Pernikahan dengan Syarat#7

Oleh : Mudho_Wamah

R E S I G N ?

"Rin, ini benar keputusanmu??", pak Wisnu seakan tak percaya. Senyumnya menyatakan keperihan.

Belum Karin menjawab pertanyaan pak Wisnu. Mba Mekka masuk ke dalam ruangan.

"Ada apa pak?,"

"Tolong segera urus ini ya!." Sambil memberikan surat pengajuan Resign milik Karin.

"Oiya Mekka, semuanya selesaikan hari ini juga ya!."

Karin masih membisu. Sekuat mungkin ditahannya airmata itu.

Ya, sedih bukan hanya karena akan berpisah dengan pak Wisnu, tapi bagaimana dirinya akan membiayai kuliah Marina. Gaji seorang guru TPA, pasti akan jauh berbeda.

Santai Rin, insyaa allah rejeki gak akan kemana!. Urusan rejeki semua Allah yang ngatur, iya kan pak?!.#ngarep pak Wisnu yang bayarin. Hehe...

"Terimakasih, kalau begitu saya pamit pak. Dan saya ucapkan mohon maaf jika selama bekerja disini, banyak hal yang tidak berkenan di hati bapak."

Suara Karin terbata saat mengatakannya.

"Atas segala kerja keras dan loyalitas yang selama ini diberikan, saya mewakili pak Brata mengucapkan banyak terimakasih." Ucap pak Wisnu datar sambil memainkan bolpoint untuk mengusir kegalauannya. Bersikap layaknya atasan.

Tak ada candaan ataupun kekonyolan pak Wisnu. Hari itu, benar -benar membuat keduanya diam membisu. Kaku.

Karin berjalan keluar ruangan. Berbalik membelakangi pak Wisnu. Airmata itu akhirnya tumpah juga. Tak terasa.

Ahh... Beginikah rasanya berpisah?!. Bathin Karin meringis.

****
"Rin, kenapa sih kamu resign segala?." tanya mbak Mekka penasaran, saat Karin baru saja keluar dari ruangan. Buru-buru airmata itu dihapusnya. Pura-pura kelilipan.

"Hehe..., ingin mencari suasana baru mba. Saya disuruh mengajar anak-anak ngaji di Desa."

Ahh, Karin.. Jadi benar ya, usulan Aziz waktu itu mempengaruhi abah dan ibu. Hiks..hiks...#mewek

Di dalam ruangannya, Pak Wisnu diam. Haruskah dirinya menghentikan keputusan Karin atau ikhlas melepaskannya. Sedangkan dirinya sudah sejauh ini melangkah benar-benar ingin serius menjalin hubungan tersebut. Ya, hubungan halal bernama Pernikahan.

Menjalin hubungan dengan seorang wanita biasa yang membuat hatinya terpikat. Seorang wanita biasa yang berasal dari desa. Seorang wanita biasa yang status sosialnya bukan menengah ke atas. Seorang Wanita biasa yang tak menarik untuk sebagian orang. Ya, Karin merupakan wanita biasa yang tak secantik Claresta, mantannya!. Berfikir untuk menikahi Claresta pun tak pernah terbesit dalam hatinya.

Bukan karena pak Wisnu yang tak bisa mencari Karin-Karin yang lain. Tapi ada hati yang tak bisa dialihkan dari wanita itu. Meila Karina Putri.

Tenang pak!, Cianjur kan deket... Hehe... Bisa nanti disusul kesonoh. Ya kan Rin?!.

Persetujuan Resign Karin pun dengan mantap ditandatangani pak Wisnu. Segala upah dan gaji yang harus dibayarkan selama bekerja disana. Sudah diurus oleh mbak Mekka ke bagian Administrasi.

Semangaat teruuus pak!!. Nanggung dua bulan lagi. Hihi...

*****
Untuk memenuhi janji Karin tadi pagi. Buru-buru memasuki Kantin saat jam istirahat tiba.

Upz, teman-temannya sudah menunggu disana. Eits, koq pada diem-dieman ya?!.

Dilihatnya teman-teman yang menunggu. Tak ada suara. Semua mata tertuju pada Karin.

"Jadi, kamu ternyata Resign Rin?", Tika sedih. Matanya tampak berkaca. Lely sahabat dekat Karin tak berbicara juga. Seperti pak Wisnu yang hanya diam membisu.

Karin menarik nafas panjang.

