Anakkku Seperti Malaikat#part3


Tak ku sangka mas Adit pulang lebih awal, punggung tangan lelaki itu langsung ku cium sambil kepalaku dibelainya tulus.
Matanya sayu. Badannya yang kekar tertunduk lalu digenggamnya kedua tanganku erat. Diciumnya dengan kumis tipis yang amat kurindukan. Tak terasa tetesan airmata pun mengalir di kedua tanganku.
"Maafkan mas yah....", suaranya lirih pelan menahan isakan. Mata kami bertemu dekat dan menatapku dalam-dalam. Ku hanya menggangguk. Diciumnya keningku dengan kasih sayang. Ahh... Mas Adit memang selalu membuat beban dipundakku terasa berkurang. Hanya dengan ciuman keningnya yang tulus seperti membuatku mendapatkan energi baru untuk menghadapi semua ini. Dari balik tirai kak Dini menutup tirai rapat. Tak ingin mengganggu kami, yang sedang menahan isak tangis. Mas Adit memelukku. Lama.
" Mas...anak kita...", ku mulai membuka pembicaraan hendak memberitahukan kepada mas Adit apa yang terjadi, walaupun ku tahu pasti kak Dini sudah menceritakannya.
" Sudah yah.... ", mas Adit langsung memotong ucapanku. " Mas sudah bertemu dengan si cantik (panggilan untuk bayi kami), nanti mas juga akan bertemu dengan dokter anak yang biasa menangani masalah ini. Insyaa allah sebisa mungkin mas akan cari cara agar anak kita bisa normal seperti anak lainnya", bisiknya ditelingaku.
Airmata yang semula kutahan, tumpah tak karuan. Buru-buru mas Adit menghapusnya dari wajahku.
" Sekarang mas suapin ya?", ku mengangguk pelan.

Ayah dan ibuku yang pamit sedari tadi didampingi kak Dini mengantarkan mereka pulang ke rumah. Beberapa pakaian mas Adit dibawa ibu.
" Dit, Fir....kakak pulang dulu ya, nanti sore insyaa allah kakak kesini lagi",
" Tidak usah kak, lebih baik istirahat saja dulu di rumah, biar adit yang menjaga Fira", aku mengiyakan tanda setuju. Memang dua hari belakangan ini, kak Dini menungguku di rumah sakit. Tidur hanya beralaskan karpet kecil dan tipis.

****
" Jadi hari ke 5, saya harus bawa ke Jakarta dok?, apa ada kelainan yang terjadi dengan bayi saya dok??", buru mas Adit saat mendengar penjelasan dokter. Bahwa beberapa kasus yang mirip seperti ini, biasanya akan berpengaruh terhadap perkembangan otak. Yang dengan kata lain, akan ada keterlambatan terhadap perkembangan bayi kami.
" Jadi pasti akan mengalami keterbekakangan mental ya mas??", tanyaku saat mas Adit menceritakan pertemuannya dengan dokter Cindy, salah satu dokter anak terbaik di rumah sakit ini. Sering membantu beberapa pasien yang mengalami kesulitan terutama membantu anak-anak yang memiliki perkembangan atau pertumbuhan tidak normal.
" Belum tentu juga dik, itu hanya prediksi dokter Cindy aja, maka untuk lebih jelasnya mas akan bawa Afra ke Jakarta hari Jumat", senyum mas Adit berusaha menenangkanku.
Kartu kontrol pun sudah disimpan, barang-barang sudah siap. Sebentar lagi kami pulang bersama Afra. Nama itu diberikan mas Adit saat menjelang kehamilan 9 bulan. Singkatan dari anak Adit dan Fira.
Senyum pun mengembang di wajahku, ingat saat kami berebut memilih nama perempuan hingga searching di mbah google.
" Perlengkapan susu bayi dan pipetnya sudah Fir?", kak Dini setengah berteriak sambil membereskan pakaian kotor di kamar mandi.
" Belum kak, tunggu suster dulu katanya. Setelah mas Adit membereskan administrasi".
Tak lama kemudian, salah seorang perawat masuk, membawa Afra dipangkuanku.
Sambil berucap Hamdallah kuiringi dengan istighfar, inilah pertemuanku dengan malaikat kecilku. Kutatapi Afra mungil yang tidur nyenyak dipangkuanku. Tak tega ku melihat celah dibibirnya, langsung kualihkan dengan doa dan takbir dalam hati. Tak boleh ku menangis di depan Afra malaikat kecilku. Batinku menguatkan.
" Mbak Fira, ada masalah sedikit dengan bayi mbak.", perawat yang tedi mengantar Afra seperti ragu memberikan penjelasan. Ada yang ditutupi olehnya. Kedua telingaku pun siap mendengarkan. Takbir makin kuperbanyak dalam hati. Dengan tangan bergetar. Jangan Kau bebankan kepadaku ya Allah....yang tidak sanggup ku memikulnya.

***Bersambung****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2