Pernikahan dengan Syarat#9

#Pernikahan_dengan_Syarat
#Part9
#Mudho_Wamah

POV : Pak Wisnu

Memang sejak awal, aku tak serius dengan Karin. Ya, Meila Karina Putri nama lengkapnya. Pegawai dapur kantor milik ayahku. Karin yang kulihat biasa saja. Tidaklah cantik seperti teman-teman wanitaku yang lainnya. Tapi sungguh ku menaruh hormat padanya. Terlebih saat dirinya mengatakan bahwa dia bekerja untuk membantu membiayai kuliah Marina, adiknya.

Rasa penasaranku mulai muncul. Karin bekerja keras karena bertekad ingin menjadikan adiknya menjadi seorang sarjana. Sedangkan dirinya hanyalah lulusan pesantren setara SMA. Makan hanya seadanya. Seringkali ku mengajaknya makan bersama, traktiran kutawarkan, tapi tetap saja dia selalu menolak.

Hanya penasaran!
Ya, sekedar itu. Jika wanita lainnya di kantor sangat agresif mendekatiku. Tapi tidak dengan Karin. Kuputuskan untuk membuat hubungan lebih dari teman, tapi Karin menolak. Haha... Hanya Karin, satu-satunya wanita yang benar-benar menolak diriku. Oiya, yang aku tahu orang seperti Karin, ingin langsung menikah. Maka, tentu saja aku pun menantang diriku memintanya menikah denganku. bukan Wisnu namaku, jika tak bisa mendapatkan wanita yang ku mau. Semakin tertantang, saat Karin bilang, ada kekurangan dalam diriku. Aku semakin bersemangat.

Ku kejar Karin!
Hingga ke rumahnya, saat dia memberikan alamat di secarik kertas. Ku yakin sekali, dirinya ingin aku mengatakan langsung kepada kedua orangtuanya. Mataku seakan tak percaya, ku beranikan diri mendatangi ibu dan abahnya. Namun, yang kulihat begitu membuatku terkejut. Perjodohannya dengan Aziz, diluar dugaanku. Kaget. Benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Entah mengapa terlontar begitu saja kalimat itu. Ya, saat ku mengatakan "Beri aku waktu 6 bulan..". Karin seorang gadis kampungan itu, benar-benar membuatku kehabisan akal.

Karin sakit.
Tak pernah aku iba kepada seorang wanita hingga seperti ini. Kuberikan layanan di ruang VIP tempatnya di rawat. Setiap hari menjenguknya dan membawakan makanan untuk kedua orangtuanya. Ahh.. Konyolnya aku. Melangkah hingga sejauh ini. Padahal aku sendiri tak tahu pasti apa benar-benar rasa kepadanya tumbuh bersemi. Yang jelas, entah rasa apa itu, aku tidak suka, saat melihat Aziz menjenguknya. Akrab sekali terlihat antara Aziz dan kedua orangtuanya.

Lagi-lagi ku bimbang!
Apa kusudahi saja permainan ini. Capek juga rasanya. Mengejar wanita yang ternyata sudah dijodohkan. Aku menganggap semua hanya permainan. Aku menyerah. Tak bisa mendapatkan Karin dengan mudah. Lagipula aku benar-benar tak bersungguh ingin menikahinya.

Kemudian, Karin resign.
Aku pun melepaskannya. Bahasa kerennya mengikhlaskannya begitu saja. Terserah kepada dia yang mau memilih Aziz. Aku pun tak peduli. Kudengar sendiri, saat di Kantin. Sorak sorai teman-temannya yang mengucapkan selamat. Karin sedang dipingit. Siapa lagi kalau bukan dengan Aziz. Apakah dirinya tak bisa memberikan penjelasan kepadaku?. Aku sangat kecewa padanya. Aahh.. Sudahlah! Aku pasrah.

Kusibukkan diriku dengan pekerjaan di Kantor. Ada yang aneh dalam diriku. Aku lebih banyak diam. Memikirkan apa yang terjadi pada diriku. Entahlah, diriku kini tak seperti Wisnu yang dulu.

Sungguh, aku tak tahu darimana rasa ini muncul. Rasa yang selalu menghantuiku. Ku mencoba membuangnya jauh-jauh. Ku tekadkan diri fokus berubah. Menjadi Wisnu yang lebih baik lagi. Setiap malam aku belajar mengaji. Mendengarkan berbagai ceramah. Membaca buku yang berkaitan dengan Islam. Tak lupa juga Tahfidz yaitu semacam menghafal surat-surat dalam al-Qur'an. Aku tak lagi memikirkan Karin. Lebih tepatnya, sudah jarang memikirkannya. Namun, rasa itu semakin tumbuh bersemi.

Aku membayangkan Karin yang pasti sudah bahagia bersama Aziz. Dan aku berusaha seikhlas mungkin. Menjalani hari-hariku seperti biasa.

Claresta!
Ahh.. Wanita ini senang sekali datang kesini. Berbagai alasan mencoba merayuku. Tentu saja mentah-mentah ku tolak ajakannya untuk kembali menjalin hubungan. Seringkali kukeluarkan nasihat-nasihat ala ustadz yang biasa aku dengar. Claresta langsung pergi, haha.., mungkin panas mendengarku ceramah. Masih teringat jelas, saat Claresta mengkhianatiku. Dirinya menjalin hubungan dengan Jani, sahabat karibku sendiri. Amarahku langsung memuncak, melihat mereka bersama menonton di salah satu bioskop ternama di pusat kota. Sambil bergandengan tangan mesra. Saat itupun ku putuskan tak ingin hubunganku berlanjut bersama Claresta.

Dan kini, kuratapi diriku lagi. Karin pun sama, meninggalkanku begitu saja. Ahh, tapi bukan salah Karin. Karena aku dan Karin sama sekali belum menjalin hubungan apapun. Aku yang harusnya disalahkan, karena terlalu berharap kepada manusia yang bernama wanita.

Ponselku tiba-tiba bergetar. Tak tertera nama di layar. Mungkin klienku yang berganti nomor. Lalu kuangkat. Sejenak tak ada suara. Kukeraskan lagi suaraku, barangkali sinyal yang kurang mendukung. Tak lama kemudian, suara khas itu muncul. Membuatku tak bisa menelan. Seketika fikiranku melayang kemana-mana. Aziz menghubungiku. Ya, Aziz yang akan menikah dengan Karin. Anehnya, dia ingin bertemu denganku. Untuk apa dia ingin menemuiku?, apa karena ingin menunjukkan dirinya telah menang?.

Stop Wis. Hatiku menyuruh untuk berhenti berprasangka. Karena Allah membenci segala prasangka buruk baik yang terucap ataupun tidak.

Kuberusaha tenang.
Menuruti keinginan Aziz yang ingin bertemu. Aziz memberikan alamat Cafe di kota ini. Kujawab akan mengatur jadwalku terlebih dahulu. Karena hari ini akan ada rapat dengan pegawai kantor.

"Mekka, tolong atur ulang jadwal rapat nanti sore ya!"

"Baik, pak." dengan sigap Mekka menjawab.

Aku pun langsung keluar. Keluar dari parkiran. Menuju tempat yang Aziz tuju. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Haruskah aku mengucapkan selamat seperti yang lainnya?. Baiklah, aku harus fokus. Tak boleh lagi ada amarah. Sebaiknya menjadi sekedar teman, lebih baik terdengar daripada harus bertengkar hanya karena seorang wanita.

****
Butuh waktu satu jam untuk sampai kesana. Sebuah Cafe classik. Kumemasuki area parkir yang berada dibelakang Cafe. Fiiuuh..., tiba-tiba rasa lelah menghinggapi tubuhku. Kubuka jas dan dasi yang kukenakan. Hanya memakai kemeja biru dongker dengan lengan panjang yang digulung.

Berjalan santai memasuki Cafe. Mataku mencarinya. Aziz yang sudah menungguku satu jam yang lalu. Tapi tak kutemukan. Aah..., tak mungkin seorang Aziz bermain-main. Ku lihat kembali nama dan alamat Cafe yang terpajang di pinggir jalan. Sesuai dengan yang Aziz katakan.

"Maaf, Pak. Temannya sudah menunggu di meja nomor 08." Salah satu pelayan Cafe menunjuk meja di pojokan.

"Oh, terimakasih mbak."

Langsung kutemukan Aziz disana. Menggunakan kaos berkerah, topi berwarna hijau lumut. Matanya memandang ke arah jalanan yang dipenuhi kendaraan.

"Assalamu'alaikum.., mas Aziz." sapaku kepadanya. Aziz pun membalas salam disertai jabat tangan ala sobat karib yang tak lama berjumpa.

"Silahkan duduk! Kita pesan minuman ya?." Aziz memanggil pelayan.

Aku pun mengangguk, "Ya, terserah yang mengundang. Pastinya aku yang di traktir kan?" sengaja ku cairkan diriku dengan guyonan.

Kami pun tertawa.

Mataku mencari sosok Karin. Ku kira Aziz datang bersamanya. Ternyata ku salah. Aziz benar-benar sendiri datang ke kota ini.

"Bagaimana kabarmu, Wis?" sambil mengaduk-aduk milkshake miliknya.

Aku tertegun. Mencerna maksud Aziz.

"Alhamdulillaah... Aku sehat wal 'afiat mas,"

"Alhamdullillaah.. Syukurlah."

Kami pun santai berbincang pekerjaan masing-masing. Sampai setengah jam. Namun belum kutemukan juga maksud Aziz bertemu denganku.

Rasanya ingin ku bertanya kabar Karin. Sebisa mungkin kuurungkan niatku. Tak pantas rasanya, apalagi jika ternyata mereka sudah menikah.

"Wis, ada hal yang ingin aku obrolin. Untuk itu aku kesini, ingin bertemu langsung."

Aku mulai resah. Tak sabar menunggu Aziz melanjutkan pembicaraan.

Suasana yang tadinya santai, kini berubah menjadi tegang.

"Bagaimana dengan Karin?, mau dilanjut atau mundur?"

Aku benar-benar tak paham. Aziz bertanya atau membuat pernyataan. Sungguh ku dibuatnya kebingungan.

"Maksudnya, mas Aziz?" aku balik bertanya.

"Wis, kamu minta waktu 6 bulan. Dan sekarang sudah melebihi batas waktunya." Aziz mulai meninggikan suara.

Aku masih tak paham juga, maksud Aziz.

"Karin sepertinya menunggu." Aziz menyunggingkan sebelah bibirnya. Membuang pandangannya ke arah jalanan yang masih padat kendaraan. Kulihat Aziz berbeda dari sebelumnya saat kami tertawa bersama.

Menunggu?
Sepertinya otakku masih berfikir lambat. Mirip komputer zaman dahulu dengan pentium satu.

Aziz masih berdiam diri.

Apa yang Karin tunggu?
Menunggu siapa?

Otakku benar-benar belum tersambung dengan kata-kata Aziz.

Deg!
Jangan-jangan...

Seketika ku kejar Aziz dengan berbagai macam pertanyaan. Tapi Aziz masih saja diam.

Apakah Karin menungguku?
Bukannya Karin sudah setuju menerima perjodohannya dengan Aziz?

Ahh... Bodohnya aku.
Mengapa aku percaya dengan ucapan Karin di Kantin saat hari terakhir bekerja di Kantor.

Apa semua itu hanya alasan Karin saja untuk menghindari berbagai pertanyaan teman-temannya?
Tapi sungguh, aku tak tahu kalau semua hanya kebohongan yang dibuat Karin.

Aziz menceritakan saat dirinya bertemu Karin. Hendak mencari kepastian. Tak perlu lagi memperpanjang waktu. Tapi Karin yang tak memberi jawaban, membuat Aziz harus bersabar lebih lama. Wanita memang tak bisa dipaksakan ya.

Dadaku terasa sesak.
Sangat sesak.
Entah mengapa aku begitu teledor seperti ini. Membuat Karin menunggu begitu lama.

Kulihat tatapan mata Aziz yang begitu tulus menjalin hubungan dengan Karin.

Sedangkan aku?
Masih sangat jauh dan tak pantas rasanya.

"Wis?" Aziz memecahkan lamunanku. Menunggu jawaban.

"Emm... Saya... Saya... " sepertinya suara ini, begitu sulit keliar dari tenggorokan.

"Wis, maju atau tidak?," Aziz mulai tegas. Dirinya tak ingin bertele-tele lagi memperpanjang waktu untuk hal sepenting ini.

Suaraku masih tak bisa dilepas.
Sulit dikeluarkan.

Ahh... Sesak yang semakin menjadi-jadi. Ku ambil gelas minumanku, untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba kering.

"Kalau memang sudah tidak ada niatan lagi dengan Karin. Aku yang akan maju Wis." lanjut Aziz. Membuatku terpojok.
Ku masih diam.

Entah mengapa sulit sekali menjelaskannya kepada Aziz. Menjelaskan bahwa aku salah faham. Salah menilai ucapan Karin yang kukira menyetujui perjodohan dengannya.

"Wis? Aku butuh kepastian. Jangan membuat Karin menunggu lebih lama lagi." Aziz meninggikan nada.
Huufftt... Ku tarik nafas panjang.
Walau dengan suara terbata. Ku jawab dengan satu kata.

***Bersambung***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2