Kekuatan Ajaib


Ketika itu umurku 13 tahun. Dengan tubuh kurus berwajah tirus, banyak yang mengatakan aku mirip sekali dengan wajah ayahku. Aku yang beranjak ABG alias anak baru gede, sangat senang sekali melakukan petualangan. Walaupun aku baru menginjak kelas 1 setara SMP namun jiwa berpetualang itu seakan mendarahdaging dalam diriku.

Aku tidak memiliki ayah, tapi hidupku terasa sempurna. Memiliki keluarga yang selalu mendukung segala keputusanku, itulah salah satu anugerah yang begitu luarbiasa. Saat aku lulus SD, aku memaksa ibuku untuk memberikanku kebebasan memilih SMP yang aku inginkan.

Dan entahlah, aku seperti memiliki kekuatan ajaib, ibu yang tak memiliki uang, ditambah pula ibuku yang single parent dengan pekerjaan yang pas-pasan seakan menjadi kemustahilan bahwa aku akan masuk sekolah swasta.

Tapi faktanya, aku berhasil masuk sekolah SMP elite di tengah kota. Jika bayaran SMP negeri waktu itu hanya Rp.20.000, maka sekolahku tiga kali lipat dari itu.

Tidak sampai disitu, bukti kalau aku memiliki kekuatan 'ajaib' adalah saat kupandangi foto Candi Borobudur di dalam sebuah buku sejarah yang aku pelajari saat itu. Diceritakan bahwa bangunan tua tersebut dibangun pada zaman Dinasti Sailendra antara tahun 780-840M. Yang membuat aku penasaran, struktur bangunan yang kotak memiliki empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran.

Waah... bagaimana bentuk aslinya ya? Pasti menakjubkan. Fikirku dalam angan.

Kekagumanku pada salah satu keajaiban dunia itu membuat aku tak sadar bahwa seseorang memanggilku.

"Meeiilaa... Meeii... Sadaarr...." Teriak Dara tepat di telangiku.

Sontak saja aku kaget dibuatnya.

"Apa siih... Ganggu orang mengkhayal aja," Balasku tak kalah kencang.

"Ahh... Pasti otak udah error tuh. Mengkhayal ampe ke Candi segala." Ledek Dara.

Aku cuma nyengir sampai gigi taring sebelah kanan dan kiri terlihat sempurna. Dara malah menutup wajahku dengan buku sejarah tersebut. Segera ku tangkis balik membalas serangan Dara. Menutup mukanya, sambil tertawa bersama.

"Yaelah Ra, membentuk ukiran impian itu kan gak salah. Barang kali aja aku beneran kesana." Telunjukku menuding Candi Borobudur yang berdiri kokoh.

"Tapi mimpi pergi kesana itu ketinggian Mei, lha wong ke bangunan Banten aja gak pernah kan?"

"Hehe... Iya juga sih. " aku cengengesan. Sambil berdoa, "Ya Allah, semoga Meila Karina Putri bisa kesana, ga apa-apa kapan-kapan aja. Jalan-jalan keliling dan naik tangga Candi Borobudur. Aamiiiin...."

Dan Dara puas tertawa mendengar do'a itu.

**
Seperti biasa setiap sebulan sekali, aku berkunjung ke rumah bibiku, Bi Tuti. Hal ini untuk mengobati rasa rindu kami kepada ayah yang setahun sudah meninggalkan kami. Daerah Kebondalem yang terletak di kecamatan Purwakarta kota Cilegon, kampung halaman ayahku.

Tidak hanya satu atau dua kerabat disana, hampir seluruh kampung masih terikat hubungan kekeluargaan. Dan saat ku menginap di rumah Bi Tuti, tiba-tiba bibi menyerahkan tiket Bus.

"Apa ini, Bi?" tanyaku sambil membolak-balikkan tiket.

"Tanggal 20 minggu depan berangkatnya. Siap-siap aja nanti bawa baju yang banyak."

Mataku terbelalak.
Ya ampuunn.... Tiket menuju Jogjakarta.

Benar kan?!
Sekarang kalian percaya kan?!
kalau aku punya kekuatan 'ajaib'.
Hanya dengan membayangkan dan berdoa, langsung menjadi kenyataan.

Persis seperti saat aku memandangi Candi itu. Seperti nyata dihadapanku. Dan minggu depan, aku dan Bi Tuti pergi kesana. Tak lupa kami berencana menginjakkan kaki ke bangunan tua itu. Ya, Candi Borobudur yang menggoreskan sejarah. Candi Borobudur keajaiban yang terletak di Indonesia.

Dan tahukah kalian?
Masing-masing kita pun memiliki keajaiban. Kekuatan ajaib yang sering terlupakan terlupakan. Berdo'a kepadaNya.

**The End**

#ODOPNovemberChallenge
#Day1
#FiksihanyaFiksi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2