Aku Menunggu (Part 3)
#Day3
#Seharisatutulisan
Ku melangkah lurus melewati lorong rumah sakit yang terasa hening. Menuju ke arah pintu keluar bersama kedua lelaki yang kini berdiri tegak mengiringi langkah. Kak Dimas dan kak Arga, seakan siap untuk menggotong jika ku pingsan sewaktu-waktu.
Tak boleh lagi ada tangisan duka. Hatiku berbisik. Cukup sudah. Jika kutampakkan wajah dengan tak berdaya
, maka aku tak mungkin bisa menguatkan mereka. Dua buah hati yang sedang menunggu kepulanganku dan mas Anggara. Angga dan Anggita. Mereka seperti berlian yang harus terjaga, karena aku tak tahu lagi kapan maut akan datang memisahkan kami bertiga.
Jika kini mereka memiliki satu orangtua, maka kupastikan, mereka tak akan kekurangan kasing sayang dari mas Anggara. Karena akulah yang akan menggantikannya. Ibu sekaligus ayah bagi mereka, anak-anakku.
Mataku terasa perih, bengkak dan juga kering. Inginku tetap menangis. Tapi tak bisa kulakukan.
Apakah airmata ini sudah tak lagi ingin keluar?
Atau ....
Apa aku sudah kelelahan menangis hingga fajar menyambut dengan kegelisahan bersama awan hitam?
Satu per satu mobil merapat di bahu jalan, membuat kami melaju tanpa hambatan. Suara sirine ambulance ini memang sangat ampuh sekali. Membuat jalanan seketika lenggang bak menyambut raja yang tak sabar ingin pulang.
Mas Anggaraku sudah berbalut kain putih. Tepat berada di belakangku ditemani kak Dimas. Sedangkan kak Arga duduk di samping kiri. Matanya kadang menyapa, memastikan bahwa aku baik-baik saja. Ya, kami semua hanya duduk dalam diam. Tak ada kata yang bisa kuucapkan sekarang. Yang ingin kulakukan hanyalah memeluk buah hatiku yang menunggu.
"Ta ..., " panggil kak Arga ragu.
Mataku memandang sejenak wajahnya, mengisyaratkan aku sangat baik. Bahkan jauh lebih baik dari semalam.
"Tahan tangisan lo di depan anak-anak, ya." Sambungnya lagi, dengan nada penuh harap. Biasanya jika kak Arga memanggil dengan sebutan lo, maka aku dengan cepat meledek dan membalasnya. Tapi tidak hari ini.
Masih ku mencerna kalimat kak Dimas yang entah apa aku bisa melakukannya atau tidak. Berharap airmata ini benar-benar kering di hadapan Angga dan Anggita.
Ku lihat dari kejauhan, banyak sekali orang yang berkumpul di depan rumah ibu. Tenda yang diikat kuat serta bendera kuning sudah berdiri tegak seakan ikut menyambut kepulangan.
Kak Dimas membantuku turun dari mobil. Entahlah, lagi-lagi kekuatan itu selalu muncul. Membisikkan kata bahwa ku harus kuat.
Satu per satu pelukan bergantian berdatangan dari pihak keluarga dan tetangga.
"Giitaa ... Yang sabar, ya. Ini ujian Allah. Gita pasti bisa melewati ini." Bisik kak Fenti, istri dari kak Dimas. Tangisannya tak kalah kencang dengan tangisanku semalam.
Aku hanya mengangguk pelan. Merasakan gejolak jiwa yang hilang. Ini seperti tidak nyata.
Para tetangga pun mengucapkan hal sama. Mereka menatapku penuh iba.
Kurasakan keanehan.
Mengapa aku tak menyukai tatapan itu?
Tolong ....
Jangan kalian menatapku seperti itu. Bukan aku tak mau dikasihani. Tapi percayalah, aku kuat untuk menghadapi ini. Tatapan kalian hanya akan membuat dadaku semakin sesak. Menarik pelan kekuatan yang sudah kukumpulkan.
Angga?
Anggita?
Dimana kalian, Nak?
Mataku mencari di antara kerumunan keluarga. Tak kutemukan juga. Tubuh mungil itu bersembunyi di balik balutan gamis ibu. Wajahnya seperti ketakutan melihatku. Sesekali mengintip memandangi tubuh mas Anggara yang terbujur kaku di atas amben yang terbuat dari bambu.
***Bersambung***

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini