Nasi Goreng Safannah
#NasiGorengSafannah#Day26#ODOPNovemberChallenge.
.
"Fan, apa ini benar-benar keinginanmu?" Tanyaku menyelidik, mencari kepastian. Pertanyaan sama yang berulang, entah mengapa selalu ingin kuucapkan.
.
"Iya." Dengan cepat Safannah menjawabku, walau terasa ada getar dari bibir mungilnya saat ia berucap.
.
Seseorang yang sungguh ku sangat menyayanginya. Namun tak bisa lagi ku miliki jiwa dan raganya.
.
Safannahku.
.
Hawa dingin tiba-tiba merasuk, menjelajar hingga pori-pori terkecil kulitku. Memaksa untuk menembus tulang yang membuatku tak sanggup untuk berdiri. Lemas.
.
Apakah ini yang disebut patah hati?
.
Rasanya begitu sakit dan perih. Ku lihat Safannahku terisak menahan tangisannya. Tolong, jangan menangis dihadapanku, Safannah. Ku mohon.
.
Bukankah ini yang kau inginkan?
.
Ku ambil secarik kertas dalam map itu. Mencari letak nama yang tertera yang harus segera kutandatangani.
.
Sejenak kupandangi huruf besar diatasnya yang bertuliskan PENGADILAN NEGERI BANDUNG. Tak pernah kubayangkan, kau meminta dengan memohon sambil memegang lututku untuk lepas dari ikatan suci ini, Safannah.
.
Aku tak kan pernah bisa membayangkan hari-hariku tanpamu.
.
Tapi aku tak bisa memaksamu, mencintaiku. Aku lelah mengejarmu, Safannah.
.
Dengan cepat ku menyeka air yang hendak turun dari pelupuk mata. Tak ingin Safannah melihatnya.
.
Kulepaskan Safannahku, dengan seluruh kekuatan yang ku punya. Walau rasanya sakit. Walau ku mencoba tegar. Walau sekuat tenaga ku memohon untuk tetap bersamaku selamanya. Tapi, percuma.
.
"Fan, sepertinya nanti aku sangat merindukan nasi gorengmu." Kataku memecahkan keheningan ruang pengadilan itu. Simpul senyum ku ukir. Berusaha mengajaknya bercanda. Hanya ingin mengalihkan sesak nafas dalam rongga dada.
.
Safannah pun sedikit tersenyum dan membalas, "Ya, tentu saja. kau biasa menghabiskan nasi gorengku sampai tiga piring. Semoga nanti kau akan mendapatkan wanita yang mampu membuatkannya lagi untukmu, Tra."
.
Tidak!
Tidak akan ada wanita yang menggantikan posisimu, Safannah. Lagi-lagi dadaku sesak, mendengar ia selalu mengatakannya.
.
"Jaga dirimu baik-baik ya. Aku harap kalian bahagia." Kata-kata terakhirku untuknya, sambil berjalan ku membelakangi Safannah.
.
Ia tak boleh tahu, aliran deras yang tumpah terasa hangat di kedua pipiku yang diam-diam menyerbu memasuki ruang kehampaan.
.
**The End**
.
"Fan, apa ini benar-benar keinginanmu?" Tanyaku menyelidik, mencari kepastian. Pertanyaan sama yang berulang, entah mengapa selalu ingin kuucapkan.
.
"Iya." Dengan cepat Safannah menjawabku, walau terasa ada getar dari bibir mungilnya saat ia berucap.
.
Seseorang yang sungguh ku sangat menyayanginya. Namun tak bisa lagi ku miliki jiwa dan raganya.
.
Safannahku.
.
Hawa dingin tiba-tiba merasuk, menjelajar hingga pori-pori terkecil kulitku. Memaksa untuk menembus tulang yang membuatku tak sanggup untuk berdiri. Lemas.
.
Apakah ini yang disebut patah hati?
.
Rasanya begitu sakit dan perih. Ku lihat Safannahku terisak menahan tangisannya. Tolong, jangan menangis dihadapanku, Safannah. Ku mohon.
.
Bukankah ini yang kau inginkan?
.
Ku ambil secarik kertas dalam map itu. Mencari letak nama yang tertera yang harus segera kutandatangani.
.
Sejenak kupandangi huruf besar diatasnya yang bertuliskan PENGADILAN NEGERI BANDUNG. Tak pernah kubayangkan, kau meminta dengan memohon sambil memegang lututku untuk lepas dari ikatan suci ini, Safannah.
.
Aku tak kan pernah bisa membayangkan hari-hariku tanpamu.
.
Tapi aku tak bisa memaksamu, mencintaiku. Aku lelah mengejarmu, Safannah.
.
Dengan cepat ku menyeka air yang hendak turun dari pelupuk mata. Tak ingin Safannah melihatnya.
.
Kulepaskan Safannahku, dengan seluruh kekuatan yang ku punya. Walau rasanya sakit. Walau ku mencoba tegar. Walau sekuat tenaga ku memohon untuk tetap bersamaku selamanya. Tapi, percuma.
.
"Fan, sepertinya nanti aku sangat merindukan nasi gorengmu." Kataku memecahkan keheningan ruang pengadilan itu. Simpul senyum ku ukir. Berusaha mengajaknya bercanda. Hanya ingin mengalihkan sesak nafas dalam rongga dada.
.
Safannah pun sedikit tersenyum dan membalas, "Ya, tentu saja. kau biasa menghabiskan nasi gorengku sampai tiga piring. Semoga nanti kau akan mendapatkan wanita yang mampu membuatkannya lagi untukmu, Tra."
.
Tidak!
Tidak akan ada wanita yang menggantikan posisimu, Safannah. Lagi-lagi dadaku sesak, mendengar ia selalu mengatakannya.
.
"Jaga dirimu baik-baik ya. Aku harap kalian bahagia." Kata-kata terakhirku untuknya, sambil berjalan ku membelakangi Safannah.
.
Ia tak boleh tahu, aliran deras yang tumpah terasa hangat di kedua pipiku yang diam-diam menyerbu memasuki ruang kehampaan.
.
**The End**
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini