Pernikahan dengan Syarat#4
#Pernikahan_dengan_Syarat
#Part4
#Mudho_Wamah
Aaarrrgghhh....
.
.
.
Kaaaarrrriiiiinnn....
.
.
Bikin pak Wisnu kecewa berat !!!.
Jauh-jauh susah payah, naik turun puncak. Belum lagi panas-panasan di tengah kemacetan.
Huuufffttt....
Pak Wisnu manyun lima senti. Kenapa lagi tuh Karin pakai senyum segala. Senang melihatku menderita. Dalam hati pak Wisnu menggerutu. Duh, rasanya ingin cepat keluar dari ruangan yang tiba-tiba bikin sesak.
Gagal jadi calon mantu !!!, hihi....
Upz, laki-laki memakai koko berdiri di samping Karin.
Pak Wisnu segera menjabat dan mencium punggung tangan abah Karin. Tersenyum mengembang ditambah lesung pipi sebagai pemanisnya.
Ehem....Deg degan sih sudah pasti ya pak??. Hihi...
Lha, koq respon abah yang seakan cuek saja dengan keberadaan pak Wisnu. Tanpa basa basi. DATAR.
Berbeda ketika abah bertemu dengan lelaki itu. Yah, lelaki mana lagi?. Tentu saja yang katanya akan dijodohkan dengan Karin.
Ya Allah, ujian apalagi ini?, hati pak Wisnu galau. Mendengar Karin sudah dijodohkan raut wajah pak Wisnu berubah. Ahh..., bener-bener cuma cewe kayak Karin yang nolak pak Wisnu.
"Assalamu'alaikum... Apa kabar abah?", lelaki itu entah siapa namanya, segera mendekat. Nada suaranya sangat sopan dan terdengar akrab.
Hahaha... Pak Wisnu... Pak Wisnu... Ya iyalah abah cuek. Lha wong, salam aja situ gak pake.
"Wa'alaikumussalaam..., bagaimana dengan nak Aziz sendiri?, sehat keluarga disana?". Abah langsung mempersilahkan Aziz duduk.
Owalaah.. Namanya Aziz toh. Apa sih istimewanya Aziz ini. Huh. Pak Wisnu tambah mendengus.
Santai dong pak !. Hehe ..., selama janur kuning belum melengkung. Dan tenda belum berdiri. Semangaat teerruuuss....#upz
"Alhamdulillah, abah... Semua sehat. Salam dari ibu yang tidak bisa ikut bersilaturahim kesini", duh duh duh jawaban Aziz ini bikin bener-bener hati adem dan lembut banget.
Ahh, melihat keakraban mereka seperti Bapak dan menantu yang harmonis. Sebelum duduk, Aziz menghampiri pak Wisnu.
"Salam kenal mas, Saya Aziz".
Eh...yang di sapa bengang bengong. Hey, Pak!!! Di jawab atuh.
"Oh, iya. Salam kenal juga mas Aziz. Saya Wisnu". Gak mau kalah dengan Aziz, pak Wisnu berdiri tegap sambil senyum lebar 5 senti.
Sudah hilang mood pak Wisnu untuk mengutarakan maksud kedatangannya kepada abah Karin. Ahh... Sepertinya pak Wisnu perlu menghirup angin segar sebelum mendengar kabar lain yang lebih mengejutkan di tengah perbincangan mereka.
Matanya mengelilingi seisi ruang tamu, memberikan kode kepada Karin. Bingung. Tapi Karin yang sedari tadi diam membisu, tak mengerti maksud pak Wisnu.
Ahh, apa Aziz hanya bermaksud silaturahim saja? Atau jangan-jangan maksud Karin menyuruhku kesini hanya sekedar menegaskan dirinya sudah menjadi milik orang lain?. Aaaaarrrgggghhhhh..., berbagai pertanyaan bertubi-tubi dalam benak pak Wisnu.
Pak Wisnu kebingungan. Hihi....
Aziz ternyata anak pesantren. Ayahnya Karin dan Aziz adalah sahabat karib. Keduanya bahkan menjadi guru di salah satu pesantren di desa ini. Pantas saja, Aziz keliatan alim dan agamis banget. Terlihat dari sikap dan etika berbicaranya yang santun.
Saingan berat pak!!!, alamaaak...pak Aziz tepok jidat. Hihiy....
