Mau Tahu Bagaimana Cara Mendidik Anak Sesuai Fitrah
Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin....
Tepat di hari wisuda matrikulasi batch 5, diiringi dengan seminar ustadz Harry Santosa. Masyaa allaah....luarbiasa mendengarkan setiap penjelasan beliau. Ada decak kagum untuk sosok seorang bapak yang mampu mendidik anaknya sesuai dengan fitrah yang Allah anugerahkan ke setiap diri manusia. Merumuskan pendidikan berdasarkan fitrah dilandasi konsep Islam yang tak akan dipisahkan. Tetap kekaguman selalu tertuju kepadaNya, Dzat yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Karena Dialah, maka kami menjadi orangtua yang diamanahkan anak-anak yang memiliki fitrah luarbiasa.
Prolog ustadz Harry, agak membuat kami tercengang. Sistem pendidikan apakah yang kami pakai hingga akhirnya tak mampu menancapkan modal fitrah yang sudah ada, mampukah kami para orangtua yang masih belum faham akan pendidikan mampu mengembangkan fitrah anak-anak, atau justru merusak fitrah mereka. Pilihan cara mendidik yang salah, maka akan berdampak kepada masa depan anak-anak. Terutama kepada para orangtua, baik ayah dan ibunya yang sibuk di dunia publik ataupun domestik. Membiarkan fitrah sang anak, tak bisa tumbuh dengan maksimal, cenderung menjadi anak yang 'sekedar' melaksanakan ibadah kepada Rabbnya.
Ustadz Harry pun memberikan 2 sosok teladan. Pertama, Bapak Habibie yang mampu membuat pesawat terbang. Ahh ....mungkin terlihat biasa saja. Namun ada pendidikan sang ibu yang luarbiasa. Ibu Ainun adalah seorang dokter yang tidak bekerja di ranah publik. Beliau lebih memilih berdampingan dengan sang suami. Mendukung sepenuhnya misi suami dalam menjalani peran kehidupannya. Meninggalkan keglamoran duniawi, memilih membersamai sang anak mengarahkan fitrahnya. Sungguh menakjubkan, Ilham Habibie pun menjadi magister yang mampu membuat pesawat terbang seperti ayahanda. Apakah itu semua berkat pendidikan Bapak Habibie??, Bukan, ternyata Campur tangan yang mendominasi adalah dari diri yang ibunda, Ainun.
Sosok teladan kedua yaitu Ibunda Hajar. Di tangannya lah tercetak kesholihan Ismail. Tercetak kemuliaan dalam diri sang anak yang memiliki keimanan luarbiasa. Apakah ada campur tangan Ibrahim??. Ya, tentu saja ada. Tapi bukan langsung kepada Ismail kecil yang ditinggalkan bersama ibunya. Justru pendidikan itu tertanam dalam diri ibunda Hajar. Sedangkan ayahanda hanya empat kali mendatangi mereka di padang pasir. Masyaa Allah....begitu besarnya keagungan Allah yang telah menunjukkan sosok orangtua teladan, mungkin lebih banyak lagi orangtua super yang mampu mendidik anaknya sesuai dengan fitrah yang dimilikinya.
Tepat di hari wisuda matrikulasi batch 5, diiringi dengan seminar ustadz Harry Santosa. Masyaa allaah....luarbiasa mendengarkan setiap penjelasan beliau. Ada decak kagum untuk sosok seorang bapak yang mampu mendidik anaknya sesuai dengan fitrah yang Allah anugerahkan ke setiap diri manusia. Merumuskan pendidikan berdasarkan fitrah dilandasi konsep Islam yang tak akan dipisahkan. Tetap kekaguman selalu tertuju kepadaNya, Dzat yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Karena Dialah, maka kami menjadi orangtua yang diamanahkan anak-anak yang memiliki fitrah luarbiasa.
Prolog ustadz Harry, agak membuat kami tercengang. Sistem pendidikan apakah yang kami pakai hingga akhirnya tak mampu menancapkan modal fitrah yang sudah ada, mampukah kami para orangtua yang masih belum faham akan pendidikan mampu mengembangkan fitrah anak-anak, atau justru merusak fitrah mereka. Pilihan cara mendidik yang salah, maka akan berdampak kepada masa depan anak-anak. Terutama kepada para orangtua, baik ayah dan ibunya yang sibuk di dunia publik ataupun domestik. Membiarkan fitrah sang anak, tak bisa tumbuh dengan maksimal, cenderung menjadi anak yang 'sekedar' melaksanakan ibadah kepada Rabbnya.
Ustadz Harry pun memberikan 2 sosok teladan. Pertama, Bapak Habibie yang mampu membuat pesawat terbang. Ahh ....mungkin terlihat biasa saja. Namun ada pendidikan sang ibu yang luarbiasa. Ibu Ainun adalah seorang dokter yang tidak bekerja di ranah publik. Beliau lebih memilih berdampingan dengan sang suami. Mendukung sepenuhnya misi suami dalam menjalani peran kehidupannya. Meninggalkan keglamoran duniawi, memilih membersamai sang anak mengarahkan fitrahnya. Sungguh menakjubkan, Ilham Habibie pun menjadi magister yang mampu membuat pesawat terbang seperti ayahanda. Apakah itu semua berkat pendidikan Bapak Habibie??, Bukan, ternyata Campur tangan yang mendominasi adalah dari diri yang ibunda, Ainun.
Sosok teladan kedua yaitu Ibunda Hajar. Di tangannya lah tercetak kesholihan Ismail. Tercetak kemuliaan dalam diri sang anak yang memiliki keimanan luarbiasa. Apakah ada campur tangan Ibrahim??. Ya, tentu saja ada. Tapi bukan langsung kepada Ismail kecil yang ditinggalkan bersama ibunya. Justru pendidikan itu tertanam dalam diri ibunda Hajar. Sedangkan ayahanda hanya empat kali mendatangi mereka di padang pasir. Masyaa Allah....begitu besarnya keagungan Allah yang telah menunjukkan sosok orangtua teladan, mungkin lebih banyak lagi orangtua super yang mampu mendidik anaknya sesuai dengan fitrah yang dimilikinya.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini