Pernikahan dengan Syarat#8

#Pernikahan_dengan_Syarat
#Part8
#Mudho_Wamah

Aziz yang tak ingin kalah saing dengan pak Wisnu, berusaha menjalin silaturahim dengan keluarga Karin. Ga tanggung-tanggung euy, dua minggu sekali selalu datang walau hanya sesekali berbincang.

Abah dan ibu pun terlihat begitu senang, pertanda bahwa Aziz benar-benar serius akan niatnya untuk menjalin ikatan tersebut. Karin sendiri pura-pura selalu sibuk saat Aziz berusaha mendekatinya. Tak ada getaran rasa ataupun jantung yang berdetak lebih cepat dibandingkan bertemu dengan pak Wisnu.

"Rin, mau aku antar ke TPA ?" Aziz menawarkan diri.

"Ga usah repot-repot ka, saya biasa berjalan kaki ke sana." Sebisa mungkin Karin menolak tawaran Aziz. Karena khawatir Aziz akan mengambil kesempatan untuk mendekati dirinya.

Ditolak seperti itu, tentu saja Aziz tak mundur begitu saja.

Beberapa kali bertemu merupakan kesempatan dirinya untuk mendekati Karin. Memenuhi wasiat terakhir mendiang ayahnya. Pak Narto. Meskipun Aziz tahu, bahwa dirinya mungkin tak akan bisa mendapatkan hati Karin sepenuhnya.

"Apakah tak ada tempat lagi Rin?" suara Aziz yang tiba-tiba membuat dirinya memandang wajah Aziz sejenak. Kaget. Tak percaya seorang Aziz akan berucap seperti itu.

Melihat Aziz yang duduk diam melihat ke arah langit ruangan. Mereka hanya duduk berdua di ruang tamu. Sepertinya abah dan ibu sengaja untuk membiarkan Aziz mengutarakan hal yang sudah lama dipendamnya.

"Maksudnya kak Aziz?" kata Karin pura-pura polos. Walaupun dirinya tahu, Aziz membutuhkan kepastian.

"Pasti kamu mengerti maksudku Rin. Huufft.. Aku hanya ingin sekedar memenuhi janji almarhum ayah. Ya, tidak lain menjalin ikatan ini." Suara Aziz terdengar serak.

Karin berfikir keras. Jawaban apa yang harus diberikan. Sudah enam bulan terlewati. Pak Wisnu yang ditunggunya pun tak kunjung datang juga. Sebenarnya dirinya menunggu. Menunggu pak Wisnu datang kembali.

Tapi lagi-lagi harapannya tak sesuai dengan kenyataan.

Haruskah aku menerimanya, ya Allah. Bisik Karin. Memejam mata sejenak. Terasa sesak.

"Rin?" Aziz menunggunya.

"Aku bingung Ka," Karin menjawab ragu.

"It's Okey. Aku ngerti. Aku cuma berusaha untuk membahagiakan semuanya Rin. Ayahku yang sudah tiada, ibu, abah dan ibumu. Terutama kamu. Hanya itu. Tapi aku ga punya apa-apa. Hanya seorang dosen biasa. Bukan juga dari keluarga kaya yang punya segalanya."

Hati Karin mulai meleleh.

Karin sangat mengerti maksud Aziz berkata seperti itu.

Niatan Aziz memang tulus. Ya, jujur saja membuat Karin kagum.

Prasangkanya selama ini salah! Berfikir bahwa Aziz mengusulkan resign dari tempat kerja milik pak Wisnu, hanya karena tak ingin kalah saing merebut hatinya.

Prasangkanya selama ini salah! Aziz yang selama ini difikirnya hanya sekedar ingin mencari simpati dari abah dengan beralasan wasiat almarhum ayahnya. Ternyata tulus menunggunya selama 6 bulan lamanya.

Aziz yang benar-benar memikirkan kondisi kesehatan Karin dan melihat kecemasan keluarga terutama ayah dan ibu yang selalu khawatir akan kondisi Karin yang bekerja di kota yang jauh di sana. Belum lagi kerjaan sebagai pegawai dapur kantoran cukup melelahkan fisik. Belum lagi lembur di kala pegawai yang lain bekerja hingga tengah malam.

Suasana hening.

Hanya peraduan bunyi Jangkrik dan Cicak menghiasi malam itu.

Bukan hal yang mustahil juga untuk menerima Aziz sebagai pendamping hidupnya. Toh, melihat abah dan ibu yang dahulu dijodohkan pun, mereka masih hidup rukun dan terlihat semakin harmonis. Cinta akan bersemi seiring dengan kaki yang senada melangkah diatas JalanNya. Iya kan?!.

"Apa karena Wisnu, Rin?"

Deg !

Wajah Karin tiba-tiba berubah.

Kali kedua Aziz benar-benar selalu tepat menebak isi hatinya.

Sungguh, tak ingin dirinya menyakiti hati Aziz.

"Emm.., bukan Kak. Bukan soal itu." Karin mengelak.

Udah Rin, terima aja tuh kak Aziz. Kasihan. Hiks hiks.

Aziz melihat jam di pergelangan tangan kanannya. "Sudah malam.." ucapnya pelan.

Dirinya sudah cukup berbicara dengan Karin.

"Aku pamit ya Rin,"

Karin yang tak tahu harus berkata apa, hanya mengangguk dan berkata pelan, "Iya kak."

Mengambang. Tak ada jawaban. Aziz pun memutuskan pulang. Berpamitan dengan abah dan ibu juga. Menancapkan motornya menelusuri jalanan desa yang tak beraspal. Dari kejauhan tampak Karin melihat punggung lelaki itu. Lelaki yang membuat hatinya semakin bimbang.

Haruskah dirinya yang harus berkorban?. Karin pasrah.

*****
Claresta pakai kerudung?#upz

Seluruh pegawai kaget.

Mata mereka tertuju pada gadis manja yang berlenggak-lenggok bak putri Indonesia melewati karpet merah di depan para penonton.

Senyumnya menebar pesona kaum lelaki di sana. Bagai bidadari turun dari pelangi. Pakai baju warna-warni. Celana coklat panjang dipadu dengan baju atasan kuning rumbai di bagian dada. Kerudung bermotif kuning diikat ke belakang, semakin membuat dirinya terlihat sangat mencolok. Membuat penasaran untuk dilihat.

Langkahnya tertuju pada ruangan itu.

Ya, ruangan siapa lagi?. Pasti ruangan pak Wisnu dong.

Mekka kaget luarbiasa. Pangling melihat Claresta.

Tanpa menyapa, langsung saja dirinya masuk ke ruangan tersebut.

"Hai, Wis.. Assalamu'alaikum..," nada manjanya di depan pak Wisnu, lagi-lagi membuat gerah.

Pak Wisnu hanya menjawab salam. Tak bergeming juga dari kursi kerjanya. Matanya tak lepas dari pandangan lembaran keetas yang menumpuk di meja.

Claresta langsung membanting tubuhnya di sofa tamu dalam ruangan.

"Wis..." Claresta memanggil sambil pura-pura membaca majalah yang diambil dari bawah meja.

Pak Wisnu diam.

"Wis, lihat aku dong!" Claresta mulai meninggikan nada suaranya.

Yaelah, Ta, ga usah bentak gitu dong!

Mau tidak mau pak Wisnu harus menghargai Claresta. Bukan karena mantan, tapi Claresta adalah sahabatnya saat kecil dulu.

"Ada apa Ta?"

"Aku udah bela-belain pakai kerudung begini. Masa kamu ga memuji aku sih," nada manjanya kambuh lagi.

Pak Wisnu malah geleng-geleng kepala. Senyum-senyum sendiri.

"Wis, ko kamu cuma senyum begitu, memangnya aku gak pantas ya berubah untuk kamu."

Ahh... Claresta kenapa bisa berfikir sejauh itu sih. Tapi bagus deh, barangkali nanti besok dirinya bisa bertambah jauh lebih baik lagi.

"Ta, kita berubah bukan karena seseorang, tapi dari sini." Pak Wisnu menunjuk ke arah dada. Hati maksudnya.

"Jika kita berubah hanya untuk manusia, maka semua akan sia-sia, Ta!" jelas pak Wisnu lagi.

Claresta semakin manyun. Yaelah, malah diceramahi lagi. Telinganya tiba-tiba panas. Rencananya bubar. Berfikir pak Wisnu akan kaget dan meliriknya lagi saat melihat dirinya mengenakan kerudung. Lagi-lagi hasilnya Nol. Tanpa pamit Claresta keluar dari ruangan. Kesal.

Pak Wisnu memijat-mijat keningnya yang mulai lelah. Kerja sampai malam cukup menguras energi. Belum lagi melihat Claresta yang makin hari makin gak jelas.

Tak lama kemudian, ponsel pak Wisnu berdering. Ditatapnya layar ponsel miliknya, tak tertera nama.

"Ya, hallo, Assalamu'alaikum..," pak Wisnu menyapa terlebih dahulu.

Lama terdiam. Tak ada jawaban.

"Hallo... Halloo..." pak Wisnu merasa aneh, mengencangkan suara. Khawatir masalah sinyal jadi tidak terdengar.

Tapi, tetap tak ada suara.

Kenapa hatinya tiba-tiba berdebar. Melihat ponselnya masih tersambung, dengan detik yang berjalan di layar ponsel.

"Halo... Dengan siapa ya?" pak Wisnu semakin penasaran.

Tiba-tiba terdengar suara itu dari seberang sana. Pak Wisnu kaget seketika.

"Ya.. Saya baik. Alhamdulillah..," suaranya kaku. Sungguh tak menyangka mendengar suara khas itu dari seberang sana.

"Ketemuan?" nada pak Wisnu agak serius.

"Baiklah, akan saya atur terlebih dahulu jadwal disini. Okey?" Wajah pak Wisnu pucat.

***Bersambung***

Terimakasih kepada teman-teman yang bersedia melipir kesini.😘

Ditunggu kritik dan sarannya.
Mohon maaf jika banyak kekurangan dalam tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2