Pernikahan dengan Syarat

#Pernikahan_dengan_Syarat
#Part10
#Mudho_Wamah

Pak Wisnu meninggalkan Aziz sendiri. Di Cafe itu. Langsung menancap gas mobil. Tak dihiraukannnya kemacetan yang memadati jalan. Langsung diambil gawai miliknya dan membuka aplikasi. Menemukan jalanan menuju rumah pak Wisnu, mencari celah jalan mana yang tidak dipadati kendaraan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ingin segera sampai.

Pak Wisnu langsung memasuki pekarangan rumah. Membanting stir mobil dan memutar balik arah. Hanya untuk menjemput keduanya. Oangtua pak Wisnu yang sudah siap menunggunya. Sebelumnya, saat keluar dari Cafe, pak Wisnu langsung menghubungi keduanya.

"Hallo, mih, assalamu'alaikum.., nanti Wisnu jemput ya sekarang. Pokoknya mamih dan papih siap-siap aja, kita ke Cianjur. Setengah jam lagi Wisnu sampai rumah." pak Wisnu menelpon tampak bersemangat.

Dirinya begitu ingin sekali meminta maaf kepada Karin. Ya, rasa bersalah itu muncul saat Aziz menceritakan kronologis dirinya yang terdesak.

Kedua orangtua pak Wisnu pasti sangat terkejut, berbagai pertanyaan muncul. tapi tak dijelaskannya.

"Tak ada waktu lagi mih. Setelah bertemu akan Wisnu jelaskan ya."

Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, pak Wisnu menceritakan semuanya.

"Wisnu, kamu kok ya ada-ada saja, mau ke rumah teman perempuan, pakai acara mendadak." Mamih geleng-geleng kepala.

Pak Wisnu hanya tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda. Sedikit mengembang. Dan tampak wajahnya bercahaya. Fiuh.., begitulah mungkin jika hati sedang berbunga-bunga.

"Karin mih.., namanya Karin."

"Karin rumahnya dimana? Memangnya kamu sudah pernah kesana?," mamih bertanya lagi.

"Sudah dong..,"

Pak Brata hanya senyum saja melihat tingkah laku anak semata wayangnya.

"Karin orangnya baik mih, alim lagi." pak Brata membela.

"Huu.., pantas saja kamu jadi lebih alim sekarang ya. Trus Claresta mau dikemanain? Mamih gak mau ah, Claresta merengek ke mamih."

"Claresta biar Wisnu yang urus. Sekarang yang penting. Mamih kenalan aja dulu dengan orangtua Karin." Pak Wisnu memaksa.

Sepanjang jalan, sambil ditemani alunan musik Sabyan membuatnya bahagia. Lagu Deen Assalam. Dirinya kini lebih menyukai lagu-lagu islami. Ketimbang rock yang dulu digandrungi.

Melihat perubahan pak Wisnu tentu saja membuat bahagia kedua orangtuanya. Terlebih sang papih, yang dari dulu dibuat geleng-geleng kepala, melihat tingkah anaknya yang foya-foya.

"Mih, tapi mamih jangan kaget ya melihat Karin. Karin ga secantik wajah Claresta mih. Tapi hatinya cantik koq." pak Wisnu mengambil ancang-ancang khawatir mamih tidak suka melihat penampilan Karin.

Mamih dan papih saling melirik. Ternyata anaknya yang super manja, kini telah dewasa.

"Kamu gak ganti baju, Wis?," papih mencium aroma tak sedap.

"Mau ketemu camer kok bau begini sih Wis," Mamih meledek.

Spontan ketiganya tertawa.

Pak Wisnu sama sekali lupa menyiapkan pakaian di mobil, lagipula tak sengaja juga akan pergi ke Cianjur, buru-buru khawatir kemalaman sampai disana.

Apa Karin dan orangtuanya akan memaafkan keterlambatannya ya?. Pak Wisnu agak khawatir.

Ahh sudahlah, kalau ditolak, ya tinggal pulang saja. Hemm..., toh, jodoh, rejeki, kematian, semua sudah ada yang mengatur. Yang terpenting, dirinya kini berusaha memanfaatkan waktu yang sempit ini.

Teringat Aziz yang melihat dirinya gugup saat mengatakan kata "Iya".

Mengatakan "iya" saja sulit sekali keluar dari mulutnya.

*****
Sesampainya di rumah Karin, pak Wisnu meminta pak Brata maju lebih dulu.

Keluarga Karin pun menyambut pak Brata dan istri, sedangkan pak Wisnu terlebih dahulu mampir ke masjid terdekat disana.

Berjalan kaki.

Menyusuri jalanan sempit.

Selepas mengambil airwudhu, pak Wisnu sholat.

Ya, memantapkan hati untuk bertemu dengan Karin.

Dari balik kain panjang yang terpasang membatasi ruang jama'ah laki-laki dan perempuan, pak Wisnu mendengar suara anak-anak mengaji. Di desa, memang selepas maghrib hingga isya anak-anak rajin sekali mengaji. Berbeda dengan di kota, rata-rata lebih populer dengan privat atau les, yang gurunya mendatangi rumah murid yang mendaftar.

Deg !

Pak Wisnu mendengar suara itu!

Ya, suara yang sangat dikenalnya.
.
.
.
Karin.

Akhirnya, dirinya mendapati Karin.

Ketemu?
.
Enggak?
.
Ketemu?
.
Enggak?
.
Bingung kan?.

Anak-anak yang mengaji pun satu per satu meninggalkan latar masjid.

Tapi pak Wisnu masih bingung. Tak berani bertemu.

*****
Abah dan pak Brata nampak asyik mengobrol. Pak Wisnu yang sengaja datang terlebih dahulu di rumah, meninggalkan Karin sendiri di masjid.

Ahh.., biar surprise. Hatinya senang.

"Assalamu'alaikum.." Pak Wisnu bersalaman dengan abah.

"Wa'alaikumussalaam.. Gimana nak Wisnu, sehat?"

"Alhamdulillaah.., Bah."

Tak lama kemudian, Karin pulang.

Kaget melihat sosok lelaki itu. Ya, laki-laki yang menjanjikan dirinya akan datang.

Karin membuang muka. Mengalihkan pandangan dari pak Wisnu. Melempar senyum kepada pak Brata.

Pak Brata langsung menyapa Karin. Rindu juga sudah lama tak berjumpa dengan pak Brata. Salah satu bos yang terkenal super baik dan ramah. Tak kenal status sosial baik konglomerat ataupun orang melarat.

Karin sangat senang.

Tapi disembunyikan. Dirinya begitu sangat acuh kepada pak Wisnu.

Pak Wisnu manyun. Tapi dirinya mengalah, ya tentu saja pak Wisnu yang salah.

Karin, Pak wisnu, dan orangtua dari masing-masing sudah duduk bersama. Pak Brata pun mengungkapkan maksud kedatangannya.

Abah yang sudah bisa menangkap maksud pak Brata, langsung mengangguk tanda paham.

"Saya sangat menghargai kedatangan pak Brata dan keluarga, tapi sebaiknya saya tanyakan terlebih dahulu, apakah Karin setuju atau tidak?." Abah melihat Karin yang terdiam.
.
.
.
Dan
.
.
Karin masih diam.

Ingin sekali dijawabnya, iya. Tapi...

Apakah pak Wisnu sudah menepati janjinya untuk berubah. Sedangkan, beberapa hari sebelum resign dilihatnya duduk bersama Claresta. Dekat.
.
.
Lalu...
.
.
Bagaimana dirinya akan menghadapi Aziz. Bimbang juga.

 Menangkap kebingungan Karin, pak Wisnu angkat bicara.

"Maaf bah, jika Wisnu menyela." sambil menelan ludah. Kering rasanya. Pilu untuk berbicara. Namun ini harus diselesaikan, agar tidak ada salah faham lagi.

"Wisnu bertemu dengan mas Aziz. Emm..., maksudnya mas Aziz yang terlebih dahulu mengajak untuk bertemu.."

Pak Wisnu menceritakan apa yang disampaikan oleh Aziz. Sebelum pak Wisnu meninggalkan mas Aziz sendirian di Cafe.

"Mas Aziz sudah menikah bah." Wisnu agak ragu mengatakannya. Tapi bagaimanapun, pak Wisnu harus mengatakan ini, karena itulah janjinya kepada Aziz.

Karin terkejut.

Tak kalah terkejutnya abah dan ibu.

"Maksud nak Aziz?," abah seakan tak percaya ucapan pak Wisnu.

Mamih dan pak Brata menyimak dengan seksama.

"Aziz menceritakan semuanya kepada Wisnu, dia telah menikah setahun yang lalu, dengan wanita bernama Anah. Ibu mas Aziz yang selalu terngiang pesan suaminya, ingin sekali menjalin hubungan dengan keluarga abah. Memaksa mas Aziz untuk menikahi Karin sebagai istri kedua." Pelan-pelan pak Wisnu merangkai kata agar tak salah bicara.

