Sebuah Renungan



Praaang !!!

Salah satu piring dibanting olehnya. seorang ibu muda dengan tangan yang begitu kasar melempar piring satu lagi, hingga pecah berantakan. Menambahkan puing pecahan di lantai. Seakan mengatakan kesalahan tak termaafkan.

Anak itu, ketakutan!

Dirinya hanya diam membisu. Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir mungilnya. Anak itu, terlihat gemetar, menarik diri dari mata sang ibu yang melotot di hadapannya.

Ku lihat matanya berkaca, walau sempat ditahan. Lalu menunduk mengambil pecahan piring yang berhamburan di lantai. Memasukkan satu per satu ke dalam kantong plastik hitam berukuran lebar. Tak memedulikan jarinya yang merah terkena goresan.

Aku melihatnya, dengan mata kepalaku. Ujung jari telunjuk sang ibu beberapa kali mendorong keningnya dengan makian panjang. Mataku ikut berkaca. Walau kucoba mengalihkan pandanganku, tak mampu menonton drama ibu anak yang menurutku di luar batas kewajaran.

Apakah salah jika ia melakukan kesalahan, Bu?
Inginku bertanya. Tapi tak mampu kutanyakan padanya yang masih kesal menumpahkan kemarahan. Kesalahan kecil yang kadang orang dewasa membesar-besarkan. Kesalahan yang ia pun tak tahu apa bedanya dengan ketidaksengajaan.

Berapa harga satu piring itu, Bu?
Bila kau bandingkan dengan hatinya yang tersayat-sayat dengan makianmu, seakan kitalah orang dewasa yang 'Menang'.

Suatu waktu kulihat lagi, seorang ibu yang menarik baju anaknya. Hingga kerah leher berbekas di bagian Tengkuknya. Menarik tanpa ampun. Menarik paksa tanpa peduli apa yang dirasakannya. Hanya karena ia ambil uang untuk jajan tanpa mengatakan kepada sang ibunda.

Kata 'ampun' yang tak mungkin keluar dari bibir mungilnya, namun terdengar dari jeritan tangis kesakitan. Kau tarik hingga ke dalam rumah, ia hanya bisa menangis sesenggukan mendengar omelanmu yang berkepanjangan.

Apakah ia salah, Bu?
Jika ia hanya mengambil uang seribu, hanya ingin merasakan bagaimana rasanya es di warung pinggir jalan.

Apakah ia salah, Bu?
Jika ia mencari kesenangan lain di luar, yang tidak ia dapatkan saat bersamamu di rumah, yang seharusnya kitalah yang memberikan kenyamanan.

Siapa yang akan menutupi luka hati itu, Bu?
Jika bukan kita, yang menjadi pelindungnya. Tangan yang siap membelai rambutnya. Tangan yang siap menghapus airmatanya. Tangan yang siap hadir memeluk tubuhnya. Tanpa kita, kemana mereka mencari malaikat dunia.

Seberapa besar marahmu, Bu?
Dengan melampiaskan rasa menggebu mengikuti nafsu bisikan yang hanya sekejap teralihkan, namun akan menjadi penyesalan.

Tidakkah kau ingat, Bu?
Saat kau melahirkannya dengan perjuangan yang bertaruh dengan nyawa, menimang dalam pangkuan saat ia menangis tak mampu bicara.

Tubuh kecil itu kini semakin tumbuh besar, yang mungkin membuatmu semakin kesal. Terigu yang berhambur memenuhi ruang tamu. Piring pecah yang tak sengaja lepas dari tangannya.  Uang tak seberapa yang dipakainya hanya sekedar ingin mencicipi jajanan di jalanan. Makanan tumpah menjadi satu dengan debu dan tanah.

Namun justru semua itu, kau anggap sebagai kesalahan tak termaafkan?

Apakah ia pantas mendapat kemarahanmu dengan melukai hatinya walau tak berdarah ?

Jangan kau sakiti lagi anakmu, Bu. Sebelum kau menyesal, kelak Dia yang menciptakan akan mengambil kembali amanah yang dititipkan dan kelak kau akan diminta pertanggungjawaban.

#SebuahRenungan
#Mudhowamah18112018
#Day18
#ODOPNovemberChallenge

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2