Aku Ingin Sepertimu, Bu!

*Aku Ingin Sepertimu, Bu*

Aku menatap ibu yang sedang mengaduk teh dalam cangkir putih, tatapannya fokus pada sendok yang yang bergerak berputar agar tidak menyentuh dinding cangkir.

"Bu, apa dulu ibu juga sering menangis saat aku lahir?" tanyaku tiba-tiba.

Gerakan tangan ibu berhenti sejenak, lalu tersenyum memandangi cangkir yang dipegangnya. Netranya seperti menatap sesuatu, kemudian menengadah ke atas sambil tersenyum. Masih kutunggu jawaban ibu, agak lama ia terdiam.

"Ibu dulunya juga seringkali menangis. Membesarkanmu seorang diri, tanpa bantuan siapapun rasanya menjadi beban terberat ibu. Rasanya ibu tidak ingin keluar rumah membawamu, Nak."

Sambil mencicipi teh di ujung sendok, ibu berbicara lagi, "Kamu tahu, Tya? Bagaimana jika teh dan gula tidak menggunakan air panas?"

Aku mengangguk, "Teh tidak akan langsung mengeluarkan aromanya, gula juga akan sulit larut dalam air yang tidak panas."

Ibu tersenyum lagi, menatapku dalam. Guratan wajahnya yang semakin banyak, membuatku tersadar. Ibu bukan hanya mendidik kami dengan cinta, tetapi juga menggadaikan usia demi kebahagiaan keluarga. Karir ditinggalkan hanya untuk mengurusku yang semata wayang. Bapak yang menghilang entah kemana, setelah mengetahui ibu melahirkan bayi cacat tanpa lengan.

"Dalam kehidupan pun begitu, Tya. Setiap dari kita akan ada ujian hidup. Sayangnya, manusia seringkali lupa. Bahwa setelah kesulitan hidup itu, ada manis yang nanti kita rasakan," seru ibu lagi.

"Sama seperti gula dan teh ini, air panas akan membuat manisnya terasa. Walaupun teh dan gula merasakan panas air yang menyentuhnya," kata ibu lagi sambil menyeruput teh dari ujung sendok. Kemudian meletakkannya di atas meja rias di samping ranjang.

Aliran bening dari ujung netra terasa hangat jatuh di pipi ini. _Pasca_ kepulangan kami dari rumah sakit, banyak sekali tetangga yang mencibir. Tak jarang yang mengaitkan ini dengan mitos zaman dahulu kala, yang katanya ketika memotong bagian lengan hewan yang hendak di masak, kami tidak mengucap _basmallah_. Mereka bilang, ini semua salah ibu. Harusnya dulu, ibu mengusap-usap perut sambil mengatakan 'ting bating' sebagai mantra jitu.

Tidak ada yang salah, tetapi hanya saja ... cara memahaminya menurutku keliru. Ketentuan Allah bukan ada pada mantra itu kan? tetapi ketetapanNya-lah yang lebih mutlak untuk kita yakini dalam hidup ini.

Apa kalian tahu, bagaimana rasanya memiliki anak yang memiliki cacat fisik tanpa tangan? Kalaupun bisa memilih, aku pun tidak ingin memiliki keturunan yang cacat sepertiku. Ibu pun pasti sama, jika mampu memilih pasti ia akan memilih anak yang sempurna.

"Allah tidak akan pernah salah memilih, dari rahim siapa kamu dilahirkan, Nak. Dia pun tidak akan salah menempatkan, siapa yang berada dalam rahim kita."

Kata-kata ibu membuat tangisanku semakin pecah. Kupandangi buah hatiku yang masih tertidur lelap, usianya baru menginjak satu minggu. Namun, aku seperti sudah menyerah begitu saja. _Apa aku bisa membesarkannya tanpa kedua tangan yang sempurna? Mengapa rasanya ini berat sekali, ya Allah?_ keluhku lagi.

Ibu memelukku. Matanya pun basah, tetapi isyarat tubuhnya seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ya, aku akan melewati ini semua seperti ibu dulu. Seorang diri, ibu  mampu mendidikku, hingga aku tak melulu direndahkan orang lain. Bukan semata menjadi bintang di mata ibu, tetapi juga menjadi bintang di setiap perlombaan menulis yang seringkali kuikuti.

Ibu tidak pernah lelah mendampingiku, walau dengan jari jemari kaki yang mampu menari di atas keyboard yang hanya bisa kulakukan. Ibu tak pernah menganggapku cacat. Ia selalu menganggapku sempurna.

"Jangan pernah menyalahi takdirmu sendiri ya, Tya." Kecupnya tepat dikeningku, bersyukur aku bisa memiliki ibu.

Kami pun sejenak diam, lalu tersenyum bersama. Aku pasti bisa seperti ibu juga. Apalagi ada Mas Angga yang menjadi lelaki pertama, yang selalu mendukungku.

#End#

Terinspirasi dari video seorang ibu dan anak yang sama-sama memiliki kesempurnaan dibalik kekurangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2