Tentang Dia#2

#Seharisatutulisan4#30DWC#Squad3#Day26#30DWC16

Kuletakkan jari telunjuk di bawah hidungnya. Ia masih bernafas. Kalimat takbir tak henti-hentinya kulafalkan. Mataku mencari klinik terdekat di pinggir jalanan, tapi tak kutemukan. Sebuah rumah bertuliskan 'Bidan praktek' menjadi alternatif terakhir untuk memeriksakan bahwa kondisi gadis tersebut baik-baik saja tanpa luka parah di tubuhnya.

"Istrinya kenapa, Pak?" Salah satu asisten bidan bertanya kepadaku saat kuletakkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur.

"Dia bukan istri saya, Mbak."

"Oh, Maaf. Kalau begitu mas tunggu di luar, agar kami bisa memeriksa apakah ada yang terluka atau tidak."

Setengah menundukkan kepala, sambil kuucapkan terimakasih kepada bu Mia, sambil mataku melirik ke arah papan kecil yang tertera. Aku menunggunya yang masih tak sadarkan saat itu. Berharap saat dirinya pulih, aku akan meminta maaf dan memberinnya uang, kemudian akan langsung kuantarkan ia pulang.

Tapi perkiraanku salah. Jauh daripada apa yang aku bayangkan. Beberapa jeritan di tengah malam semakin membuatku penasaran dengan gadis yang bernama Tya. Bagaimanapun, Tya adalah tanggungjawabku sekarang, karena ini adalah kesalahan yang harus aku tanggung.

"Tya, bisa kita bicara?" Tanyaku memastikan ia memperbolehkanku masuk ke dalam ruangan pasien pasca melahirkan.

Tak ada jawaban dari bibir mungilnya. Hanya ada tatapan kosong memandangi luar jendela. Bu Mia mempersilahkanku masuk ke dalam ruangan. Mencoba mengajak Tya berbicara. Tapi se5adalah hal yang sia-sia. Aku seperti tak di anggap dihadapannya.

"Hai, Tya. Perkenalkan saya Gilang. Kejadian tadi benar-benar diluar dugaan. Tapi tenang, biaya perawatan disini biar aku yang menanggungnya." Kalimat perkenalan yang kaku. Dan Tya seperti orang ketakutan. Apa ia tidak pernah melihat laki-laki sepertiku? Wanita memang sulit sekali ditebak.

Entah bagaimana aku bisa menaklukan gadis ini untuk berbicara kepadaku. Menurut bu Mia, ada sesuatu yang terjadi pada Tya sebelum kecelakaan itu terjadi.

"Tapi bu, bukankah kita harus mengantarnya kepada orangtuanya saja?" Saranku kepada bu Mia.

"Sepertinya, yang membuat nak Tya frustasi adalah orangtuanya sendiri. Saya akan mencoba untuk merawatnya, semampu yang saya bisa." Kata bu Mia, bersemangat.

"Terima kasih ya, Bu. Maaf saya malah merepotkan. Insyaa allah, sepulang kerja saya akan sering-sering menjenguk Tya."

Sebelum berpamitan, ku mencoba mendekati Tya yang sendirian. Setengah berlutut, mengajaknya berbicara. Walaupun mungkin Tya tak akan pernah menjawab setiap kata yang kulontarkan kepadanya.

"Tya, aku pamit dulu ya. Ada beberapa pekerjaan di kantor,. Oiya, kamu suka Rollcake nggak? Aku bawakan ya sepulang kerja."

Tya tak menjawab, ia masih terpaku di atas kursi rodanya. Tatapannya masih kosong. Tapi ku yakin, Tya mendengarkanku berbicara. Kedipan mata seakan mengisyaratkan ia akan baik-baik saja.

*Bersambung*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....