Ahh....Yang Sering Terlupakan
Bismillaahirrahmanirraahiim....
Entah mengapa beberapa hari ini diingatkan tentang sosok ibu. Mulai dari tulisan seputar ibu hingga video yang tayang viral di beberapa medsos. Maklum, menjelang Iedul fitri, banyak sekali orang-orang yang kebanjiran THR.
Nah, mungkin sebagian orang pasti merindukan sosok ibunya yang nun jauh disana, atau mungkin memiliki masalah dengan sang ibunda yang dahulu ketika beliau masih hidup.
Contohnya ada yang memposting di salah satu grup whatsapp yang di copas dari salah satu yang menuliskannya di salah satu medsos.
Sudah bisa ditebak yah, apa maksudnya. Karena yang membuat tulisan, sudah blak-blakan mengutarakannya. Mungkin pula, si pembaca tergerak hati untuk lebih memedulikan ibunya, daripada lebih dominan mendahulukan keluarga. Iyah sih, memang betul, semua adalah hasil keringat suami istri untuk menghidupi anak-anaknya. Tapi ya mbok jangan cuma mikirin anak yah, pikirkan juga tentang ibu kita baik kandung maupun mertua.
Keesokan harinya, saat sedang melihat-lihat beranda facebook, ada video yang masih bertema ibu. Kali ini bukan tentang baju baru, melainkan ketidakinginan mengasuh orangtua bahkan dilempar bak bola tak berharga.
Akhirnya, setelah penolakan kedua anak lelakinya, akhirnya pengasuhan diambil alih oleh anak perempuan yang mungkin janda juga. Memiliki hanya satu orang anak laki-laki. Sedih banget waktu liat video ini, ikutan nangis. Apalagi saat sang ibu, mendengarkan proses rapat ketiga anaknya. Sang ibu hanya duduk termenung dan mendengarkan dengan hati pilu.
Tiba-tiba anak perempuannya masuk ke dalam kamar, meminta ibunya berkemas agar pindah ke kontrakkan miliknya. Salut sama pembuat cerita, ibu yang tua renta dengan segala keterbatasan dan kesulitan memenuhi hidup, sampai tak bisa berdiri dan makan dengan susah payah, mengetuk hati sang anak untuk membantu.
Tertangkaplah oleh kedua mata anaknya yang masih kecil. Begitu seterusnya, setiap hari. Hingga uang pun semakin menipis karena harus bertanggungjawab mengobati ibunya. Pasti sedih, didesak kebutuhan ekonomi, namun ingin hati membiayi ibu yang sudah tak lama hidup lagi.
Ternyata benar, di ujung usia sang ibu, putrinya masih tetap setia menemani, hingga ajal datang menjemput. Haru biru saat anaknya pun mendapati kegigihan ibunya yang mendalam merawat neneknya selama ini.
Dipemakaman sang ibu, kedua kakaknya merasa sangat menyesal. Yah, menyesal karena mungkin tak mau menghidupi kebutuhan ibunya di akhir-akhir kehidupannya. Tapi si bungsu tetap diam seribu bahasa, seakan hanya mata yang bicara, tega sekali mereka yang menelantarkan.
Akhirnya ditengah pemakaman si kecil berhenti sejenak, si kecil yang mengalami dan melihat dengan kedua matanya sendiri, memegang kedua tangan ibunya yang telah merawat neneknya. Memanggilnya dengan haru,
"Mama....". Tiba-tiba isaknya.
"Saya akan merawat mama, seperti mama merawat nenek". Tangisan pun pecah, mengalir deras diiringi pelukan erat dari mamanya.
Apa yang dilihat anaknya selama ini, ternyata membekas dalam ingatan sang anak. Tanpa diminta, tanpa diajarkan dengan kata, namun anak akan bisa menilai, dimana letak kebaikan yang harus ditapaki dalam hidupnya.
Hanya sekedar cuplikan kisah, namun benar-benar mengangkat kisah nyata dalam kehidupan keseharian kita. Memang hanya ilustrasi, namun didalamnya seakan nyata dalam kehidupan realita kita. Beruntunglah bagi anda yang masih memuliakan ibu baik di pandangan mata maupun hati kita.
Entah mengapa beberapa hari ini diingatkan tentang sosok ibu. Mulai dari tulisan seputar ibu hingga video yang tayang viral di beberapa medsos. Maklum, menjelang Iedul fitri, banyak sekali orang-orang yang kebanjiran THR.