Kuatkan kaki ini ya Allah, untuk menjalani keputusan yang sudah ku buat. Gumam Karin dalam hati.

Senyumnya mengembang. Tak ingin hari terakhirnya di Kantor dipenuhi haru tangis teman-teman.

"Duh, Tika..., nanti kan aku kapan-kapan bisa main lagi kesini, emm...insyaa allah aku sering-sering silaturahim dan ketemu kalian deh...," Karin mengajak bercanda.

Ciyyeehhh...sekalian ketemu dengan pak Wisnu ya, Rin!.#upz

"Rin, jangan-jangan kamu ada yang melamar ya, dan disuruh berhenti bekerja oleh calon suami kamu itu." Celetuk Roni asal.

Yang lain berdehem. Ehem..ehem..

"Yaelah Rin, ga usah ditutupi deh, kalau emang bener begitu, kita kan ikut senang," Sambung Joni. Berusaha membantu Karin mencairkan suasana.

Uhuk...
Uhuk...
Dipojok ruang Kantin, ada yang tersedak saat menikmati kopi susunya. Telinganya aktif menangkap pembicaraan mereka.

Karin mengembangkan senyum, memeluk satu per satu.

"Yaudah, anggap aja deh aku ini mau dipingit. Jadi gak boleh kerja jauh-jauh." Karin tertawa, diikuti sorak sorai semua.

Satu per satu mengucapkan selamat bergantian.

Duuh... Rin Karin, ga perlu bohong begitu dong. Pak Wisnu denger dari pojokan tuh. Hadeeuhh....

Mereka pun menyantap makanan yang sudah disajikan. Turut senang mendengar Karin akan melangkah menuju ke pelaminan.

Fiiuuh...Jangan lagi-lagi bohong ya Rin!, dosa lhooo...

Karin tak sadar kalau pak Wisnu pun berada di sana. Ya, satu-satunya bos Kantor yang lebih memilih duduk di Kantin makan Nasi Soto, daripada duduk di Resto.

"Rin, jangan lupa undangan dikirim khusus untuk kita yaa...," Lely bahagia campur tangis haru melihat sahabatnya itu.

"Iya dong Lel..., tenang aja, undangan gak pake Kurir atau via Wa, nanti langsung aku yang kasih ke kamu. Insyaa allah." Karin tersenyum geli.

Teman lainnya penasaran dengan calon Karin. Berbagai pertanyaan muncul bersahutan. Belum lagi ledekan sebagai tanda keakraban mereka.

Nah lho Rin, senjata makan tuan deh. Hohoho... Pak Wisnu dipojokan, mengaduk-aduk Nasi Soto tanpa selera dan rasa kesal. PATAH HATI. Hahhaa...

*****
Pak Wisnu semakin hari tambah getol belajar ngaji. Kurun waktu lima bulan, sudah bisa mengaji juz 'amma. Sambil Tahfidz juga. Weeww...keren euy pak bos.

Dirinya terinspirasi salah satu peristiwa langka, calon suami yang diminta oleh calon istri untuk mengaji juz ke 30 tanpa melihat mushaf. Jadi bagian acara lamaran kurang lebih selama satu jam, digunakan untuk menunggu calon lelaki menyelesaikan hafalannya. Haha...pak bos ada-ada aja.

Claresta makin menjadi. Mendengar pak Wisnu masih jomblo, dirinya kerap kali bersikukuh mengejar pak Wisnu.

"Wisnu, makan yuk!." ajak Claresta saat memasuki ruangan pak Wisnu dengan tidak mengetok pintu terlebih dahulu.

"Sebelum masuk alangkah lebih baiknya mengucap salam dulu, Ta." pak Wisnu mengingatkan. Teringat Karin. Ehem...ciiyyeeehh....

"Iya deh iya, Assalamu'alaikum wisnu...," Claresta agak manyun. Melihat perubahan pak Wisnu. Jelas terlihat sangat berbeda seperti dulu.

"Wa'alaikumussalaam..."

"Sorry, Ta, aku masih banyak kerjaan yang gak bisa ditunda," sambungnya lagi mencari alasan.

"Ayolah...Wis, lagian makan bentar doang!," Bujuk Claresta manja. Sambil duduk di samping pak Wisnu. Menatap memelas.

Duh... Keganjenan banget sih Claresta. Ya kalau gak mau. Jangan dipaksa dong!!.#greget

Pak Wisnu pindah tempat. Menjaga jarak.

"Kamu kan bisa ajak Mekka atau lainnya, Ta." tampaknya pak Wisnu harus bersikap agak keras kepada Claresta. Sebelum tindakan-tindakan agresif lainnya yang tak diinginkan.

Tuh kan, bener!, Claresta deketin lagi. Duduknya dempetan lagi. Nempel kayak Lem fox.

Hey, Claresta!! Sadar diri dong, cewek harus jaga sikap.

"Ta, gini ya, sekarang kita kan cuma berteman. Jadi, please, gak usah paksa aku untuk turutin kemauan kamu," Pak Wisnu mulai bernada tinggi. Serius. Tanpa senyum.

Sabar pak!, tetap berkepala dingin, okey!. Semoga ini cewek sadar dikasih hidayah oleh Allah. Aamiin.

Claresta mulai mewek sendiri. Pura-pura sedih. Menyeka airmatanya yang keluar seumprit. "Tapi, aku mau kita balik kayak dulu Wis..."

Oh... No... No... No...

Balikan??
Hey, Claresta! Yang ninggalin pak Wisnu  kan situ duluan. Akhirnya pak Wisnu melarikan diri. Untungnya ketemu Karin. Jadi tobat deh.

"Aku udah punya pilihan sendiri, Ta!."

"What?," mata Claresta melotot. Bulu mata anti badainya hampir aja copot.hahaha...

"Siapa cewek itu Wis? Kamu tega sama aku Wis, aku bela-belain kamu." Claresta memegang lengan Wisnu sambil menariknya, mirip anak kecil yang minta permen.

Pak Wisnu keluar ruangan. Meninggalkannya sendirian. Gerah melihat Claresta. Melangkah ke musholla kantor. Mengambil airwudhu.

Huuuffftt..., wanita benar-benar ujian bagi kaum lelaki ya, pak!. Kudu kuat iman ngadepin orang kayak Claresta.

*****
Penasaran dengan pernyataan pak Wisnu, iseng-ideng Claresta menanyakannya kepada Mekka.

"Hadeeuh...aku penasaran banget sama cewek yang ditaksir Wisnu," Claresta mengambil kursi pegawai dan mulai bergosip mendekati Mekka.

"Maksudnya mbak?," Mekka bingung.

"Aku yang udah cantik kayak gini, ga dilirik sedikitpun sama Wisnu. Cewek kayak apa sih yang sekarang bikin Wisnu gak mau balik lagi sama aku." Claresta nyerocos ga ada titik, ga ada koma.

Mekka cuma bisa bengong mendengar curhatan Claresta.

"Kamu pasti tau kan Mekka, siapa saja yang sering main kesini?".

Mekka geleng kepala. Tanda tidak tahu.

Claresta merengut.

"Eh, tapi memang selama beberapa bulan ini, pak Wisnu berubah mbak. Jauh lebih alim. Sering jama'ahan di Masjid. Terus juga jarang marah-marah. Mbak Resta tau sendiri kan gimana marahnya pak Wisnu, ada salah dikit aja sama kerjaan pegawainya, ga ada ampun." Mekka menjelaskan panjang lebar.

"Beneran ga ada cewek yang main kesini?," nada Claresta agak tinggi. Merasa aneh.

Mekka pun berfikir keras.

Duh, duh, duh, Mekka... Mekka... Kamu mau aja diajakin ngegosip sama Nenek lampir (baca: Claresta).#ups

"Tapi mbak..., ada salah satu pegawai disini, yang memang sering diajak ngobrol dengan pak bos. Apalagimenyangkut tentang agama." Sambil berfikir Mekka ragu-ragu ingin mengatakannya.

"Siapa namanya, Ka?!," Claresta gak sabar.

"Ahh... Tapi gak mungkin dia deh mbak," Mekka kebingungan.

Kasih tau?
.
Enggak?
.
Kasih tau?.
.
Enggak?

Claresta terus mendesak Mekka yang sedari tadi bengong.

"Hey, Ka... Di dunia ini kan ga ada yang gak mungkin. Aku cuma pengen tau aja yang deket dengan Wisnu." Claresta makin serius.

Ahh..., tapi beneran deh, ga mungkin cewek itu Karin. Mekka mengusir jauh-jauh prasangkanya.

"Cepetan Mekka Widya Astuti..., kasih tau aku." agak memaksa.

"Namanya... Karin mbak."

"Haaahhh... Karin??," Claresta bengong.

****Bersambung****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2