"Kata mas Aziz, sebenarnya tidak tega menjadikan Karin istri keduanya. Tapi ibu mas Aziz selalu memaksa untuk menjalin silaturahim dengan Karin di saat mas Aziz libur. "

Abah hanya geleng-geleng kepala. Aziz memang tak pernah menceritakannya.

Karin masih diam.

Bingung apa yang harus dikatakannya.

Istighfar atau hamdallah.

Karin membayangkan, jika dirinya benar-benar menerima lamaran Aziz waktu itu. Ya Allah..., Bagaimana perasaan istrinya, Anah. Sedangkan Anah adalah sahabatnya dulu saat bersama Karin di Pesantren.

"Dan Wisnu pun ingin meminta maaf kepada Karin, abah dan ibu. Karena terlambat datang kesini." Lanjutnya lagi, menjelaskan kesalahfahaman dirinya mengartikan pembicaraan di Kantin, di hari terakhir Karin bekerja di Kantor.

Karin benar-benar tak percaya, ternyata pak Wisnu mendengar pembicaraan itu.

Ya ampuun.., duh pak Wisnu, yang begitu kok di anggap serius. Dalam hati Karin. Geli sendiri melihat pak Wisnu yang tak berhentinya meminta maaf.

Abah dan ibu tertawa, mendengar permohonan maaf pak Wisnu.

Mamih menyenggol lengan pak Brata, ikut menertawakan anaknya.

"Lalu, berapa kali nak Wisnu khatam tadarus Al-Qur'an selama sebulan?"

Suasana pun tiba-tiba tegang

Uhuk..
Uhuk..

Sepertinya abah ingin melihat perubahan yang dijanjikan pak Wisnu.

Mamih dan pak Brata, mulai pucat. Deg-degan.

Tak mengira anaknya mengajukan syarat hanya untuk menikahi pujaan hati.

Pak Wisnu terlihat santai. Berbeda saat kali pertama bertemu dengan abah Karin.

Karin ikut deg-degan.

"Alhamdulillaah... Saya targetkan untuk 1 juz 1 hari bah, dan dalam 30 hari saya sudah khatam."

Karin mengucapkan hamdallah dalam hati.

Ehem..
Ehem..

Mamih dan pak Brata agak terlihat berkurang deg-degannya.

Kira-kira apalagi yang ditanyakan oleh abah Karin ya. Pak Brata mulai menebak-nebak. Melirik istrinya.

"Wisnu juga sudah hafal juz 30 bah."

Nah, lho... Pak Wisnu malah menantang dirinya sendiri. Korban film atau infotainment. Hihi...

"Oh ya?," abah terlihat bersemangat menantilan hafalan calon menantunya.

Pak Wisnu mulai melantunkan Ta'awudz di lanjut dengan surat An-Naba. Dan terakhir surat An-Nas.

Karin terkesima. Pak Wisnu yang belum lulus baca Iqro, sekarang sudah menghafal juz 30. Wuih, salut deh pak. Hati Karin berbunga-bunga.

Pak Brata terlihat bangga melihat putranya.

Yang lain pun mengucap hamdallah.

****
Tok
Tok
Tok

"Assalamu'alaikum..," dari luar ruangan pintu dapur diketok.

"Ya, ada apa?," Lely langsung menyapa seseorang di luar ruangan. Padahal pintu terbuka lebar. Masuk aja kelees.., Lely menggerutu.

Seketika Lely bengong.

"Yaelah.., kok bengong sih Lel? Salam aku belum dijawab juga." Karin mencubit kedua pipi Lely.

"Eh, aku mimpi ya?," Lely mengucek-ucek matanya sendiri. Melihat Karin berdiri dihadapannya.

Karin Berbeda.

Selain bukan karena mengenakan baju Office girl yang dulu dikenakan, tapi Karin yang sekarang begitu terlihat sangat cantik. Berdandan rapih. Memakai gamis yang gak kampungan lagi. Jilbab pun tidak lecek seperti dulu, milik Karin.

"Rin, ini beneran kamu kan?," teriak Lely histeris. Berteriak. Membuat teman-teman yang lain mendekat, penasaran.

Pelukan lainnya bertubi-tubi datang mendekat. Memeluk Karin erat.
Ahh.., tak terasa aliran mata keluar, membasahi pipi Karin yang merah.
 Terharu.

"Rin, jangan - jangan kamu mau kasih undangan ya?,"
Mata lainnya ikutan terkejut.

Lely selalu tepat menebak aura wajahnya. Entah saat Karin sedang senang atau sedih saat bersama di tempat kost.

Karin hanya tertawa.

Sebuah undangan berwarna pink muda. Seperti pakaian yang Karin gunakan. Style Karin seperti artis CHintya Bella, dengan jilbab bermotif garis, tidak mencolok, namun membuat adem mata yang melihatnya.

Roni langsung membuka undangan tersebut. Tidak langsung dibacakannya, pasangan nama yang tertera paling atas. Roni hanya menyebutkan akad dan resepsi yang tertera disana.

"Waduh, Rin. Tega banget sih. Kok pas akad kita gak dikasih tau. Ini kan jadwalnya udah lewat. Padahal kita juga kan ingin melihat proses ijab Qabul itu." tanpa titik dan koma, Roni nyerocos panjang lebar. Menggerutu. Menyalahkan Karin.

"Yaelah, Ron. Udah untung diundang resepsinya. Itu juga udah bikin kita seneng banget kok Rin. Udah kamu gak usah dengerin Roni tuh. Dia iri kepingin nikah juga."

Ruangan terisi canda tawa para Office Girl dan Boy. Yang ikut bergembira.

"Oiya, suami kamu namanya siapa Rin? Kan kita belum kenalan.." Lely langsung menarik undangan dari tangan Roni.

Dibacanya dengan keras nama yang tertera diatas.

WISNU ARDHI BRATA.
What?

"Hah?, pak Wisnu?," Kompak sekali mereka kaget mendengar nama tersebut.

Keroyokan memeluk Karin, kecuali yang Office boy ya. Hihi...

Pertanyaan berkali-kali dilontarkan.
Karin yang tersenyum malu. Hanya bisa menggangguk pelan atau menggeleng. Sedikit berbicara.

Lely tambah terharu.
"Duh, patah hati deh aku Rin, kamu sama pak Wisnu." Roni meledek.
Semua pun tertawa.

Terlihat sosok lelaki datang, membuat semua terdiam.
"Rin, ayo kita makan siang dulu."
Ehem.. Pak Wisnu bikin iri teman-teman Karin.

"Duluan aja Mas, bentar lagi aku nyusul kesana ya!" Karin melemparkan senyum. Dirinya ingin mengobrol dengan Lely lebih lama.

"Okey, tapi jangan lama-lama ya!" Jawab pak Wisnu santai.

****
Sambil menunggu Karin di Kantin, tiba-tiba Claresta datang mendekat.

"Hai, Wis!" Claresta hendak cipika cipiki mendekat ke arah pak Wisnu.

Kini, kerudung yang digunakan Claresta lebih panjang sedikit. Ceritanya sih ingin bersaing dengan Karin.

Pak Wisnu mundur. Berpindah tempat.
"Wis, emang kamu gak kangen sama aku ya?. Beberapa hari kamu gak masuk kerja. Aku kangen banget." Nada manjanya Claresta mulai kambuh.

"Oiya, kebeneran aku juga cari kamu, Ta!"
Claresta mulai ke-ge-er-an.

Disodorkannya sebuah undangan, bertuliskan CLARESTA dan JANI.
Claresta kaget.

"Dari siapa ini Wis?," dibukanya undangan khusus yang dibuat oleh pak Wisnu untuknya.

"Buka aja, Ta!"
Claresta berteriak, lebih kencang dari teriakan Lely. Spontan saja pengunjung Kantin, yang karyawan semua pada melongo.

"Meila Karina Putri?, si Karin pembantu itu?." Claresta asal aja kalau berbicara.

Untung pak Wisnu cepat-cepat menahan emosinya.

"Ya, mbak panggil saya?," Karin tiba-tiba berada di belakang Claresta yang berdiri seperti patung. Claresta pura-pura menangis terisak.

Claresta pun pergi sambil menangis.
"Kamu jahat Wis." Berteriak sambil berlalu pergi meninggalkan Kantin.

Karin dan pak Wisnu tertawa. Lalu,  Keduanya makan Nasi Soto bersama. Para Karyawan yang meilhat, langsung memberikan ucapan selamat. Undangan sudah disebar ke seluruh karyawan. Termasuk Mekka, dirinya tak percaya melihat Karin yang dulu dekil dekumel, sekarang cantik bak artis Chintya Bella.

"Rin, eh,  maksud aku Bu Wisnu, selamat ya!" kata Mekka gugup.

"Aduh, mbak Mekka, panggil Karin saja ya mbak. Biar kita lebih akrab."
Mekka hanya menggangguk dan permisi pamit duluan.

Sedangkan pak Wisnu dan Karin masih asyik berbincang bersama. Merencanakan dan menyiapkan untuk hari yang akan datang.

***The End***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2