Kini, Aziz bekerja di Solo. Sedangkan sang ibu tinggal di Jakarta sejak Ayahnya meninggal. Sebagai seorang dosen di beberapa universitas, Aziz menjadi tulang punggung keluarganya.
"Berarti nak Aziz naik bus kalau mulang ke Jakarta?", ibu Karin tampak penasaran.
"Kadang-kadang juga bu, tapi seringkali saya naik kereta dari Stasiun Solo Jebres". Aziz menjelaskan.
Semua seperti terhipnotis mendengarkan Aziz berbicara. Seperti ustadz Hanan deh kalau ceramah, serak-serak basah, bisa bikin yang dengerin tiba-tiba baper dan tiba-tiba ketawa. Bedanya Aziz ini lebih kalem dan pendiam.
Keluarga Karin yang begitu akrab dan hangat pun, membuat pak Wisnu takjub. Dirinya tak pernah senyaman ini berada di tengah-tengah keluarga yang baru saja dikenalnya.
Ngomong?
.
Enggak?
.
Ngomong?
.
Enggak?
Sebelum Aziz maju selangkah, pak Wisnu berfikir untuk berbicara terlebih dahulu.
Bismillaahirrahmaanirrahiim... Segala keberanian pak Wisnu kerahkan.
"Abah...ibu...Karin...dan semuanya, ada hal yang ingin saya sampaikan. Menyatakan maksud kedatangan saya kesini". Pak Wisnu membuka suara.
Tiba-tiba suasana hening.
Hanya terdengar suara pak Wisnu yang terdengar kaku. Huuuff....detak jantung yang berdetak lebih cepat seperti orang sedang berolahraga. Ngos-ngosan. Hehe....
Karin tiba-tiba melotot. Bulu mata lentiknya mengangkat ke atas. Hihi...ekspresi Karin. Terkejut !!!.
Pak bos...pak bos...Liat sikon dong!! Ada Aziz tuh. Karin greget.
"Oh iya, nak Wisnu. Kemarin Karin sempat menceritakannya". Abah angkat bicara sebelum pak Wisnu menjelaskan panjang lebar.
Sekarang gantian. Pak wisnu terkejut !!!.
Ciyyeehhh....jangan-jangan sudah di acc calon mertua. #upz.
Aziz bengong. Kebingungan. Tapi dirinya tak berani berbicara. Sebisa mungkin menjaga etika. Tapi yang pasti rencana abah akan menjodohkan Karin, terancam gagal. Aziz bersikap santai. Toh, dirinya pun belum melamar Karin.
"Orangtua manapun, ingin anaknya mendapatkan imam yang baik. Mampu menjadi tauladan dalam keluarganya. Mampu membawa istrinya berada di jalan yang benar. Bukan persoalan tanggung jawab ataupun hanya sekedar urusan materi", abah Karin melanjutkan.
Waduh, berat amat bahasanya. Tapi pak Wisnu hanya mengangguk. Mengiyakan.
"Memang, segala keputusan ada pada Karin, dan kami selaku orangtua hanya bisa mendukung serta memberikan yang terbaik untuk Karin".
Mendengar penjelasan abah, pak Wisnu jadi ciut. Apalagi ilmu agama yang tak seberapa yang dimilikinya.
Ahh... Apakah pak Wisnu pantas menjadi imam bagi Karin???.
Sedangkan jelas-jelas Aziz, seorang anak kiai dan lebih mendalami ilmu agama sangat cocok menjadi pendamping Karin. Pak Wisnu meratapi dirinya sendiri. Agak menyesal juga, kenapa gak dari jaman bangku sekolahan mendalami ilmu agama.
Hey, Pak !!!!, mana tau situ bakalan kepincut sama anak ustadz. Hihi....
"Bagaimana Karin???", abah bertanya kepada Karin yang kebingungan.
Nah lho, di antara dua pilihan. Hihi...gimana nih rin, Aziz atau pak Wisnu.
*****Bersambung*****
Terimakasih yang bersedia mampir membaca.
Terimakasih juga yang sudah bersedia memberikan kritik dan sarannya.
Mohon maaf masih banyak kekurangan dalam tulisan ini.
Silahkan baca selengkapnya 🤗🤗🤗
Part 1
https://www.coretanpenakoe.com/2018/09/pengorbanan-seorang-wisnu.html?m=1
Part 2
https://www.coretanpenakoe.com/2018/09/pernikahan-dengan-syarat2.html?m=1
Part 3
https://www.coretanpenakoe.com/2018/09/pernikahan-dengan-syarat.html?m=1
#Part4
#Mudho_Wamah
Aaarrrgghhh....
.
.
.
Kaaaarrrriiiiinnn....
.
.
Bikin pak Wisnu kecewa berat !!!.
Jauh-jauh susah payah, naik turun puncak. Belum lagi panas-panasan di tengah kemacetan.
Huuufffttt....
Pak Wisnu manyun lima senti. Kenapa lagi tuh Karin pakai senyum segala. Senang melihatku menderita. Dalam hati pak Wisnu menggerutu. Duh, rasanya ingin cepat keluar dari ruangan yang tiba-tiba bikin sesak.
Gagal jadi calon mantu !!!, hihi....
Upz, laki-laki memakai koko berdiri di samping Karin.
Pak Wisnu segera menjabat dan mencium punggung tangan abah Karin. Tersenyum mengembang ditambah lesung pipi sebagai pemanisnya.
Ehem....Deg degan sih sudah pasti ya pak??. Hihi...
Lha, koq respon abah yang seakan cuek saja dengan keberadaan pak Wisnu. Tanpa basa basi. DATAR.
Berbeda ketika abah bertemu dengan lelaki itu. Yah, lelaki mana lagi?. Tentu saja yang katanya akan dijodohkan dengan Karin.
Ya Allah, ujian apalagi ini?, hati pak Wisnu galau. Mendengar Karin sudah dijodohkan raut wajah pak Wisnu berubah. Ahh..., bener-bener cuma cewe kayak Karin yang nolak pak Wisnu.
"Assalamu'alaikum... Apa kabar abah?", lelaki itu entah siapa namanya, segera mendekat. Nada suaranya sangat sopan dan terdengar akrab.
Hahaha... Pak Wisnu... Pak Wisnu... Ya iyalah abah cuek. Lha wong, salam aja situ gak pake.
"Wa'alaikumussalaam..., bagaimana dengan nak Aziz sendiri?, sehat keluarga disana?". Abah langsung mempersilahkan Aziz duduk.
Owalaah.. Namanya Aziz toh. Apa sih istimewanya Aziz ini. Huh. Pak Wisnu tambah mendengus.
Santai dong pak !. Hehe ..., selama janur kuning belum melengkung. Dan tenda belum berdiri. Semangaat teerruuuss....#upz
"Alhamdulillah, abah... Semua sehat. Salam dari ibu yang tidak bisa ikut bersilaturahim kesini", duh duh duh jawaban Aziz ini bikin bener-bener hati adem dan lembut banget.
Ahh, melihat keakraban mereka seperti Bapak dan menantu yang harmonis. Sebelum duduk, Aziz menghampiri pak Wisnu.
"Salam kenal mas, Saya Aziz".
Eh...yang di sapa bengang bengong. Hey, Pak!!! Di jawab atuh.
"Oh, iya. Salam kenal juga mas Aziz. Saya Wisnu". Gak mau kalah dengan Aziz, pak Wisnu berdiri tegap sambil senyum lebar 5 senti.
Sudah hilang mood pak Wisnu untuk mengutarakan maksud kedatangannya kepada abah Karin. Ahh... Sepertinya pak Wisnu perlu menghirup angin segar sebelum mendengar kabar lain yang lebih mengejutkan di tengah perbincangan mereka.
Matanya mengelilingi seisi ruang tamu, memberikan kode kepada Karin. Bingung. Tapi Karin yang sedari tadi diam membisu, tak mengerti maksud pak Wisnu.
Ahh, apa Aziz hanya bermaksud silaturahim saja? Atau jangan-jangan maksud Karin menyuruhku kesini hanya sekedar menegaskan dirinya sudah menjadi milik orang lain?. Aaaaarrrgggghhhhh..., berbagai pertanyaan bertubi-tubi dalam benak pak Wisnu.
Pak Wisnu kebingungan. Hihi....
Aziz ternyata anak pesantren. Ayahnya Karin dan Aziz adalah sahabat karib. Keduanya bahkan menjadi guru di salah satu pesantren di desa ini. Pantas saja, Aziz keliatan alim dan agamis banget. Terlihat dari sikap dan etika berbicaranya yang santun.
Saingan berat pak!!!, alamaaak...pak Aziz tepok jidat. Hihiy....
Kini, Aziz bekerja di Solo. Sedangkan sang ibu tinggal di Jakarta sejak Ayahnya meninggal. Sebagai seorang dosen di beberapa universitas, Aziz menjadi tulang punggung keluarganya.
"Berarti nak Aziz naik bus kalau mulang ke Jakarta?", ibu Karin tampak penasaran.
"Kadang-kadang juga bu, tapi seringkali saya naik kereta dari Stasiun Solo Jebres". Aziz menjelaskan.
Semua seperti terhipnotis mendengarkan Aziz berbicara. Seperti ustadz Hanan deh kalau ceramah, serak-serak basah, bisa bikin yang dengerin tiba-tiba baper dan tiba-tiba ketawa. Bedanya Aziz ini lebih kalem dan pendiam.
Keluarga Karin yang begitu akrab dan hangat pun, membuat pak Wisnu takjub. Dirinya tak pernah senyaman ini berada di tengah-tengah keluarga yang baru saja dikenalnya.
Ngomong?
.
Enggak?
.
Ngomong?
.
Enggak?
Sebelum Aziz maju selangkah, pak Wisnu berfikir untuk berbicara terlebih dahulu.
Bismillaahirrahmaanirrahiim... Segala keberanian pak Wisnu kerahkan.
"Abah...ibu...Karin...dan semuanya, ada hal yang ingin saya sampaikan. Menyatakan maksud kedatangan saya kesini". Pak Wisnu membuka suara.
Tiba-tiba suasana hening.
Hanya terdengar suara pak Wisnu yang terdengar kaku. Huuuff....detak jantung yang berdetak lebih cepat seperti orang sedang berolahraga. Ngos-ngosan. Hehe....
Karin tiba-tiba melotot. Bulu mata lentiknya mengangkat ke atas. Hihi...ekspresi Karin. Terkejut !!!.
Pak bos...pak bos...Liat sikon dong!! Ada Aziz tuh. Karin greget.
"Oh iya, nak Wisnu. Kemarin Karin sempat menceritakannya". Abah angkat bicara sebelum pak Wisnu menjelaskan panjang lebar.
Sekarang gantian. Pak wisnu terkejut !!!.
Ciyyeehhh....jangan-jangan sudah di acc calon mertua. #upz.
Aziz bengong. Kebingungan. Tapi dirinya tak berani berbicara. Sebisa mungkin menjaga etika. Tapi yang pasti rencana abah akan menjodohkan Karin, terancam gagal. Aziz bersikap santai. Toh, dirinya pun belum melamar Karin.
"Orangtua manapun, ingin anaknya mendapatkan imam yang baik. Mampu menjadi tauladan dalam keluarganya. Mampu membawa istrinya berada di jalan yang benar. Bukan persoalan tanggung jawab ataupun hanya sekedar urusan materi", abah Karin melanjutkan.
Waduh, berat amat bahasanya. Tapi pak Wisnu hanya mengangguk. Mengiyakan.
"Memang, segala keputusan ada pada Karin, dan kami selaku orangtua hanya bisa mendukung serta memberikan yang terbaik untuk Karin".
Mendengar penjelasan abah, pak Wisnu jadi ciut. Apalagi ilmu agama yang tak seberapa yang dimilikinya.
Ahh... Apakah pak Wisnu pantas menjadi imam bagi Karin???.
Sedangkan jelas-jelas Aziz, seorang anak kiai dan lebih mendalami ilmu agama sangat cocok menjadi pendamping Karin. Pak Wisnu meratapi dirinya sendiri. Agak menyesal juga, kenapa gak dari jaman bangku sekolahan mendalami ilmu agama.
Hey, Pak !!!!, mana tau situ bakalan kepincut sama anak ustadz. Hihi....
"Bagaimana Karin???", abah bertanya kepada Karin yang kebingungan.
Nah lho, di antara dua pilihan. Hihi...gimana nih rin, Aziz atau pak Wisnu.
*****Bersambung*****
Terimakasih yang bersedia mampir membaca.
Terimakasih juga yang sudah bersedia memberikan kritik dan sarannya.
Mohon maaf masih banyak kekurangan dalam tulisan ini.
Silahkan baca selengkapnya 🤗🤗🤗
Part 1
https://www.coretanpenakoe.com/2018/09/pengorbanan-seorang-wisnu.html?m=1
Part 2
https://www.coretanpenakoe.com/2018/09/pernikahan-dengan-syarat2.html?m=1
Part 3
https://www.coretanpenakoe.com/2018/09/pernikahan-dengan-syarat.html?m=1
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini