Semangat Catering maaak !!!!


Pukul 16.15 ketika kami sedang berkumpul mengobrol santai aktifitas yang dijalani. Hanya aku, suami dan teteh Alya. Fahmi dan Fakhri sudah berangkat sekolah sore atau TPA.

Kutanyakan pada teteh Alya, bekal yang tadi dibawa. Ada sisa atau tidak.
"Wuah, kayaknya bekalnya enak ya teh", tanyaku pakai jurus Komprod 'mengganti kalimat interogasi dengan peenyataan observasi.
"Abis mi...", jawabnya singkat.

Setelah kuberitahukan bekal untuk besok, ternyata teteh Alya sudah ada rencana catering di sekolah. Padahal ikan yang kusiapkan hari ini, sengaja disiapkan untuk bekal sekolah juga.

"Besok, aku catering yah mi...", nada teteh setengah merayu 😚😚😚#uhuk.
Waduh, rencana kantong hemat ga jadi nih (ngomong dalam hati).
"Lebih enak bawa dari rumah lho tehh...", suami langsung menyahut.

Upz...teteh Alya agak kecewa.
"Kalau kita bawa bekal sendiri, bisa untuk menabung uang cateringnya", kucoba jelaskan pelan-pelan tanpa paksaan. Melatih teteh Alya mencoba berfikir jauh ke depan. Ingat point komprod yang D πŸ‘‰ Fokus ke depan, bukan masa lalu. Jangan sampai ada pembahasanku tentang keuangan yang akan kebobolan gara-gara catering. Hehe....😝😝😝

Beberapa hari ini memang ku coba usahakan tidak lagi membeli makanan matang di luar. Setelah beberapa bulan membeli di luar, membuat dompet kebobolan. Butuh strategi baru. Iyeess....belum lagi harian catering yang lumayan juga. Finally, akupun mulai membiasakan belanja dan membuat kandang waktu memasak. Antusias teteh Alya untun membantu didapur, menjadi penambah semangat juga. Walaupun hanya sekedar goreng-goreng dan aduk-aduk bahan.

It's okey .... Teteh sedang berfikir sejenak. Matanya terlihat bersemangat saat ku ucap kata 'menabung'.

"Coba yuk kita hitung, kira-kira sebulan catering 300ribu, nah beberapa bulan lagi uangnya bisa teteh belikan apa yah....oiyah...kan teteh butuh kasur", kataku sambil mencoba membuat komunikasi yang produktif. Yah tentu saja, membuat bocah kelas 2 SD ini memang diperlukan sebuah komunikasi  yang 'pas', mengajaknya berfikir lebih cermat lagi dan tidak kebablasan konsumtif.

Sebagai orangtua pun harus benar-benar menimbang segala keputusan yang akan diambil (baca: jangan kayak saya yang konsumtip yak 😝), karena akan berdampak untuk anak-anak ke depannya. Yah, memang catering adalah hal sepele. Namun, selagi kita bisa mendidik mereka menjadi produktif dengan cara memasak sendiri, hal ini dirasakan akan jauh lebih baik daripada mengajarkan mereka menjadi anak yang Sebali (SEmua serBA beLI...).πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Diskusi alot pun terjadi.
"Tapi teteh mau-nya catering", krik..krik.. Tetap pendirian. Nah lho...hasil didikan selama ini konsumtif ternyata terbukti. 😱😱😱 emak-emak galau tingkat dewa. #lebayπŸ˜‘

"Iya ga apa-apa kalau sesekali", jawabku buntu. Masih pakai senyum dan nada ramah lho...hehe....

Masih belum ada jawaban pasti dari teteh Alya. 😒😒

Ingat !!!! Point Komprod.
Berikan pilihan. Nah, ini lupa point berapa. Sebentar...cek dulu yah di contekan.

Iyeess....point K πŸ‘‰ Ganti perintah dengan pilihan.

" Oh ya sudah kalau mau setiap hari catering ya ga apa-apa teh.... Nanti kalau teteh ga ada tabungan beli kasur ga apa-apa yah", sambungku lagi menyemangati. Nada masih Keep Calm koq...hihiy...kan inget lagi komProd.

Semua pasti butuh proses, untuk benar-benar menjalani komunikasi produktif ini.

Tanpa disangka-sangka, jawaban teteh Alya pun diluar dugaan.
Awalnya semangat Catering, sekarang semangat Bekal. Baik bekal Snacktime ataupun Lunch di sekolah.

Baiklaaah.....seeepaaakaat...kita ganti judulnya 'Semangat Catering' dhari rumah...hehe...😘😘😘

Alhamdulillaahirobbil 'alamiiin....
Langkah awal tuk menapaki cara mendidik mereka untuk menjadi manusia yang produktif, bukan konsumtif.
Semoga Allah selalu berkenan menunjuki kaki ini kemana ia harus melangkah. Aaamiiin yaa robbal'alamiin...
😍😍



#harike7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2