Project : Satu untuk semua. Semua untuk satu
Day 5.
Proyek kali ini, masih menyentuh kecerdasan emosional anak. Awalnya saya berfikir bahwa tantangan tidak bisa kita ciptakan untuk menguji tingkat emosional anak. Saya berfikir, mungkin kecerdasan dalam menghadapi tantangan akan terbentuk dengan sendirinya. Padahal dalam berbagai kegiatan pun kita bisa meningkatkan kecerdasan tersebut.
.
Jadi, project kali ini bisa berkaitan dengan kecerdasan Intelektual, kecerdasan Emosional, kecerdasan Spiritual, dan kecerdasan Emosional.
.
Apa sih project yang dilakukan?
Nah, media yang emak gunakan adalah Puzzle. Emak coba membuat sendiri dengan mencetak melalui printer dan menggunting sedemikian rupa. Kali ini emak membuat tema : Satu untuk semua, semua untuk satu. Hehe... Tapi bukan motto salah satu channel televisi ya, Mak ! 😂😂
.
Kenapa bisa kepikiran membuat tema seperti itu?
Karena emak membiarkan anak-anak agar menggunakan hanya 1 lem stik untuk bertiga. Masing-masing anggota tim terdiri dari Teteh Alya, Fahmi dan Fakhri.
.
Jika kemarin anak-anak menggunakan lem fox yang bisa digunakan secara bersama dengan colek-colekkan. Nah, berikut hasil pengamatan emak selama melaksanakan project.
1. Meningkatkan kecerdasan Intelektual anak. Anak harus menemukan setiap potongan puzzle tang saling berhubungan.
2. Meningkatkan emosional anak. Melalui cara untuk menempelkan potongan Puzzle harus menggunakan lem stik secara bergantian. Awalnya memang saling rebutan. Dan ingat, emak harus bisa mengarahkan anak-anak untuk memakai secara bergantian. Masing-masing anak memiliki tingkat emosional yang berbeda-beda. Disini saya temukan ternyata Fahmi harus lebih banyak diarahkan untuk tetap bergantian lem stik, terkadang Fahmi terburu-buru ingin cepat selesai.
3. Meningkatkan kecerdasan spiritual. Potongan puzzle yang disusun tersebut berhubungan dengan huruf hijaiyah. Dengan begitu, secara berulang anak-anak menyusunnya sambil menyebutkan huruf-huruf hijaiyah yang kelak mengantarkan mereka mampu membaca ayat Al-Qur'an.
4. Meningkatkan kecerdasan dalam menghadapi tantangan. Melalui bentuk puzzle yang beranekaragam, menjadi tantangan sendiri yang harus dilewati oleh anak-anak. Disini yang mudah sekali menyerah adalah teteh Alya. Jika dikategorikan, teteh masih dalam tahap Champers.
Hihi, selesai menempelkan potongan puzzle. Ada drama yang gak bisa emak hindari. Fahmi yang menangis kencang karena berada di posisi paling akhir finishing. Fahmi belum menerima si teteh yang selesai terlebih dahulu. Padahal sama sekali emak ga ada maksud untuk membuat kompetisi. Tapi entah mengapa hal tersebut menjadi sangat melekat dalam diri anak-anak. Sehingga bisa berdampak negatif, apabila anak-anak membabi buta menginginkan melulu menjadi juara pertama. Bisa juga berdampak positif, jika anak-anak mampu berkompetisi sehat menjadi juara.
.
Nah, ini menjadi tugas baru emak. Menjadi evaluasi diri, agar anak-anak mampu beekompetisi di dunia luar namun masih mengutamakan kecerdasan emosional dan spiritual secara bersamaan.
.
Next
.
Project selanjutnya masih seputar Kecerdasan Spiritual. Insyaa Allah.
.
#Day5
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamiliMyTeam

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini