Sayang Keluarga


Awalnya masih agak ragu untuk menunjukkan buku-buku bacaan yang berkualitas kepada anak-anak. Karena anak-anak merasa kurang suka jika didalam buku tidak ada gambar yang menarik. Hihi....bagaimana dengan teman-teman??, suka berfikiran begitu juga ga sih?? 😂.

Dan kali ini....
Aku sebagai orangtua harus menggeser fikiran-fikiran negatif tersebut, mengubahnya menjadi fikiran yang positif.
Karena...
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka pemilihan kata kita juga akan negatif. Begitupun sebaliknya. (kutipan dari E-Book Komunikasi Produktif).

Yaahhh...modal bismillah, langsung ku ambil buku-buku yang cocok untuk mereka.

Tiga buku sekaligus kubawakan saat anak-anak sedang asyik belajar menulis. Gembira, Zakat, dan judul satu lagi Nabi Sayang Keluarga. Nah, buku yang ketiga sepertinya cocok sekali dengan kondisi anak-anak yang lagi 'nge-tren' ngambek-ngambekan.

Kalau kemarin masih ku gunakan kalimat perintah, seperti :
" Teteh Alya...dede...aa....baca bukunya...bla..bla...bla....." (sambil teriak kenceng-kenceng..hehe...). Dan respon mereka ogah-ogahan. Lebih memilih kotak ajaib daripada buku bagus ini.

Nah, mulai sekarang ku terapkan point KomProd 'Kendalikan Intonasi suara dan Gunakan suara ramah'.
Hihi...harusnya pakai audio biar lebih meyakinkan yah mbak facil..😝


"Aa-dede mau baca buku yang mana??", tanyaku pakai nada ramah.
"Ini mi", aa menunjuk buku tipis dengan cover bergambar monyet. Hihi....dede pun lebih senang dengan gambar hewan.

G-E-M-B-I-R-A.
Satu persatu huruf kami baca. Diikuti kecadelan si kembar. Didalam buku tersebut terdapat seekor monyet yang dipanggil momo sedang melakukan berbagai aktivitas, disertai dengan ekspresi gembira. Lembar demi lembar memang berhasil dibaca, tapi tidak ada yang membekas.

Buku kedua. Nabi Sayang keluarga, Judulnya.
Mulai kubaca dengan suara agak keras. Mereka tak merespon. Saat melihat gambar bayi yang bernama Ibrahim, yang juga putra nabi Muhammad saw, mata anak-anak langsung fokus memperhatikan gambar. Kubuka rasa empati mereka melalui gambar bayi tersebut.
"Wuah....Ibrahim anaknya nabi Muhammad, meninggal pas masih bayi. Tapi pasti Ibrahim masuk syurga yah",
Sahutan tanya jawab tentang keluarga nabi terlontar dari bibir anak-anak. Yang lebih menarik lagi saat anak-anak tak sabar membaca bagian berikutnya. Siapa lagi ya yang disayangi oleh nabi?.

Di tengah bercerita, ku lontarkan pertanyaan.
"Dede sayang umi?',
Iya
"Sayang abi?", mengangguk.
"Sayang teteh dan aa??",
Dede pun mengiyakan.

Pertanyaan berganti ke arah Fahmi.
"Kalau aa, sayang umi-abi??", tanyaku. iyesss aa mengangguk.
"Sayang teteh??", geleng-geleng. 😮 waduh...(tepok jidat).
"Aa kan sering main bareng teteh, berarti aa sayang teteh seperti nabi sayang ke anaknya, cucunya juga kucingnya".

Jawaban aa Fahmi tetap menggeleng.
Waduh, kenapa bisa tidak sayang ya. Fiiuuhhh.....ternyata masih membekas saat teteh Alya dan aa Fahmi saling tonjok dan pukul memukul.

Tidak cukup observasi sampai disini. Alih-alih aku mengingatkan kebaikan teteh Alya di depan aa Fahmi.
"Kalau teteh Alya sayang aa Fahmi, kan sering berbagi kue-kue", tambahku lagi agar komunikasi antara kami tetap berjalan produktif.

Tak lama kemudian, teteh Alya pun menyahut juga kalau tidak sayang aa Fahmi karena sering kena tonjok dan pukul. Mirip film kartun robot.

Baiklah....
Tariiik naafaaas dulu.
Pelan-pelan kualirkan kata-kata positif, sambil menunjuk gambar ilustrasi, orang-orang yang disayangi nabi. Sepertinya memerlukan komprod yang ekstra antara teteh dan aa. Walaupun belum 100% berhasil, namun ada tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Untuk menumbuhkan komunikasi kasih sayang di antara kita semua. Ingin mengatakan rasanya 'sulit' untuk tantangan ini, teringat materi kemarin, kata 'sulit' diganti dengan kata 'insyaa Allah mudah'. Bismillaah.... Allah yang memudahkan semuanya. 😆

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2