Tentang Dia
🦀 04 Januari 2019 🦀
.
--Tentang Dia--
.
#Seharisatutulisan3#30DWC#Squad3#Day25#30DWC16
"Mas, kamu setuju kan?" Pertanyaan Tya seakan membuat dadaku sesak tak bisa bernafas.
.
Tangannya mencari jari jemariku yang gemetar menahan kesakitan yang sama sekali tak tahu bagaimana untuk diungkapkan. Kubalas belaiannya, menggenggam punggung tangannya yang kedinginan. Tak mampu ku tatap mata indahnya memohon persetujuan.
.
Apalagi yang harus ku katakan, jika cinta tak sanggup untuk berlabuh ke lain hati. Ku kecup sejenak, keningnya yang tertutup jilbab. Haruskah kukatakan kepada Tya, bahwa aku sangat menyayanginya? Bahwa raga tak bisa berpisah hanya karena orang ketiga?
.
"Sayang, aku ...," suaraku terbata tak mampu melanjutkan.
.
Tya menatap sejenak terheran, menungguku untuk bicara. Tya, jangan kau menatapku seperti itu, ku mohon. Tatapanmu akan membuatku sulit untuk mengeluarkan kata.
.
"Mas Gilang, mau kan menikah dengan Amira?" Tya tersenyum, seakan tak ada lagi beban ketika ia menanyakannya untuk kesekian kali, hanya untuk memastikan aku akan menjawabnya dengan satu kata, Ya.
.
Tya, setahun yang lalu aku bertemu dengannya. Tak bisa kukendalikan mobil yang melaju menyentuh tubuhnya yang ketakutan berlari di tengah jalan.
Brruukk !!!
Lampu mobil tepat menabrak kaki perempuan yang kebingungan mencari arah. Rem mendadak ku injak dengan denyut jantung yang berdetak dua kali lebih cepat. Merasakan bahwa oksigen di bumi, sudah tak lagi bisa kurasakan. Aku menghela nafas panjang, berdoa sebanyak-banyaknya agar perempuan tersebut tidak terluka atau jangan sampai ia mati akibat ulahku yang tidak sengaja.
.
Dengan ragu ku pegang pergelangan tangannya. Memastikan bahwa denyut nadi masih terasa layaknya manusia biasa.
.
*Bersambung*
.
--Tentang Dia--
.
#Seharisatutulisan3#30DWC#Squad3#Day25#30DWC16
"Mas, kamu setuju kan?" Pertanyaan Tya seakan membuat dadaku sesak tak bisa bernafas.
.
Tangannya mencari jari jemariku yang gemetar menahan kesakitan yang sama sekali tak tahu bagaimana untuk diungkapkan. Kubalas belaiannya, menggenggam punggung tangannya yang kedinginan. Tak mampu ku tatap mata indahnya memohon persetujuan.
.
Apalagi yang harus ku katakan, jika cinta tak sanggup untuk berlabuh ke lain hati. Ku kecup sejenak, keningnya yang tertutup jilbab. Haruskah kukatakan kepada Tya, bahwa aku sangat menyayanginya? Bahwa raga tak bisa berpisah hanya karena orang ketiga?
.
"Sayang, aku ...," suaraku terbata tak mampu melanjutkan.
.
Tya menatap sejenak terheran, menungguku untuk bicara. Tya, jangan kau menatapku seperti itu, ku mohon. Tatapanmu akan membuatku sulit untuk mengeluarkan kata.
.
"Mas Gilang, mau kan menikah dengan Amira?" Tya tersenyum, seakan tak ada lagi beban ketika ia menanyakannya untuk kesekian kali, hanya untuk memastikan aku akan menjawabnya dengan satu kata, Ya.
.
Tya, setahun yang lalu aku bertemu dengannya. Tak bisa kukendalikan mobil yang melaju menyentuh tubuhnya yang ketakutan berlari di tengah jalan.
Brruukk !!!
Lampu mobil tepat menabrak kaki perempuan yang kebingungan mencari arah. Rem mendadak ku injak dengan denyut jantung yang berdetak dua kali lebih cepat. Merasakan bahwa oksigen di bumi, sudah tak lagi bisa kurasakan. Aku menghela nafas panjang, berdoa sebanyak-banyaknya agar perempuan tersebut tidak terluka atau jangan sampai ia mati akibat ulahku yang tidak sengaja.
.
Dengan ragu ku pegang pergelangan tangannya. Memastikan bahwa denyut nadi masih terasa layaknya manusia biasa.
.
*Bersambung*
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini