Hamil Kedua
#HamilKedua
#ODOPChallengeNovember
#Day2
#FiksihanyaFiksi
Saat aku memutuskan resign, rasanya memang sangat berat sekali. Kala itu semangat menggebu ingin mengajar di salah satu sekolah di kota tetangga memang menjadi impianku sejak dulu. Namun, makna 'ikhlas' pun lagi-lagi harus kupraktekkan agar mampu menyingkirkan sedikit rasa berat yang tiap kali menyelinap.
Seluruh keluarga pun menghargai seluruh keputusan yang aku ambil. Walaupun terlihat jelas, rona kecewa yang memancar, terutama di wajah ibuku. Tapi aku menguatkan dalam diri, bahwa segala konsekuensi harus kuhadapi dengan lapang dada.
Tak sampai dua bulan setelah resign, aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Badanku lemas, makan pun tak enak, ditambah lagi perutku terasa mual.
"Mungkinkah aku hamil?" Bisikku dalam hati. Kupandangi wajahnya yang lucu dan menggemaskan di usianya yang baru memasuki 14 bulan. Putri sulungku, Karina.
"Ya allah... Cobaan apalagi ini yang harus aku lewati." Kumemejamkan mata sejenak. Shock karena tespeck tang kupegang mengeluarkan garis merah 2. Merasakan ketidakikhlasan dalam menjalani hidup ini. Belum terobati pasca resign, kini ku dihadapkan masalah yang lebih besar lagi.
Pelan-pelan aku mencurahkan rasaku kepadanya. Pendamping hidupku. Dengan bijak, beliau memberikanku support dan semangat. Toh, ini kan hasil keinginan bersama. Kalaupun ditolak, maka akan mendapat laknatNya. Iya kan?!. Lantas mengapa kini harus kutolak rezeki dariNya?!.
Tiga bulan pertama, aku masih merasakan masa kehamilan yang biasa terjadi pada kebanyakan wanita pada umumnya. Pusing yang membuat tujuh keliling. Rujak yang selalu siap tersedia di dalam kotak bernama Kulkas. Lalu aku berobat ke bidan, memeriksakan kehamilan. Meminta resep bagaimana agar aku bisa memakan makanan yang di rasa tidak enak, hingga membuatku mual. Tapi ada yang membuatku aneh, ibu bidan selalu menyuruhku untuk berobat ke salah satu rumah sakit terdekat.
"Apakah ibu bidan tidak butuh pelanggan?" Kutanyakan dalam hati.
***
Kulihat pasien yang duduk mengantri banyak sekali. Tak bisa ku menghitung satu per satu dengan jariku. Tujuanku tertuju pada bangku kosong di pojok ruang tunggu.
Walaupun baru usia enam bulan, tapi rasa lelah menghampiri tubuh hingga membentuk butir-butir air di keningku. Aku yang merasa iri, melihat pasangan yang datang bergandengan mesra tak sabar ingin melihat janin dalam kandungan. Penuh bahagia.
Sedangkan aku? Hanya duduk sendiri sambil memegang gawai menunggu pesan masuk melalui aplikasi Whatsapp.
Tertera nama My Love berada di deretan teratas. "Udah nyampe, Neng?"
Ku balas, "Sudah."
My love, "Apa hasilnya?"
Ku balas lagi, "Belum ada panggilan. Sebentar lagi kayaknya."
My Love. "Ooh...."
Ya ampuunn... Kenapa ga nanya, Capek gak, Neng? Sudah makan belum? Mau dijemput gak?. Huufftt... Ujung-ujung chat cuma bilang ohh doang. Aku menggerutu sendirian.
"Ibu Meila...." Seorang perawat yang membantu dokter S.pog berteriak kencang.
Aku langsung berdiri. Memasuki ruangan berukuran kecil dan ditemani oleh perawat yang memanggilku dengan suara keras tadi. Aku berbaring di atas ranjang rumah sakit. Perawat dengan label nama 'Linda' di bagian kiri baju terlihat jelas. Ia mulai membuka separo baju agar perut bulatku terlihat oleh dokter.
Sebuah gel dengan sensasi unik yaitu dingin dan lengket, dioleskan ke perut. Aku tak tahu apa manfaat gel tersebut. Yang pasti aku bisa melihat janin bayi dalam perutku. Terlihat di layar kaca mirip seperti televisi, dengan ukuran lebih kecil.
"Ada dua benjolan yang nampak?" Aku berfikir keras. Apa maksud dokter itu. Jangan sampai sesuatu terjadi pada calon bayiku.
"Apa itu pak dok?" Tanyaku penasaran. Apa sebuah penyakit?. Oh ya ampuun... Aku terlalu lebay. Berfikiran jauh yang bukan-bukan.
"Oh ini bukan benjolan kepala, ini merupakan calon bayi anda. Selamat ya bu, sekaligus hamil ada 2 calon bayi."
Sontak saja aku kaget luarbiasa. Tak percaya. Aku beberapa kali menanyakan dokter muda yang memeriksa janinku.
Keluar dari ruangan. Langsung kuambil gawaiku yang berada di dasar Tas yang aku jinjing. Tertuju pada nama teratas yang tertera.
"Alhamdulillaah kembar." Secepat kilat kugoyangkan jari jempolku. Langsung meng-klik tanda kirim.
Balasan pun langsung masuk bertulis My Love,
"Alhamdulillaah... Terimakasih ya Allah."
Tak terasa airmatakupun tumpah saat itu juga. Tak kupedulikan mereka yang menatapku penuh dengan tanya. Ku hanya bersyukur kepadaNya yang sudah menggariskan kehidupanku penuh dengan warna tanpa kusadari banyak hikmah yang tercecer tanpa pernah kumencarinya.
**The End**
#ODOPChallengeNovember
#Day2
#FiksihanyaFiksi
Saat aku memutuskan resign, rasanya memang sangat berat sekali. Kala itu semangat menggebu ingin mengajar di salah satu sekolah di kota tetangga memang menjadi impianku sejak dulu. Namun, makna 'ikhlas' pun lagi-lagi harus kupraktekkan agar mampu menyingkirkan sedikit rasa berat yang tiap kali menyelinap.
Seluruh keluarga pun menghargai seluruh keputusan yang aku ambil. Walaupun terlihat jelas, rona kecewa yang memancar, terutama di wajah ibuku. Tapi aku menguatkan dalam diri, bahwa segala konsekuensi harus kuhadapi dengan lapang dada.
Tak sampai dua bulan setelah resign, aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Badanku lemas, makan pun tak enak, ditambah lagi perutku terasa mual.
"Mungkinkah aku hamil?" Bisikku dalam hati. Kupandangi wajahnya yang lucu dan menggemaskan di usianya yang baru memasuki 14 bulan. Putri sulungku, Karina.
"Ya allah... Cobaan apalagi ini yang harus aku lewati." Kumemejamkan mata sejenak. Shock karena tespeck tang kupegang mengeluarkan garis merah 2. Merasakan ketidakikhlasan dalam menjalani hidup ini. Belum terobati pasca resign, kini ku dihadapkan masalah yang lebih besar lagi.
Pelan-pelan aku mencurahkan rasaku kepadanya. Pendamping hidupku. Dengan bijak, beliau memberikanku support dan semangat. Toh, ini kan hasil keinginan bersama. Kalaupun ditolak, maka akan mendapat laknatNya. Iya kan?!. Lantas mengapa kini harus kutolak rezeki dariNya?!.
Tiga bulan pertama, aku masih merasakan masa kehamilan yang biasa terjadi pada kebanyakan wanita pada umumnya. Pusing yang membuat tujuh keliling. Rujak yang selalu siap tersedia di dalam kotak bernama Kulkas. Lalu aku berobat ke bidan, memeriksakan kehamilan. Meminta resep bagaimana agar aku bisa memakan makanan yang di rasa tidak enak, hingga membuatku mual. Tapi ada yang membuatku aneh, ibu bidan selalu menyuruhku untuk berobat ke salah satu rumah sakit terdekat.
"Apakah ibu bidan tidak butuh pelanggan?" Kutanyakan dalam hati.
***
Kulihat pasien yang duduk mengantri banyak sekali. Tak bisa ku menghitung satu per satu dengan jariku. Tujuanku tertuju pada bangku kosong di pojok ruang tunggu.
Walaupun baru usia enam bulan, tapi rasa lelah menghampiri tubuh hingga membentuk butir-butir air di keningku. Aku yang merasa iri, melihat pasangan yang datang bergandengan mesra tak sabar ingin melihat janin dalam kandungan. Penuh bahagia.
Sedangkan aku? Hanya duduk sendiri sambil memegang gawai menunggu pesan masuk melalui aplikasi Whatsapp.
Tertera nama My Love berada di deretan teratas. "Udah nyampe, Neng?"
Ku balas, "Sudah."
My love, "Apa hasilnya?"
Ku balas lagi, "Belum ada panggilan. Sebentar lagi kayaknya."
My Love. "Ooh...."
Ya ampuunn... Kenapa ga nanya, Capek gak, Neng? Sudah makan belum? Mau dijemput gak?. Huufftt... Ujung-ujung chat cuma bilang ohh doang. Aku menggerutu sendirian.
"Ibu Meila...." Seorang perawat yang membantu dokter S.pog berteriak kencang.
Aku langsung berdiri. Memasuki ruangan berukuran kecil dan ditemani oleh perawat yang memanggilku dengan suara keras tadi. Aku berbaring di atas ranjang rumah sakit. Perawat dengan label nama 'Linda' di bagian kiri baju terlihat jelas. Ia mulai membuka separo baju agar perut bulatku terlihat oleh dokter.
Sebuah gel dengan sensasi unik yaitu dingin dan lengket, dioleskan ke perut. Aku tak tahu apa manfaat gel tersebut. Yang pasti aku bisa melihat janin bayi dalam perutku. Terlihat di layar kaca mirip seperti televisi, dengan ukuran lebih kecil.
"Ada dua benjolan yang nampak?" Aku berfikir keras. Apa maksud dokter itu. Jangan sampai sesuatu terjadi pada calon bayiku.
"Apa itu pak dok?" Tanyaku penasaran. Apa sebuah penyakit?. Oh ya ampuun... Aku terlalu lebay. Berfikiran jauh yang bukan-bukan.
"Oh ini bukan benjolan kepala, ini merupakan calon bayi anda. Selamat ya bu, sekaligus hamil ada 2 calon bayi."
Sontak saja aku kaget luarbiasa. Tak percaya. Aku beberapa kali menanyakan dokter muda yang memeriksa janinku.
Keluar dari ruangan. Langsung kuambil gawaiku yang berada di dasar Tas yang aku jinjing. Tertuju pada nama teratas yang tertera.
"Alhamdulillaah kembar." Secepat kilat kugoyangkan jari jempolku. Langsung meng-klik tanda kirim.
Balasan pun langsung masuk bertulis My Love,
"Alhamdulillaah... Terimakasih ya Allah."
Tak terasa airmatakupun tumpah saat itu juga. Tak kupedulikan mereka yang menatapku penuh dengan tanya. Ku hanya bersyukur kepadaNya yang sudah menggariskan kehidupanku penuh dengan warna tanpa kusadari banyak hikmah yang tercecer tanpa pernah kumencarinya.
**The End**
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini