Aku Bukan Selebriti



#Day4
#ODOPChallengeNovember
#FiksihanyaFiksi.
.
Plaaaaakkk!!!
Tangan itu mendarat dengan cepat di pipi kiriku. Tangan yang selama ini membelaiku dengan kasih sayang. Tangan yang selama ini mengulurkan pertolongan. Dan kini tangan itu pula yang menyayat luka hatiku yang teramat dalam. Tak berani ku tatap matanya yang kini dipenuhi kemarahan dan airmatanya tumpah tak beraturan.
"Kamu mau melawan mamah, Mer?" Bentaknya lagi.
Ku hanya bisa mematung, kaku tak bergerak. Tak ingin melawan mamah. Walaupun hati kecilku mengatakan aku tidak bersalah.
.
"Kalau kamu masih saja nekad melakukan ini, silahkan injak kaki dari rumah ini, Mer!"
Kaget kumendengarkan keputusan mamah. Refleks Kudongakkan kepala menatap mamah tak percaya.
.
Kasih sayang selama 20 tahun, ternyata kandas tak berbekas. Tinggal kebencian dan murka yang tak bisa diredam. Ku angkat lututku perlahan, lalu menopang tangan hendak berdiri tegak. Tubuh yang tak kuasa menahan beban, terpaksa harus kuterima akibat perbuatan yang kulakukan. Ingin sekali ku memeluk tubuhnya, lalu mengatakan, "Ayo mah, temani Merry. Menghadapi dunia yang fatamorgana."
Tapi sepertinya percuma. Mamah tak berniat melihat wajahku.
.
Kuambil semua pakaian sobek itu. Satu jam yang lalu mamah menemukannya di bawah ranjang kasur di kamar. Mengambil gunting dan memotong-motong hingga compang camping. Beberapa setelan gamis lengkap dengan kerudung lebar yang dianggap mamah ketinggalan zaman.
.
Sejak kecil mamah ingin aku menjadi selebritis papan atas seperti keponakannya yang sukses naik daun hingga terkenal di seluruh penjuru negeri. Modal wajah cantik nan ayu, serta pakaian seksi yang membuat lelaki tak berkedip.
.
Aku yang masih tak mengerti, menuruti segala kemauan mamah. Hampir semua baju, rok, celana dan sepatu pilihan mamah harus kupakai setiap aku keluar rumah. Tapi nyatanya aku yang sudah beranjak dewasa, tak nyaman dengan itu semua. Pakaian dengan dada agak terbuka, rok diatas lutut, serta sepatu tinggi. Belum lagi, para lelaki yang sering menggodaku. Menatap penuh nafsu.
.
Akhirnya aku diam-diam mengganti pakaianku. Tak kuduga mamah akan marah sampai seperti ini. Langsung mengusirku.
.
Ku berjalan pelan meninggalkan mamah yang terpaku di kamar.
"Jaga diri mamah baik-baik ya...."
Kuhapus airmata yang tak terasa mengalir.
"Assalamu'alaikum...." Ucapku terakhir, memandangi punggung mamah yang berbalik tak ingin disentuh, saat ingin kucium tangannya terakhir kali.

**The End**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2