Nah, mungkin sebagian orang pasti merindukan sosok ibunya yang nun jauh disana, atau mungkin memiliki masalah dengan sang ibunda yang dahulu ketika beliau masih hidup.
Contohnya ada yang memposting di salah satu grup whatsapp yang di copas dari salah satu yang menuliskannya di salah satu medsos.
Ketika kamu membelikan baju lebaran untuk anak-anakmu, janganlah kamu lupakan orang yang dulu membelikanmu baju waktu kecil.
Janganlah kamu lupakan perempuan yang memakaikanmu baju baru pada pagi hari lebaran, dan dia tersenyum di hadapanmu serta menciummu.
Jangan kalian lupakan jika mereka telah wafat, berikan sedekah dan doa untuknya, lalu katakanlah; Ya Allah, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku dimasa kecil.
~ Al Habib Ali Al-Jufri~
Sudah bisa ditebak yah, apa maksudnya. Karena yang membuat tulisan, sudah blak-blakan mengutarakannya. Mungkin pula, si pembaca tergerak hati untuk lebih memedulikan ibunya, daripada lebih dominan mendahulukan keluarga. Iyah sih, memang betul, semua adalah hasil keringat suami istri untuk menghidupi anak-anaknya. Tapi ya mbok jangan cuma mikirin anak yah, pikirkan juga tentang ibu kita baik kandung maupun mertua.
Keesokan harinya, saat sedang melihat-lihat beranda facebook, ada video yang masih bertema ibu. Kali ini bukan tentang baju baru, melainkan ketidakinginan mengasuh orangtua bahkan dilempar bak bola tak berharga.
Akhirnya, setelah penolakan kedua anak lelakinya, akhirnya pengasuhan diambil alih oleh anak perempuan yang mungkin janda juga. Memiliki hanya satu orang anak laki-laki. Sedih banget waktu liat video ini, ikutan nangis. Apalagi saat sang ibu, mendengarkan proses rapat ketiga anaknya. Sang ibu hanya duduk termenung dan mendengarkan dengan hati pilu.
Tiba-tiba anak perempuannya masuk ke dalam kamar, meminta ibunya berkemas agar pindah ke kontrakkan miliknya. Salut sama pembuat cerita, ibu yang tua renta dengan segala keterbatasan dan kesulitan memenuhi hidup, sampai tak bisa berdiri dan makan dengan susah payah, mengetuk hati sang anak untuk membantu.
Tertangkaplah oleh kedua mata anaknya yang masih kecil. Begitu seterusnya, setiap hari. Hingga uang pun semakin menipis karena harus bertanggungjawab mengobati ibunya. Pasti sedih, didesak kebutuhan ekonomi, namun ingin hati membiayi ibu yang sudah tak lama hidup lagi.
Ternyata benar, di ujung usia sang ibu, putrinya masih tetap setia menemani, hingga ajal datang menjemput. Haru biru saat anaknya pun mendapati kegigihan ibunya yang mendalam merawat neneknya selama ini.
Dipemakaman sang ibu, kedua kakaknya merasa sangat menyesal. Yah, menyesal karena mungkin tak mau menghidupi kebutuhan ibunya di akhir-akhir kehidupannya. Tapi si bungsu tetap diam seribu bahasa, seakan hanya mata yang bicara, tega sekali mereka yang menelantarkan.
Akhirnya ditengah pemakaman si kecil berhenti sejenak, si kecil yang mengalami dan melihat dengan kedua matanya sendiri, memegang kedua tangan ibunya yang telah merawat neneknya. Memanggilnya dengan haru,
"Mama....". Tiba-tiba isaknya.
"Saya akan merawat mama, seperti mama merawat nenek". Tangisan pun pecah, mengalir deras diiringi pelukan erat dari mamanya.
Apa yang dilihat anaknya selama ini, ternyata membekas dalam ingatan sang anak. Tanpa diminta, tanpa diajarkan dengan kata, namun anak akan bisa menilai, dimana letak kebaikan yang harus ditapaki dalam hidupnya.
Hanya sekedar cuplikan kisah, namun benar-benar mengangkat kisah nyata dalam kehidupan keseharian kita. Memang hanya ilustrasi, namun didalamnya seakan nyata dalam kehidupan realita kita. Beruntunglah bagi anda yang masih memuliakan ibu baik di pandangan mata maupun hati kita.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini