Jodoh Akan Kembali

Aku tertunduk. Mataku tak sanggup lagi menatap Akbar yang berada di seberang meja makan. Suara seperti tertahan tak bisa diucapkan. Hati pun bagai teriris pelan.
.
"Ukh ... Maafkan atas keputusan saya ini." Suara Akbar seperti petir yang menghampiri.
.
Apa yang harus aku katakan?
.
Nama yang ku ukir di sebuah surat undangan dengan inisial A&I, kini tinggal mimpi yang tidak akan sampai. Beruntungnya, undangan ini belum sampai ku ajak ke percetakan dan belum sampai kepada sederet nama tamu undangan yang sudah kutulis dengan hati berbunga.
.
Aku membayangkan hubungan kami akan berjalan lancar hingga waktunya tiba. Ternyata ku salah, Akbar lebih memilih untuk tidak melanjutkan semua.
.
Sejenak terlintas ingatanku pada sebuah video yang dikirimnya seminggu yang lalu. Akbar berharap, kami akan menjadi pasangan yang serasi, suka duka akan terlewati.
Ingin rasanya ku berteriak, menagih janji yang telah tertata untuk masa depan.
.
Tapi kuurungkan. Apalah gunanya jika ku berkata. Pernikahan bukan dilandasi atas dasar paksaan kan?.
.
"Ir, yang sabar ya!". Rista memelukku kuat, setelah Akbar pergi meninggalkanku yang sedang menata hati.
.
"Aku yakin, suatu saat nanti kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Akbar."
.
Aku mengangguk pelan, sambil meng-aminkan.

****
Sebuah chat wa masuk,
Bisa ketemu hari ini?
Pesan dari mbak Meila. Ah, apa aku akan dikenalkan lagi dengan temannya. Rasanya aku tak mau lagi menjalin hubungan ini.
.
Aku gak siap, Mbak.
Balasku.
.
Di coba saja, barang kali jodoh.
.
Kuabaikan chat itu, tanpa menjawab apa-apa.
.
Ku tatap awan yang menari di langit, berjalan seakan memamerkan diri untuk menghibur. Aku tersenyum kepada awan dan berkata kepadanya.
"Aawaann ... Maukah kau mengenalkanku kepada lelaki baik yang setia?", Aku berteriak kencang dari jendela kamar kos yang terletak di lantai 2. Tapi sayangnya awan tak menjawab, mereka sibuk menari-nari di atas sana.
.
Pesan masuk lagi.
Ir, pliiss ... Ijinin dia untuk berkenalan denganmu, ya? Selanjutnya, kalau kamu tolak juga gak apa-apa.
.
Aku mengernyitkan dahi. Dia? Siapa yang di maksud mbak Meila?
.
Langsung ku balas chat dengan satu kata.
OK.

*****
Sebenarnya aku sudah tak berniat membuat rencana lagi dalam waktu dekat, tapi tidak ada salahnya juga jika ku bertemu dengan mbak Meila dan ... Siapa namanya aku tak tahu. Setidaknya, kali ini aku yang akan menolaknya. Aku tersenyum licik.
.
Mbak Meila menghampiriku. Tapi ... Kenapa sendirian? Apa dia sudah kalah sebelum berperang ?
.
"Ir, bagaimana kabarnya? Sehat?"
.
"Alhamdulillah, Mbak."
.
Mataku mulai mencari ke sekeliling Cafe. Lelaki yang katanya akan mengenalkan diri.
.
"Sudah, gak usah dicari. Dia udah pergi barusan."
.
Uhuk uhuk.
Air jus keluar dari lubang hidungku. Perih. Duh, kenapa jadi aku yang kaku begini sih. Mbak Meila selalu bisa membaca gerakanku.
.
Lelaki ini memang gak berniat kali ya. Ketemu saja tidak, ya sudah lupakan saja. Di tengah percakapan, mbak Meila menyodorkan sebuah amplop berukuran besar berwarna coklat. Kulihat kata BIODATA bertuliskan di depan map.
.
"Apa ini, Mbak?" Tanyaku.
"Biodata Angga ... Kalau kamu gak berniat mencoba lagi, ya ga papa kok. Tapi sepertinya dia sudah mantap." Mbak Meila mengeluarkan isi beserta foto lelaki itu.
.
Tanpa fotonya pun, aku sudah bisa mengetahui bagaimana rupa dan sifatnya. Angga termasuk idola para mahasiswi kampus, jabatannya sebagai wakil ketua BEM di kampus membuatnya semakin familiar. Fiuh, apa dia gak malu ya? Jalan sama perempuan biasa kayak aku. Apalagi istri, Jauh banget kayak langit dan bumi. Eh, tunggu dulu, langit dan bumi kan memang bersatu? Sebelah hatiku berusaha mengingkari.
.
Aku menggeleng.
"Gak mau dicoba?" Bujuk mbak Meila.
Aku tetap menggeleng.
"Aku takut mbak, bagaimana kalau dia sama seperti Akbar."

****
Di seberang sana, ibu menghubungiku untuk segera pulang. Kata ibu, aku sudah dijodohkan. Wuow, Akbar berlalu, kemudian Anhga yang kemarin ku tolak mentah-menta. Dan kini ... Tak tahu lagi siapa.
.
"Nduk, pulang ya?" Nada ibu manja.
.
"Tapi kalau aku gak suka, jangan dipaksa ya, Bu?"
.
"Yang penting kamu pulang dulu, Nduk. Ibu yakin sekali kamu pasti suka sama dia. Orangnya baik. Sopan lagi. Kelihatannya juga agamis, Nduk."
.
Aku bergeming. Tak berkata apa-apa. Ibu pun tak menunggu jawaban. Selesai berbicara, ibu langsung memutuskan teleponnya.
.
Kenapa kemarin aku gak terima Angga ya? Ada rasa hati yang hampa.
.
Aduuhh... Kenapa jadi begini sih?

*****
Semua keluarga sudah berkumpul dengan suka cita menyambut acara lamaran itu. Jamuan makanan dudah disiapkan rapi oleh ibu. Keceriaan menghias wajah orangtuaku.
.
Lamaran?
Itu lelaki gak waras apa ya?
Belum juga ketemu, udah asal lamar aja?
.
Kekesalanku bertambah saat mbak Meila mengirimkan pesan via WA.
Waduh Ir, Angga sudah pindah ke lain hati. Saya dengar, sudah melamar perempuan lain. Hatiku panas. Ya Allah....
.
Tenang... Irma... Santai... Toh, ini bukan yang pertama kan? Kucoba menenangkan diri.
.
Satu per satu dari mereka memasuki rumah mungilku. Canda tawa campur menjadi satu. Mungkin hanya akulah disini yang terpaku lemas di atas tikar berbulu. Jantung berdetak tak beraturan merangkai kata penolakan saat lamaran.
.
Ku tatap wajah mereka lagi, tak tega. Bagaimana ku memulainya? Aku benar-benar tak ingin dijodohkan.
.
Lelaki itu asyik berbincang bersama ibu. Dari suaranya ku kenal dia? Tak asing di telinga. Siapa dia? Ku coba menggeser tempat dudukku yang sedikit ke arah berlawanan.
.
Pandangan kami bertemu tak sengaja. Mataku menatap matanya. Matanya pun dengan cepat mengalihkan pandangan.
.
Angga?
.
Detak jantung yang tak ingin diatur, melaju kencang sesuka hati. Keringat dingin dan bibir terasa sulit untuk digerakkan. Namun hati tak kuasa membohongi diri. Ada rasa yang nyaris tak bisa kuungkapkan. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, eh bukan, maksudku pandangan kedua? Rencana untuk menolaknya pun tak ingin terjadi kedua kalinya.
.
Dengan mantap Angga melamarku. Bukan janji manis yang hanya terucap, Angga membuktikannya dengan kesungguhan. Aku yang tersipu malu hanya menjawab dengan satu kata.

#end#

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2