Anakku Seperti Malaikat#part2
Pasca operasi, kekuatanku seakan berada di titik terendah. Bayangan pulang ke rumah diringi tawa suka cita atas kelahiran bayi kami yang hadir kini seperti jauh dari kenyataan yang kini kuhadapi sendirian. Jika kelahiran malaikat pertamaku tak bisa bertahan hingga hitungan hari, kini malaikat keduaku harus menanggung ujianNya.
" Insyaa allah bayimu sehat fir....lengkap tanpa kekurangan apapun", kak Dini mengambil nafas panjang, "hanya dibagian bibir saja ada celah sedikit", ditahannya tangis sebisa mungkin, hanya getaran suara yang keluar.
"Maksud kak Dini....bayiku sumbing??", airmata yang sedari tumpah tak berirama, semakin menjadi-jadi bercampur isakan yang tak bisa kutahan.
Kak Dini hanya mengangguk pelan. Wajahnya tertunduk lemas.
Tubuhku tiba-tiba terasa kaku, tak bisa bergerak. Padahal efek bius sudah hilang beberapa jam sebelumnya. Ujian apalagi ini ya Allaah??. Kupejamkan sejenak mata ini. Menghembuskan dalam-dalam bayangan bayiku yang entah bagaimana kelak dia menghadapi dirinya berbeda dengan teman lainnya. Bibir yang tak sempurna dan langit-langit dalam mulut pun tak ada.
"Fir....Fira....???", Kak Dini menggoyangkan tubuhku agak kencang. Mungkin kak Dini berfikir, aku pingsan dan hampir saja memanggil dokter jaga di sudut ruangan. Perlahan ku buka mataku.
Baiklah...mari kita hadapi semuanya, nak .... Ucap bathinku menyemangati.
Ku tatap mata kak Dini, seakan dirinya tahu ku membutuhkan mas Adit disampingku.
" Kakak sudah kabari Adit, kemungkinan pulang cepat sudah tidak bisa. Karena tiba-tiba pulang hari ini saat pelatihan pun sangat sulit. Besok diusahakan pulang secepatnya". Aku mengangguk pelan.
Selera makan tiba-tiba hilang. Rasa lapar seakan cepat berubah menyatakan perut sudah kenyang. Ingin ku gendong bayiku, dan ku ucap padanya, tenang nak...ada ibu disini yang akan menjagamu dan membantumu, percayalah...dunia akan kita lewati bersama. Airmatakupun lagi-lagi tumpah tak terasa.
****
Ruang Mawar nomor 16. Pukul 06.30.
Gema suara terdengar dari luar. Pelan. Sepertinya kak Dini sedang mengobrol dengan ayah dan ibuku.
" Semalaman Fira tidak bisa tidur mah...", kak Dini cemas
" Kamu temani saja adikmu ya, suruh mengaji dan beristighfar sebanyak-banyaknya, insyaa allah akan ada jalan keluar dai masalah yang kita hadapi", suara ayah terdengar menyemangati kak Dini.
Lantunan istighfar dan doa tak henti kupanjatkan pada-Nya. Semalaman ku pejamkan mata tapi gagal. Bayangan malaikat kecilku yang kehausan dalam box bayi seakan membuat diriku lemas tak berdaya. Jika para ibu yang di samping kiri dan kananku sudah bisa memeluk dan menggendong malaikat mereka, maka aku hanya bisa mendengar percakapan tulus mereka saat bercengkrama.
" Wuah....anak bunda ganteng sekali...", ucap ibu yang baru saja melahirkan dengan normal, mengajak bicara saat suster membawanya ke dalam ruang perawatan.
" Mulai malam ini, bayinya tidur dengan bundanya yah bu...", sambil menyerahkan si bayi disamping ibunya. " Nanti saya ambil lagi ya bu," timpalnya lagi.
Menjelang shubuh barulah ku tertidur. Ternyata rasa kantuk yang melanda semalaman membuat mataku tertutup juga. Mendengar tangisan bayi di balik tirai langsung membuatku terkejut.
" Sudah bangun Fir??", tanya ibu sambil mengelus kepala yang terbalut jilbab biru.
" Makan yuk, ibu suapin yah",
Aku menggeleng.
" Nanti saja bu,"
" Fira jangan sampai kesehatanmu menurun, makanlah sedikit demi sedikit. Dengar nak, Allah menciptakan makhlukNya dengan segala izinNya, apalagi Allah yang Maha Pengatur akan mengatur semua roda kehidupan kita. Semua pasti ada hikmahNya. Tergantung bagaimana kita menyikapi itu semua. Kalah atau berjuang sekuat tenaga." Sepertinya ayah tahu kalau kondisi bathinku begitu terpuruk.
" Tapi Fira ga tau lagi harus bagaimana. Apa Fira kuat atau tidak." Ucapku pelan.
"Allah tidak pernah menyia-nyiakan makhlukNya yang bersungguh-sungguh nak...", ahh....teduh sekali mendengar nasihat ayah. Membuat energi baru yang mengalir cepat di sisi keterpurukanku.
Kak Dini selesai mandi. Ayah dan ibu langsung pamit setelah mengantar makanan kesukaanku. Perkedel dan telor dadar. Tak lupa ikan gabung goreng, yang kata ibu akan mempercepat proses keringnya jahitan pasca operasi.
Makan sedikit langsung membuat perutku kenyang. Obat yang diberikan suster kuminum. Tak lupa nasihat ayah ku hayati dalam-dalam. Bukan karena ku akan menelan cibiran banyak orang. Justru bagaimana ku merawat malaikat kecilku menuntunnya untuk berjalan tegar, dengan beberapa kekurangan fisiknya.
Ketukan pintu tiba-tiba ku dengar. Seperti ada seseorang yang masuk seperti hendak bertamu. Mungkin tamu pasien sebelah, fikirku. Masih menatap langit kamar dengan bayangan malaikatku diiringi istighfar. Dan tirai perlahan terbuka. Sosok pria tiba-tiba muncul dari balik tirai itu. Mataku tertuju padanya, mas Adit. Airmataku langsung tumpah tak tertahankan.
****Bersambung*****

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini