagetkanku.
"Hasil rekamannya bagaimana sus?" tanyaku dengan suara lirih.
" Alhamdulillah...bagus ko mba", sambil perlahan mencabut beberapa selang yang menempel di bagian perutku.
Ku tarik nafas panjang sambil berucap hamdallah. Semoga persalinanku kali ini lancar. Doaku dalam hati.
Beberapa perawat menarik ranjang yang kutiduri. Memasukkanku ke dalam sebuah ruangan kecil, mirip seperti ruang tunggu. Ada juga ibu lainnya yang sudah siap masuk ke ruangan operasi dengan wajah tegang. Obat bius yang masuk belum seratus persen bekerja. Dalam ruangan ini, kerabat ataupun keluarga sudah tak boleh berkunjung mendekati pasien.
Salah satu perawat menyuruh dan membantuku duduk. Entah menggunakan obat bius apa, namun bagian tulang belakang terasa begitu linu. Mungkin begini ya rasanya di bius total. Pikirku menerawang. Sambil menyibukkan diriku dengan fikiran-fikiran positif lainnya untuk menghilangkan rasa tegang yang katanya sering melanda pasien yang hendak di secar.
Lampu yang bercahaya, menyoroti bagian perut. Kain yang menghalangiku hingga tak dapat kulihat besarnya perut yang berisi makhluk kecil lucu.
"Apa yang ibu rasakan?". Salah satu perawat berada tepat disamping kepalaku, mengajakku mengobrol. Agak aneh memang, mungkin agar aku tidak tegang saat operasi persalinan. Kunikmati obrolannya hingga dalam hitungan menit ku sudah tak tahu, ada dimana ku berada. Ku hanya mendengar percakapan beberapa dokter dan perawat, seperti sedang mengambil sesuatu dalam perutku. Sakit?. Tentu tidak, karena obat bius masih bekerja sangat baik.
Silau lampu membuat mataku enggan terbuka. Teringat proses persalinan secar yang kulalui, langsung ku mencari dokter dan perawat sekitar ruangan. Ah...badan ini masih tak bisa digerakkan. Hanya bisa kucari dengan sepasang mata yang sibuk memandangi perawat mondar mandir menyiapkan pasien selanjutnya.
Seseorang duduk mendekatiku.
"Sakit??". Tanyanya penuh iba.
Hanya bisa kugelengkan kepala. Karena suarapun tak bisa keluar menembus kerongkongan. Kak Dini, selalu menemaniku di rumah sejak mas Adit pergi bertugas, hingga menjelang persalinan pun, beliau selalu siaga menjagaku dan memenuhi semua kebutuhan. Mata kak Dini menatapku lama. Mungkin karena merasa kasihan perut adiknya dicabik-cabik para dokter lelaki dalam ruangan operasi. Kulemparkan senyuman kepadanya, pertanda tak perlu ada yang dikhawatirkan.
"Bagaimana mba, dotnya mau beli sendiri atau mau dibelikan pihak rumah sakit??". Salah satu perawat bertanya kepada kak Dini.
Kak Dini kaget dan melirikku cemas, ku balas dengan kernyitan dahi. Mengapa kak Dini tidak cerita kalau pesan dot bayi.
"Dari pihak rumah sakit saja ya sus," sambil menyerahkan sejumlah uang yang cukup banyak.
Hah...dot seharga lima ratus ribu?? Dot apaan yang dibeli kak Dini, dan untuk siapa dot itu???.
Fikiranku sudah tak jelas arah.
"Untuk siapa kak?? Kenapa suster itu menawarkan dot?. Kenapa kakak kasih uang banyak sekali ke suster??." ku kejar dengan pertanyaan beruntun ke arah kak Dini, dengan suara pelan.
Kak Dini mulai menelan ludah. Seperti orang kebingungan. Dua pasien lain yang berada di sebelah kanan dan kiriku menatap ke arah kami. Seakan tak kalah sabar menunggu jawaban dari kak Dini.
" Sa...sa...sabar yah Fir...", akhirnya suara kak Dini keluar terbata. Menggenggam tangan kananku yang diinfus dengan lembut.
Ada apalagi ini??. Ya Allah.... Apa bayiku mengalami kelainan??. Apa bayiku tidak sempurna??. Seperti sedang diserbu berbagai macam kemungkinan terburuk dan membuat dunia seperti terbalik runtuh menimpaku seketika. Tak terasa airmataku mengalir tak dapat kubendung.
Bersambung****

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini