Aku Bisa



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Selepas bermain, Fakhri melihat tumpukan baju yang akan di setrika emaknya. Beberapa lembar, sudah rapih tapi emak milih istirahat karena badan mulai menunjukkan tingkat kelemahannya.

Padahal, gampang banget jaman sekarang ada loundry-an. Tetapi, emak kok nggak rela ya kalau dikirimkan ke rumah orang lain. 🙈 upz, emak malah curcol....

Tiba-tiba saja, Fakhri menawarkan diri.

Fakhri : Mi, dede bantu nyetrika ya?
Emak : Nggak usah, De. Nanti khawatir kena tangan.
Fakhri : Nggak kok, nggak. Dede bisa kok. (tetep keukeuh)
Emak : Nanti Umi aja yang nyetrika.
Fakhri : Nggak panas kok, Mi. (sambil pegang setrikaan, untung udah adem itu setrika)
Emak : (ngalah)

Mungkin memang betul, anak-anak hanya butuh kesempatan untuk mencoba hal yang membuatnya tertarik. Melihat Fakhri yang bersemangat dan menunjukkan ada binar ketika membantu uminya, maka emak patut memberikan Fakhri untuk mencoba keterampilan ini. Tidak sampai lima belas menit pastinya. Tapi, sudah cukup membuat emak bangga.

Bukan apa-apa, melihat serangkaian dialog, mulai dari meminta izin menyetrika sampai kepada mencoba menyetrika sendiri, sudah mencakup keempat ranah yang disebutkan dalam level 7 ini. Ranah intra personal, meyakinkan diri bisa melakukannya. Ranah inter personal, ketika sikap Fakhri terlebih dahulu meminta izin. Ranah melek perubahan, ingin membuat pakaian rapi. Terakhir ranah spiritual, kewajiban seorang anak membantin orang tuanya.

Menyetrika memang kegiatan sederhana. Bahkan sebagian orang kurang menyukai ini. Bagi mereka, mu gkin ini hanya sekedar permainan dengan tingkat keseriusan. Karena harus hati-hati dalam menggunakan alatnya. Wah, masyaa allah ada untungnya juga ya, nggak jadi angkut ke laundry-an.


#Day3
#tantangan10hari
#Level7
#KuliahBusnayIIP
#BintangKeluarga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2