Bagaimana Cara Mengenali Emosional pada Anak-anak


#Day12
#Membaca Cerita
#Melatih Kecerdasan Emosional

Hari ini, ada 3 buku pinjaman yang akan emak tunjukkan ke anak-anak. Diantaranya 1 majalah Bobo, 1 cerita Fabel dan 1 cerita nonfiksi tentang Ibnu Abbas (Sahabat Rasulullah). Emak ingin melihat, bagaimana respon anak-anak, saat mereka melihat buku tersebut?

Ternyata Fahmi lebih memilih majalah bobo, langsung membaca sendiri. Padahal kan Fahmi belum bisa membaca per kata dengan lancar. Tapi ternyata melalui gambar-gambar yang tertera di dalamnya, Fahmi mencoba menarasikan sendiri ceritanya.

Fakhri memilih buku Ibnu Abbas, meminta emak membacakannya. Ternyata baru beberapa halaman di lewati, Fakhri meminta mengganti bukunya dengan buku Fabel. Padahal sedang dibaca oleh teteh Alya. Emosi Fakhri belum sampai menerima apa yang sudah dipilihnya. Lebih mudah ngambek, jika tidak terpenuhi permintaannya.

Alhasil, emak sarankan kepada anak-anak, untuk mendengarkan emak bercerita. Dan alhamdulillah teteh Alya dan Fahmi sepakat. Terkadang apa yang kita harapkan, belum sepenuhnya tercapai. Seperti halnya ini, saat emak berusaha melatih kecerdasan emosional Fakhri, ternyata tidak semudah itu. Emak harus terus belajar, belajar dan belajar lagi membimbing anak-anak, sehingga mereka mampu mengendalikan diri mereka sendiri.

Di bawah ini adalah respon orangtua terhadap emosional anak yang di bagi menjadi 4 tipe, diantaranya :

1. Mengabaikan

Tipe pertama ini meremehkan emosi-emosi negatif anak. Dampaknya anak akan bingung terhadap perasaannya sendiri. Ini salah atau benar sih aku nggak ngerti. Kurang lebih seperti itu yang anak rasakan.

Selain itu, mereka juga akan kesulitan dalam menata emosinya karena tidak mendapatkan arahan tepat dari orangtua.

2. Menolak

Tipe kedua ini begitu kritis terhadap emosi negatif anak. Dampaknya anak akan kesulitan dalam mengungkapkan emosinya. Bahkan, seringkali anak merasa tidak dipahami oleh orangtuanya.

3. Laizees

Tipe ketiga ini lebih baik daripada tipe pertama dan kedua karena orangtua laizees menerima emosi anak. Sayangnya, mereka tidak mengarahkan dan tidak juga memberi batas-batas untuk tiap tingkah laku anak. Dampaknya anak masih bingung dalam mengelola emosinya.

4. Pembimbing Emosi

Ketika orangtua melihat emosi negatif dari anaknya, ia menganggap itu sebagai kesempatan untuk mengenal anaknya secara lebih dekat. Orangtua jenis ini tidak hanya berempati terhadap emosi anaknya seperti tipe laizees. Melainkan, tergerak untuk membimbing anak-anak dalam mengelola emosi.

Sehingga, anak-anak menjadi paham terhadap rasa kecewa, marah, kesal, sedih, bahagia, semangat dan mampu menggerakan rasa-rasa itu untuk mengatasi masalahnya.

Nah, berdasarkan browsing emak, itulah yang menjadikan emak bersemangat untuk melatih emosional anak-anak. Karena emak ingin termasuk emak yang mammu membimbing di jalan yang seharusnya anak-anak tempuh.

Berikut cara Melatih Emosi Anak, diantaranya :

1. Menggambar Perasaan

Cara lain untuk mengenalkan anak pada jenis-jenis emosi adalah mengajaknya untuk menggambar perasaan. Sediakanlah kertas gambar dan pensil warna atau crayon.

Ambil crayon warna merah untuk menggambarkan perasaan semangat. Warna hitam untuk menggambarkan kesedihan. Warna biru untuk menggambarkan perasaan tenang dan nyaman. Warna kuning untuk melukiskan kebahagiaan atau kegembiraan dan lain-lain.

2. Mengajarkan Kontrol Diri

Cara melatih emosi anak yang kedua adalah tentang kontrol diri.

Apakah Anda menganggap anak-anak sulit untuk diajak bernegosiasi? Pernyataan itu tepat jika Anda membiasakan diri menolong dan memenuhi permintaannya seketika.

Tapi, jika sejak dini Anda mengajarkan kontrol diri, maka bernegosiasi dengan anak adalah hal yang amat mudah. Misalnya, anak menangis karena ingin mendapatkan sesuatu saat itu juga.

Jangan wujudkan permintaannya sebelum ia berhenti menangis dan mengatakannya dengan tenang nan pelan kepada Anda.

Anak harus belajar bersabar karena tidak semua keinginannya bisa terpenuhi seketika.

Contoh lain ketika Anda ingin mengajak anak ke mall. Sebelum berangkat, tegaskan padanya bahwa tujuannya adalah hanya untuk berbelanja kebutuhan rumah. Tidak lebih.

Apabila di mall ia menangis dan minta dibelikan mainan, ingatkan kembali tujuan kalian. Jika masih menangis dan berteriak-teriak, jangan panik atau malu. Segera bawa ia pulang ke rumah meskipun Anda belum selesai berbelanja.

3. Mengajarkan Motivasi Diri

Semua orangtua pasti ingin melihat anaknya tangguh dalam menghadapi setiap cobaan. Tidak mudah merengek manja apalagi lari terbirit-birit minta bantuan orangtua.

Untuk itu, sejak usia 1 tahun Anda bisa mengajarkan anak bagaimana memotivasi diri sendiri. Saat anak masih belajar berjalan dan terjatuh, katakan padanya, ayo nak bangun lagi. Kamu bisa!

Hindari untuk segera menolong. Karena pola ini membuat anak merasa Anda akan selalu ada untuk menolongnya. Selain itu, untuk menghindarkan anak dari menggantungkan hidupnya kepada Anda, ajarkan pula tentang tanggung jawab.

Pola asuh yang selalu melayani kebutuhan anak tidak akan membuatnya paham tentang konsep tanggung jawab terhadap diri sendiri. Ia akan mudah menyerah atas masalah yang dialami.

Sekecil apapun masalah yang ia hadapi, hindari untuk menolong mereka dengan cuma-cuma

4. Menunjukkan Contoh Nyata

Cara melatih emosi anak yang terbaik adalah dengan menunjukkan contoh nyata melalui perilaku Anda dan orang-orang di sekitar.

Ketika Anda sedang kesal terhadap seseorang, Anda tidak perlu menutupi hal ini di depan anak-anak. Katakan saja sejujurnya, nak ibu lagi kesal. Tapi, ibu berusaha untuk tenang dan nggak marah di depan kamu.

Tunjukkan juga kekesalan Anda melalui mimik wajah dan bahasa tubuh.

Untuk mengajarkan rasa belas kasih kepada anak, Anda bisa mencoba memelihara hewan lucu di rumah, seperti hamster atau kucing. Biasanya anak-anak suka dan ingin mengelus-elus hewan semacam ini.

Namun, banyak diantara mereka yang belum bisa mengungkapkan rasa suka dengan layak. Alih-alih mengelus, ia kemudian menjadi gemas dan memukul hewan piaraannya.

Ketika itu terjadi, katakan pada anak, kalau dipukul seperti itu nanti hamsternya sakit terus nangis. Coba sini kamu mama elus kepalanya. Gimana? Enak kan? Ayo, coba hasmternya dielus juga.

Pola kalimat itu mengajarkan anak bagaimana cara mengungkapkan rasa sayang dan empati dengan benar.

Jika Anda merasa risih dengan hewan piaraan, tidak masalah. Jangan terlalu memaksa. Anda tetap bisa mengajarkan rasa belas kasih dan empati melalui tindakan nyata dari orang-orang di sekitar atau melalui media gambar, buku dan film.

Semoga ini dapat bermanfaat untuk ke depannya melatih emosional anak-anak.

Semangat belajar bunda semua... 🤗

#Day12
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamiliMyTeam
#TeamSmart


Sumber : http://pelatihanparenting.com/cara-melatih-emosi-anak/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2