Cerita Rika
"Bu...." pelan-pelan aku mendekati ibu.
"Kamu ngapain disini, Ka?," Nada ibu terdengar agak kesal.
Ibu sibuk dengan berbagai macam bahan dagangan nanti sore.
"Ini..." Kusodorkan lima buah sedotan sambil tertawa senang. Tapi ku lihat ekspresi ibu marah luarbiasa.
"Aduuh...kamu jorok banget Rika, sana buang di tempat sampah. Terus jangan lupa cuci tangan. Sedotan kotor malah diambil." Suara ibu agak meninggi. Membuatku tertunduk lemas dan ketakutan, tiap kali ibu memarahiku.
Entahlah, mengapa kemarahan ibu selalu saja mendarat ke arahku. Padahal yang aku inginkan, ibu bisa membuatkan sedotan panjang seperti milik Tika.
Kemarin saat Tika bangun tidur dan menangis minta digendong, dengan cepat ibu mengambil langkah panjang dan buru-buru. Beberapa sedotan digabung menjadi satu, berbentuk dan berwarna-warni. Ya, aku ingat, sama seperti bentuk yang bu Laras ajarkan, mirip seperti persegi, segitiga, persegi empat dan juga bentuk lainnya, yang aku tak tahu apa namanya.
Dengan sedotan itu, berhasil membuat Tika diam dan menjadikan sedotan sebagai mainan Tika yang baru.
Jika Tika menangis, ibu selalu siap datang menggendong, bermain Ci Luk Ba, sambil tertawa gembira. Aku teringat beberapa hari yang lalu, aku pura-pura menangis karena rambut barbie milikku rontok. Tapi ibu malah memarahiku.
"Kamu kan udah gede, Ka. Udah diem. Ga usah cengeng. Malu sama orang-orang."
Ibu selalu berkata begitu.
Aku bukan anak yang cengeng, Bu.
Aku hanya ingin barbie yang punya rambut panjang seperti milik Anggi, temanku.
Kadang aku lebih memilih bermain diluar, bersama teman-temanku. Beberapa kali bermain di rumah Anggi, hingga sore hari. Tapi entah mengapa ibu marah lagi kepadaku.
Yang ku ingat hanya perkataan ibu, "Jangan membuat ibu capek, Rika."
Aku tak mengerti maksudmu, Bu. Aku hanya sekedar bermain dengan Anggi. Karena di rumah, aku merasa sepi, walaupun ada Tika. Tapi Tika belum bisa ku ajak bermain, karena ibu tidak mengizinkan aku menggendong Tika.
Pernah suatu ketika Tika jatuh, saat Tika menangis dan akupun menggendongnya. Saat itu, ibu sangat marah. Ibu malah diam, saat ku ajak berbicara.
Bu, apa Rika salah jika menggendong Tika?.
*****
Disekolah, entahlah mengapa aku selalu kurang bersemangat belajar. Terasa mengantuk saat bu guru menjelaskan atau mengerjakan soal-soal di sebuah buku tebal milik sekolah. Satu lagi, aku pun tidak senang saat belajar membaca. Walaupun kata bu guru, aku harus banyak belajar membaca.
Pernah kusampaikan pada ibu, perkataan bu guru.
"Bu, kata Bu Laras... Rika harus banyak belajar baca, biar Rika bisa baca. Kalau ga bisa baca, Rika nanti gak bisa naik ke kelas 4. Ini buku yang dikasih bu Laras."
Tapi ibu tak membalas ucapanku. Kulihat ibu sedang berfikir. Entah apa yang ibu fikirkan.
Nalun, suara tangisan Tika terdengar kencang dari dalam kamar, lagi-lagi mengacuhkanku lagi.
Ibu pergi ke kamar dan keluar sambil menggendong Tika. Memberikan dot yang berisi susu putih.
"Kamu belajar sendiri ya Tika, lihat sendiri kan ibu sudah repot. Atau kamu belajar sama ayah aja sana." Sambil mengayun-ayun Tika dalam gendongan, ibu tampak kelelahan.
Andai aku menjadi Tika, pasti ibu akan selalu mencium dan menggendongku.
Aku pergi ke teras depan, menghampiri ayah yang sedang berjaga menunggu pembeli. Ya, disini banyak sekali pembeli yang datang. Katanya nasi goreng buatan ayah dan ibu sangat enak.
Apalagi saat malam hari, kadang ibu membantu ayah melayani para pembeli. Warung tutup saat larut malam. Pernah sesekali ku tengok jam dinding, jarum panjang tepat di angka 1 dan jarum panjang di angka 3. Kadang aku pun ketiduran saat ibu sibuk membungkus nasi gorengnya.
"Ayah, ini kata bu Laras suruh baca buku yang ini." kubuka lembar demi lembar buku tersebut. Buku tersebut berjudul 'Bacalah 1'. Sengaja ku bolak-balikkan, agar ayah melihatku semangat ingin membaca buku.
"Duh, ayah lagi capek Rika. Sana sama ibu aja belajar di kamar." Jawaban ayah lagi-lagi begitu.
Ku lirik Hape yang tergenggam ditangan ayah, sangat serius sekali ayah melotot di depan layar kecil itu. Tapi kuurungkan niatku untuk mengganggu ayah, mungkin ayah sibuk.
Malam ini gagal lagi untuk belajar membaca. Tapi biarlah, toh masih ada esok. Nanti aku akan belajar dan bermain bersama dengan ibu saat Fika tidur.
Aku naik ke atas ranjang. Meraih bantal guling kesukaanku. Bantal berwarna pink muda, sebagai pengganti rasa kangen ketika ibu memelukku saat tidur. Entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat rindu pelukan ibu. Tapi aku tidak boleh cengeng. Kata ibu aku sudah besar.
Kupejamkan mata, namun tak bisa membuatku tertidur juga. Suara ramai didepan, pasti pembeli yang sedang kelaparan menunggu nasi goreng buatan ayah. Lampu kecil yang menghiasi kamar seolah menemaniku ikut terjaga, menunggu ayah yang masih melayani pembeli di depan.
Nafasku agak sesak. Sudah lama batuk ini mengganggu tidurku. Tak enak menghadap ke kanan, aku pun berbalik ke arah jendela di sebelah kiri. Tapi batuk ini tak kunjung pergi. Tidak enak juga, aku pun berputar balik, tidur terlentang, agar nafas sesak yang kurasakan agak berkurang.
Terdengar suara cengkrama ibu dan ayah di depan. Aku pun keluar membuka pintu. Dengan cepat mataku mengelilingi ruang depan. Warung sudah tutup. Ku mencoba mendekati ibu.
"Bu, badan Rika sakit." Keluhku pada Ibu.
"Coba sini ibu pegang!"
Ibu meletakkan tangannya di keningku.
"Ah, ga panas. Udah kamu tidur sana. Nanti besok kesiangan veenagkat sekolah. Nanti ibu lagi yang ditegor bu Laras."
"Uhuk...uhuk...." Sambil menutup mulut, ku tahan sakitnya batuk yang selalu kambuh di malam hari.
"Kalau tidur bawa minum, biar kalau batuk tinggal ngambil sendiri. Kamu kan udah gede, ga usah minta ibu yang ambilkan minum. Ibu juga takut adek kamu lagi tidur malah terbangun malam-malam. Cape Rik, masa' pagi siang malam ibu kerja."
Aku meninggalkan ibu yang masih berbicara sendirian. Mengambil airminum dan masuk menutup pintu kamar.
***bersambung***
"Kamu ngapain disini, Ka?," Nada ibu terdengar agak kesal.
Ibu sibuk dengan berbagai macam bahan dagangan nanti sore.
"Ini..." Kusodorkan lima buah sedotan sambil tertawa senang. Tapi ku lihat ekspresi ibu marah luarbiasa.
"Aduuh...kamu jorok banget Rika, sana buang di tempat sampah. Terus jangan lupa cuci tangan. Sedotan kotor malah diambil." Suara ibu agak meninggi. Membuatku tertunduk lemas dan ketakutan, tiap kali ibu memarahiku.
Entahlah, mengapa kemarahan ibu selalu saja mendarat ke arahku. Padahal yang aku inginkan, ibu bisa membuatkan sedotan panjang seperti milik Tika.
Kemarin saat Tika bangun tidur dan menangis minta digendong, dengan cepat ibu mengambil langkah panjang dan buru-buru. Beberapa sedotan digabung menjadi satu, berbentuk dan berwarna-warni. Ya, aku ingat, sama seperti bentuk yang bu Laras ajarkan, mirip seperti persegi, segitiga, persegi empat dan juga bentuk lainnya, yang aku tak tahu apa namanya.
Dengan sedotan itu, berhasil membuat Tika diam dan menjadikan sedotan sebagai mainan Tika yang baru.
Jika Tika menangis, ibu selalu siap datang menggendong, bermain Ci Luk Ba, sambil tertawa gembira. Aku teringat beberapa hari yang lalu, aku pura-pura menangis karena rambut barbie milikku rontok. Tapi ibu malah memarahiku.
"Kamu kan udah gede, Ka. Udah diem. Ga usah cengeng. Malu sama orang-orang."
Ibu selalu berkata begitu.
Aku bukan anak yang cengeng, Bu.
Aku hanya ingin barbie yang punya rambut panjang seperti milik Anggi, temanku.
Kadang aku lebih memilih bermain diluar, bersama teman-temanku. Beberapa kali bermain di rumah Anggi, hingga sore hari. Tapi entah mengapa ibu marah lagi kepadaku.
Yang ku ingat hanya perkataan ibu, "Jangan membuat ibu capek, Rika."
Aku tak mengerti maksudmu, Bu. Aku hanya sekedar bermain dengan Anggi. Karena di rumah, aku merasa sepi, walaupun ada Tika. Tapi Tika belum bisa ku ajak bermain, karena ibu tidak mengizinkan aku menggendong Tika.
Pernah suatu ketika Tika jatuh, saat Tika menangis dan akupun menggendongnya. Saat itu, ibu sangat marah. Ibu malah diam, saat ku ajak berbicara.
Bu, apa Rika salah jika menggendong Tika?.
*****
Disekolah, entahlah mengapa aku selalu kurang bersemangat belajar. Terasa mengantuk saat bu guru menjelaskan atau mengerjakan soal-soal di sebuah buku tebal milik sekolah. Satu lagi, aku pun tidak senang saat belajar membaca. Walaupun kata bu guru, aku harus banyak belajar membaca.
Pernah kusampaikan pada ibu, perkataan bu guru.
"Bu, kata Bu Laras... Rika harus banyak belajar baca, biar Rika bisa baca. Kalau ga bisa baca, Rika nanti gak bisa naik ke kelas 4. Ini buku yang dikasih bu Laras."
Tapi ibu tak membalas ucapanku. Kulihat ibu sedang berfikir. Entah apa yang ibu fikirkan.
Nalun, suara tangisan Tika terdengar kencang dari dalam kamar, lagi-lagi mengacuhkanku lagi.
Ibu pergi ke kamar dan keluar sambil menggendong Tika. Memberikan dot yang berisi susu putih.
"Kamu belajar sendiri ya Tika, lihat sendiri kan ibu sudah repot. Atau kamu belajar sama ayah aja sana." Sambil mengayun-ayun Tika dalam gendongan, ibu tampak kelelahan.
Andai aku menjadi Tika, pasti ibu akan selalu mencium dan menggendongku.
Aku pergi ke teras depan, menghampiri ayah yang sedang berjaga menunggu pembeli. Ya, disini banyak sekali pembeli yang datang. Katanya nasi goreng buatan ayah dan ibu sangat enak.
Apalagi saat malam hari, kadang ibu membantu ayah melayani para pembeli. Warung tutup saat larut malam. Pernah sesekali ku tengok jam dinding, jarum panjang tepat di angka 1 dan jarum panjang di angka 3. Kadang aku pun ketiduran saat ibu sibuk membungkus nasi gorengnya.
"Ayah, ini kata bu Laras suruh baca buku yang ini." kubuka lembar demi lembar buku tersebut. Buku tersebut berjudul 'Bacalah 1'. Sengaja ku bolak-balikkan, agar ayah melihatku semangat ingin membaca buku.
"Duh, ayah lagi capek Rika. Sana sama ibu aja belajar di kamar." Jawaban ayah lagi-lagi begitu.
Ku lirik Hape yang tergenggam ditangan ayah, sangat serius sekali ayah melotot di depan layar kecil itu. Tapi kuurungkan niatku untuk mengganggu ayah, mungkin ayah sibuk.
Malam ini gagal lagi untuk belajar membaca. Tapi biarlah, toh masih ada esok. Nanti aku akan belajar dan bermain bersama dengan ibu saat Fika tidur.
Aku naik ke atas ranjang. Meraih bantal guling kesukaanku. Bantal berwarna pink muda, sebagai pengganti rasa kangen ketika ibu memelukku saat tidur. Entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat rindu pelukan ibu. Tapi aku tidak boleh cengeng. Kata ibu aku sudah besar.
Kupejamkan mata, namun tak bisa membuatku tertidur juga. Suara ramai didepan, pasti pembeli yang sedang kelaparan menunggu nasi goreng buatan ayah. Lampu kecil yang menghiasi kamar seolah menemaniku ikut terjaga, menunggu ayah yang masih melayani pembeli di depan.
Nafasku agak sesak. Sudah lama batuk ini mengganggu tidurku. Tak enak menghadap ke kanan, aku pun berbalik ke arah jendela di sebelah kiri. Tapi batuk ini tak kunjung pergi. Tidak enak juga, aku pun berputar balik, tidur terlentang, agar nafas sesak yang kurasakan agak berkurang.
Terdengar suara cengkrama ibu dan ayah di depan. Aku pun keluar membuka pintu. Dengan cepat mataku mengelilingi ruang depan. Warung sudah tutup. Ku mencoba mendekati ibu.
"Bu, badan Rika sakit." Keluhku pada Ibu.
"Coba sini ibu pegang!"
Ibu meletakkan tangannya di keningku.
"Ah, ga panas. Udah kamu tidur sana. Nanti besok kesiangan veenagkat sekolah. Nanti ibu lagi yang ditegor bu Laras."
"Uhuk...uhuk...." Sambil menutup mulut, ku tahan sakitnya batuk yang selalu kambuh di malam hari.
"Kalau tidur bawa minum, biar kalau batuk tinggal ngambil sendiri. Kamu kan udah gede, ga usah minta ibu yang ambilkan minum. Ibu juga takut adek kamu lagi tidur malah terbangun malam-malam. Cape Rik, masa' pagi siang malam ibu kerja."
Aku meninggalkan ibu yang masih berbicara sendirian. Mengambil airminum dan masuk menutup pintu kamar.
***bersambung***
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini