Pernikahan dengan Syarat#5

#Pernikahan_dengan_Syarat
#Part5
#Mudho_Wamah

***Jika seorang Fatimah saja mampu memendam rasa ini
***Maka kuatkanlah aku seperti itu
***Jika sang Ali saja mampu memendam rasa yang sama
***Maka kuatkanlah kami berjalan di atas jalanMu
***Jagalah hati kami dan jangan ada yang saling menodai

~Karin_26092018~

Untaian kata diukir Karin dalam buku diary miliknya. Berwarna ungu muda, dengan list di bagian kanan berwarna pink. Tepat di cover depan tertulis nama, Meila Karina Putri.

*****
Fikirannya menerawang. Saat abah mengajukan pertanyaan kepada Karin.

"Rin, bagaimana menurutmu?, jika ada seorang lelaki, akhlaknya dan ilmu agamanya juga bagus. Berniat menikahi seorang wanita".

"Ya bagus dong bah, berarti wanita tersebut beruntung, karena akan memiliki calon imam yang bisa membawa rumah tangga di jalan yang lurus. Biar ga belok-belok. Hehe...", jawaban Karin asal. Tidak tahu maksud abah bertanya seperti itu.

"Alhamdulillah, kalau begitu. Berarti kamu sudah dewasa Rin. Begini, tahun lalu, Pak Narto ingin sekali keluarga kita bertambah dekat, semacam ada ikatan", hati-hati sekali abah membicarakan ini kepada Karin.

"Maka, beliau ingin anaknya menikah dengan kamu. Yah, semacam keinginan terakhir pak Narto". Sambung abah.

Uhuk...uhuk....
Karin tersedak saat memakan singkong rebus yang dicampur ampas dan gula. Diambilnya airputih dan langsung meminumnya sampai habis.

"Sama Karin bah??", mata Karkn melotot.

"Kenapa abah gak tanya Karin setuju atau gak". Protes Karin.

Agak kesal dengan keputusan abah, tapi Karin memendamnya. Sekesal apapun Karin, jangan sampai ada kata-katanya yang melukai hati abah.

Abah pun sudah terlanjur mengundang Aziz, untuk berkenalan langsung dengan Karin. Begitu pun dengan Karin, sudah terlanjur menuliskan surat berisi alamat rumahnya kepada pak Wisnu.

*****
Dan kini, dua lelaki tersebut benar-benar hadir dihadapan Karin.

Ya, yang satu....Lelaki yang kata abah sholih. Sopan dan santun terjaga. Terlihat dalam dirinya, taat dan patuh kepada orangtua. Bersahaja dan ramah juga. Aziz.

Yang satu lagi, memang sering membuat Karin kesal. Belum termasuk kategori lelaki sholih, karena Karin sudah mengenal dirinya. Belajar Iqro saja belum lulus. Tapi perubahan dalam dirinya, menunjukkan kesungguhan dan keseriusan. Pak Wisnu.

Suasana hening.
Ya, begitu hening. Semua menunggu jawaban Karin.

Aziz yang baru saja melihat Karin. Ikutan pak Wisnu. deg-degan.

"Bah...sebenarnya... emmm ... Karin.. ", ahh seolah suara Karin tak bisa keluar. Karin menghela nafas panjang. Lama Karin meneruskan kata-katanya.
.
.
.
"Maaf jika saya lancang bah...", tiba-tiba suara tersebut memecah keheningan.

"Berikan saya waktu bah, hanya 6 bulan saja, agar saya bisa belajar Islam dan memantaskan diri saya untuk menjadi imam bagi Karin".

Suara itu....

Deg!!!

Pak Wisnu!!!.

Hati Karin meleleh.

Yang lain, bengong.

Aziz pun sama, terkejut. Tapi dirinya tak bisa bicara apa-apa. Matanya hanya tertuju pada Karin. Berharap Karin akan menghentikan kekonyolan pak Wisnu.

Yaa aampuuun...pak Wisnu kenapa bikin janji kayak gitu sih. Selain kesal, tapi Karin merasa melayang. Ciiyyeeehhh....ehem.

Abah dan ibu saling pandang. Awalnya tak faham. Tapi melihat kesungguhan pak Wisnu, mulai mempertimbangkan.

Yeeaaayyyy..., perjuanganmu gak sia-sia!!!. Congrats, pak !!!. #upz

Eits, tapi belum final nih. Abah menunggu jawaban Karin.

"Rin, bagaimana nak?", abah melunakkan suara. Berharap yang sama. Akan memilih Aziz.

"Karin juga sama bah, minta waktu selama 6 bulan, semoga setelah itu... bisa Karin putuskan". Agak ragu Karin mengatakannya.

Gitu dong Rin !!!, pak Wisnu aja sudah sampai segitunya. Berarti layak diberikan kesempatan kan??!!.

*****
Sejak pertemuannya kemarin. Tiba-tiba pak Wisnu menjadi pendiam. Biasanya sih selalu mencari Karin di pentry. Tapi ini berbeda. Tak ada lagi tanya jawab dan diskusi. HAMPA.

Saat Karin mengantar kopi pun, respon pak Wisnu datar. Yah, layaknya bawahan dan atasan.

"Tok...tok...tok..."

"Masuk"

"Permisi...ini kopinya, Pak"

"Taro saja di atas meja !!!"

Tanpa melihat Karin, pak Wisnu masih sibuk menandatangani berkas-berkas di atas mejanya.

Mungkin sibuk kali ya, fikiran Karin berusaha positif thinking.

Santai Rin !!!, dicuekin segitu aja baper. Hehe... Kan pak Wisnu juga sudah janji, 6 bulan. Iya kan pak??!!!.

*****
Saat jam makan siang,
Tak terlihat pak Wisnu di Kantin. Di ruangan pun tak ada. Iseng-iseng Karin bertanya ke mbak Mekka.

"Mbak, pak Wisnu ko ga ada di ruangan yah??!", tanya Karin basa basi.

"Iya Rin, aneh banget deh, beberapa hari ini menjelang dzuhur, pak Wisnu langsung pergi ke Masjid di depan. Katanya sih mau ikutan shalat berjama'ah", Mekka menjelaskan.

Wuuiihh... Pak Wisnu?? Beneran ke Masjid?. Hebat bener. Berarti ga usah ragu lagi dong Rin. Hehe...

*****
Dasar yah, namanya wanita. Hmm....
Dikasih perhatian, malah menghindar.
Kalau dicuekin, ehh, malah baper.

Pak Wisnu yang pulang lebih cepat, kini membuat Karin tambah galau. Hihi...

Ditambah lagi, saat Karin menyuguhkan berbagai minuman dan makanan kepada para tamu di ruang rapat. Duh..duh..duh...pak Wisnu deket banget duduknya sama tuh perempuan.

Pak Wisnu dengan siapa tuh, Rin??!.

Perempuan berkulit mulus, halus dan berhidung mancung, bentuk muka oval. Rambut lurus terurai panjang. Kalau artis...mirip-mirip Ashanty lah, istrinya Anang.#ups

Serius sekali berbincang berdua dengan pak Wisnu. Deeuhhh..., Karin cemburu kan??!, Hayooo ngaku. Hihi...

Tidak hanya sekali, dua kali. Perempuan tersebut seringkali berkunjung ke kantor. Membuat heboh orang kantor, dan gosip pun menyebar. Bahwa mereka pacaran !!! Iya, dengan perempuan itu yang bernama Mbak Claresta.

Oh...no...no...no...
Jangan percaya gosip murahan ya Karin!!!.

Cup...cup....cup.... jangan dimasukin ati. Hihi

*****
"Rin, kamu sakit??", Lely yang sedari tadi memperhatikan Karin yang terlihat pucat.

"Cuma meriang dikit Lel"

"Izin aja gih sonoh"

"Nanti juga baikan, mungkin cuma masuk angin aja", Karin mencari-cari alasan.

"Ada gosip baru Rin. Akhirnya pak Wisnu menemukan jodohnya juga. Cantik banget deh, kulitnya juga mulus kayak Ashanty", mata Lely berbinar-binar saat membicarakan isu tersebut. Senang mendengar pak bos dapat jodoh.

Praaang!!!!

Gelas yang dipegang Karin. Pecah.

Duh, ko bisa lepas dari pegangan sih Rin??!.

Buru-buru Karin membersihkannya, dibantu oleh Lely.

"Tuh, kan!!!. Sana gih pulang ke kost aja, biar aku yang minta izin ke pak Wisnu", Lely sedikit memaksa. Membereskan tas Karin dan mengantarkannya ke depan.

Duh, duh, duh....kenapa Karin bisa sakit meriang begitu yah. Udahlah Rin, Claresta ga usah dipikirin. Kan ada Aziz.#upz

*****
"Pak, maaf, saya mewakili Karin, minta izin karena sakit jadi tidak bisa kerja sampai sore", Lely menjelaskan saat bertemu pak Wisnu yang hendak memasuki lift.

Sakit?! Karin sakit??!!, pak Wisnu agak terkejut.

"Sakit apa Lel?, kenapa ga bilang dulu ke saya, biar saya suruh pak Johan mengantar". Pak Wisnu sangat khawatir.

Ciiyyeee.... Perhatian banget pak!.

"Tadi naik angkot pak". Lely bingung. Lho, tumben pak Wisnu perhatian ke Karin. Kayak ada yang aneh. Lely berfikir keras.

Pak Wisnu segera menelpon Karin. Khawatir terjadi sesuatu. Tapi selalu saja gagal dihubungi.

Mau ketemu langsung juga ga mungkin. Waduh kenapa gak mau pak?.

*****
Karin hanya bisa meringkuk, tak berdaya. Demamnya semakin tinggi. Wajahnya pucat pasi. Untungnya Lely pulang lebih cepat dari biasanya. Selesai membereskan cucian piring yang menggunung dan lantai kotor bagian belakang kantor.

"Astaghfirullah...kamu ga kenapa-kenapa kan Rin??", datang-datang Lely langsung memegang kening Karin. Panas.

Yaelaah Lely, udah tau lagi sakit, malah ditanya lagi. Ya pasti kenapa-kenapa dong.

"Yuk, kita ke klinik", Ajak Lely.

Karin tak merespon.

Waduh, minta tolong siapa nih, lagi gawat begini. Mana gotongnya susah lagi. Lely mengeluh.

Diambilnya gawai dari dalam tas, dan entah siapa yang akan dihubunginya. Ga mungkin dong orangtua Karin yang berada nun jauh disana. Tertuju satu nomor. Pak Wisnu.

"Pak, tolong saya pak", Lely agak lebay.

"Karin pak", Lely semakin panik.

*****

"Istrinya positif terkena DBD, mas. Trombosit menurun di bawah 50.000, keadaannya melemah dan hemoglobin pun menurun", dokter Aisyah memberikan hasil test darah kepada pak Wisnu.

Hah?? Istri??. Belum 'syah' dook.... Status calon aja belum. Pak Wisnu senyum-senyum sendiri.

"Bukan istri saya dok, dia salah satu pegawai saya di kantor".

"Oh, maaf kalau begitu mas".

Doakan saja dok, semoga beneran jadi istri. Hehe...pak Wisnu ngomong sendiri dalam hati. Ehem...

*****
Sudah dua hari Karin di rawat di salah satu Rumah Sakit swasta. Pak Wisnu yang menyuruh Lely untuk menunggunya disana. 24 jam full. Karena tidak ada kerabat atau sanak saudara Karin di kota ini. Jadi, ya mau bagaimana lagi. Akhirnya Lely tidak boleh bekerja sampai Karin sembuh.

Kondisi Karin masih belum membaik. Selang yang masuk melalui hidung menembus lambung masih terpasang untuk mengeluarkan darah dari dalam. Karin yang kelewat rajin bekerja, justru memperparah kondisi fisiknya.

Setiap hari pak Wisnu menjenguk Karin. Hanya sekedar menanyakan kondisinya ke dokter Aisyah. Tidak sampai bertemu. Ya, karena untuk menjaga jarak antara dirinya dan Karin.

"Bapak ga mau melihat kondisi Karin??", tanya Lely heran.

"Ahh..gak perlu Lel. Saya masih banyak urusan. Assalamu'alaikum...", pamit pak Wisnu.

Lely melongo. "Wa'alaikumussalaam...".

Hey, Lel !!! Kayak abis liat hantu aja. Hehe....

Ini pak Wisnu atau bukan yah. Memang beberapa minggu ini beda banget dengan yang dulu. Sekarang lebih alim dan tampak agamis banget. Lebih berwibawa.

Saat pak Wisnu memasuki area parkir. Dilihatnya sosok lelaki yang ia kenal. Abah.

Ibu pun berada di samping abah, pastinya untuk menjenguk Karin. Adik Karin, Marina ikut juga mendampingi keduanya.

Hey, pak Wisnu!!! Ada satu orang lagi berada dibelakang ketiganya. Siapa ya??!!.

Saat pak Wisnu menyapa abah, ibu dan Marina, jelas terlihat lelaki tersebut.
.
.
.
AZIZ !!!

*****Bersambung*****


Terimakasih kepada teman-teman yang bersedia melipir kesini.😘

Ditunggu kritik dan sarannya.
Mohon maaf jika banyak kekurangan dalam tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2