Aliran Rasaku
19 Desember 2018
#AliranRasaku#GameLevel4#BundaSayang#GayaBelajar#KuliahBunSayIIP#IPBanten#Seharisatutulisan#30DWC#30DWCjilid16#Squad3#Day10
.
Ketika seorang ibu memutuskan untuk memilih bekerja di ranah publik ataupun ranah domestik, bahkan menghandle aktifitas di kedua ranah tersebut, sudah pasti masing-masing memiliki alasan yang tidak bisa disamakan antara ibu yang satu dengan ibu lainnya. Karena setiap ibu, berhak memilih keputusan, tapi tetap tidak bisa melepaskan kewajiban.
.
Sejatinya, setiap ibu menginginkan yang terbaik untuk buah hati tercinta. Walau terkadang masing-masing ibu, memiliki kacamata tersendiri memahami makna 'terbaik' untuk buah hati. Memiliki cara yang berbeda dalam mencapai 'terbaik' untuk keluarganya.
.
Tidak ada yang salah ataupun benar. Yang membedakan hanyalah kesungguhan. Ya, sebuah proses yang begitu panjang bahkan sebagian merasakan kelelahan. Proses yang harus dinikmati, dengan rasa syukur melalui perjuangan.
.
Seperti halnya kini, berlipat kesyukuran yang saya bisa ungkapkan. Bersama teman seperjuangan Bunda Sayang Batch 4 khusus wilayah Banten, bahkan se-Indonesia. Menjadi sebuah momentum tersendiri untuk membersamai buah hati melalui tantangan 10 hari. Dan saling mengingatkan di kala kehilangan kendali.
.
Tepat di Games level 4 ini, seakan menjadi cambuk diri. Kelalaian saat saya menyamaratakan setiap pembelajaran hanya dengan satu gaya belajar. Memperluas
pandangan tentang makna 'Belajar'. Yang pada dasarnya, salah satu kesuksesan belajar mereka, dipengaruhi dukungan gaya belajar yang diberikan para orangtua.
Padahal, anak-anak memiliki keunikan yang tidak bisa disamaratakan. Disinilah kami berusaha untuk memahaminya, melalui gaya belajar yang dimiliki buah hati.
.
Mengapa harus memahami gaya belajar mereka?
.
Dilatarbelakangi keunikan setiap anak yang berbeda. Juga fitrah semangat belajar, yang senantiasa dipupuki hingga ia tumbuh subur menjulang tinggi. Dilandasi rasa 'cinta' bukan paksaan untuk belajar memahami apapun yang diawali keingintahuan.
.
Gaya belajar hanya sebagai perantara agar anak-anak dengan mudah mempelajari sesuatu hal. Menjadikan belajar semakin bermakna. Tak hanya tertuju pada hasil belajar yang dicapai, namun bagaimana proses belajar yang dilewatinya menjadi bagian makna kehidupan.
Seperti yang dikutip dari review Institut Ibu Profesional games level 4 tentang gaya belajar, 'Sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki potensi fitrah belajar. Para orangtua tidak eprlu panik menggegas kemampuan belajar anak-anaknya. Mereka memerlukan sebuah ruang terbuka bagi rasa ingin tahunya, imajinasi kreatifnya, ketuntasan eksplorasi belajarnya, penjelajahan & petualangan belajarnya, dan kesempatan untuk semakin menjadk dirinya' (Review Level 4, IIP).



Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini