Cerita Reina


#CeritaReina#Day9#ODOPNovemberChallenge#Fiksi

"Rei... Kamu ga apa-apa kan nak?" Wajah Bude Lastri menatapku kasihan.
.
"Aku gak apa-apa kok bude, insyaa allah aku yakin pasti jodohku akan datang tepat sesuai dengan rencanaNya." Kataku kepada bude. Walaupun dalam hatiku berkecamuk meminta keadilan. Bersedih mengapa semua harus berakhir seperti ini.
.
"Aku berangkat ke kampus dulu ya bude, ada jadwal dengan mahasiswa semester 2." Kucium punggung tangan bude yang berwarna kekuningan dan khas tercium wangi kunyit dari tangannya.
.
Awan terlihat mendung, seakan ia turut sedih mendengarkan akhir cerita perjalananku. Usiaku yang sudah memasuki kepala 3. Surat undangan yang sudah tersebar luas. Dan biaya WO hampir 100% terselesaikan. Kini, harus berakhir dengan kepedihan yang menyayat hatiku dan membuat sesak, sulit tuk bernafas.
.
Radit. Seorang dosen yang 2 tahun lebih tua dariku, datang melamar menemui bude. Aku menerima Radit, karena ku yakin ia akan menjadi imam sekaligus ayah yang pantas untuk anak-anakku kelak. Tapi seakan itu semua, kini hanya mimpi. Keputusan Radit, membatalkan sepihak membuatku hampir kehilangan akal sehat. 3 hari aku mengurung diri di kamar.
.
Tapi aku bukanlah Reina yang lemah. Aku adalah Reina yang kuat. Walaupun tiap ku ingat keputusan Radit waktu itu, berhasil membuat hatiku sakit luarbiasa.
.
"Rei... Jadi info tentang isu pernikahan kamu dan pak Radit... Beneran gak jadi?" Tasya berhati-hati bertanya kepadaku.
Kepalaku menunduk dan mengangguk, tak kuasa menahan airmataku yang tumpah, Tasya langsung memelukku. Erat.
.
Setiap pertanyaan itu selalu terlontar penuh penasaran, ku pasrah. Ucapan kata sabar yang hampir bosan di telinga. Hanya kubalas mereka dengan senyuman.
.
Ku sedang berfikir, bagaimana caranya agar ku bisa menghadapi Radit yang mengajar satu fakultas denganku di kampus ini. "Huuufftt... harus bisa!" Tekadku.
***
Sesampainya di rumah, aku tak menyangka seseorang datang menemui bude. Kemudian memberanikan diri mengatakannya.
"Reina... Maaf jika saya lancang. Apakah saya boleh menggantikan posisi Radit di acara ini?" suara lelaki itu terdengar terbata-bata saat mengungkapkannya. Aku menatap bude yang berada di sampingku. Mata bude berkaca, seakan terharu mendengarnya. Aku menangis, kemudian mengangguk tanda mengiyakan.
.
Reyhan.
Dialah kini yang mengobati hatiku yang terluka. Lelaki yang dengan ikhlas menjadi imamku. Lelaki yang lebih baik dari Radit, yang Dia pilihkan untukku menata masa depan.
.
Ku lihat ekspresi Radit terkejut, saat ia menghadiri acara sakral kemarin. Reyhan sahabat akrab Radit. Memiliki prestasi sebagai dosen muda yang memiliki prestasi luarbiasa. Yang sama sekali, tak bisa kubayangkan, jangankan untuk bersanding dengannya di pelaminan, menjadi satu tim di kampus pun mustahil bagiku mengejar prestasinya itu. Belum lagi para mahasiswi yang kegandrungan mengidolakannya.
.
Dan kini, lelaki itu berada tepat disampingku. Menggenggam erat tanganku, dan kuucapkan terimakasih karena bersedia ikhlas menerimaku apa adanya.
.
**The End**


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2