Pernikahan dengan Syarat#6

#Pernikahan_dengan_Syarat
#Part6
#Mudho_Wamah

Pak Wisnu langsung menyapa keduanya,

"Assalamu'alaikum, Bah..," Pertemuan kedua kalinya dengan camer dirasakan berbeda. Ga pake deg-degan. Hehe...

Lebih santai ya, Pak !.

"Bagaimana Keadaan Karin sekarang nak Wisnu??," Ibu terlihat begitu khawatir.

"Ada di ruang VIP no. 201 tante, kondisi Karin belum sepenuhnya membaik."

Ibu semakin cemas.

Aziz mengajak ketiganya segera masuk ke dalam ruangan, agar langsung melihat langsung kondisi Karin.

Hohoho....seperti ada yang terlihat kurang senang dengan keberadaan pak Wisnu.#upz

"Saya pamit dulu ya, Bah. Mohon maaf tidak bisa mengantar masuk. Assalamu'alaikum.." Pak Wisnu langsung izin pamit bersalaman.

 "Wa'alaikumussalaam.."

*****
Airmata ibu berlinang tak bisa ditahan, melihat anak sulungnya terbaring lemah di rumah sakit.

Lely dan Marina menunggu di luar kamar. Keduanya nampak serius membicarakan kondisi Karin.

Aziz yang menemani abah dan ibu masuk ke dalam, memandang Karin penuh dengan rasa iba. Tak lama kemudian, Karin membuka matanya pelan. Dilihat satu per satu orang-orang disekelilingnya.

Mengapa mereka semua ada disini. Karin mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Oiya, dirinya dipaksa untuk pergi ke dokter bersama dengan Lely, ada dua perempuan lainnya yang juga teman satu kost Lely yang ikut membopong tubuhnya, masuk ke dalam mobil pak Wisnu. Hingga akhirnya dokter mengambil tindakan atas kondisinya yang kian memburuk.

Pak Wisnu dan Lely saat itu masih terlihat menunggunya hingga masa kritisnya terlewati.

Ahh.

Pak Wisnu?.

Dimana dia?.

Mata Karin mencari di sekeliling ruangan.

"Rin, cepat sembuh, nanti pulang dengan ibu ya!" Pelan-pelan ibu membelai kepala Karin. Lalu diciumnya kening Karin. Abah tak berbicara, hanya diam. Karin tahu pasti abah tak tega melihat kondisinya yang seperti itu.

Apa maksud ibu mengatakan itu ya. Ahh tapi Karin tak ingin memikirkannya. Hanya dijawabnya dengan satu kali anggukan pelan.

"Nak Aziz pun ikut menjenguk, jauh-jauh datang dari Solo," Suara ibu menghibur.

Karin mengangguk pelan.

"Sepertinya pekerjaan disini berat Rin. Mengapa tidak mencari pekerjaan di Cianjur saja. Ya, menjadi guru TPA atau guru ngaji juga kan bisa," Aziz mengeluarkan suara. Seperti sedang memojokkan dirinya di hadapan ibu dan abah.

Hey, Ziz !, siapa juga yang kepingin sakit seperti ini. Iya kan Rin?!.

Karin hanya tersenyum. Menyunggingkan bibirnya sebelah. Tanda tak senang dengan pendapat Aziz. Tak mampu berkata.

Ahh... Parahnya lagi Ibu dan Abah sepakat ucapan Aziz.

Iyeeesss...dirimu menang Ziz, mempengaruhi ibu dan abah. Dan Karin hanya bisa tersenyum terpaksa. Biarlah.

"Jika kesehatanmu sudah membaik, dan diperbolehkan pulang. Kita langsung pulang ke Cianjur ya Rin."

Huuufftt... Cuti lagi. Baiklah. Karin menghela nafas panjang.

*****
Semakin hari kondisi Karin semakin membaik. Abah dan Ibu yang menjaga Karin. Marina pulang sendiri, karena ada jadwal kuliah. Aziz, mampir ke arah Jakarta, sambil pulang menjenguk ibunya.

Sedangkan Lely sudah masuk kerja seperti biasa. Pak Wisnu yang hanya sesekali datang, mengikuti perkembangan Karin dari kejauhan. Bertemu dengan Karin pun enggan.

Ahh....lebih baik seperti ini. Agar niatnya untuk berubah menjadi lebih baik, bukan semata-mata karena Karin. Gumamnya dalam hati. Memantapkan diri.

Nah, gitu dong pak!, kita berubah bukan karena seseorang (apalagi gara-gara wanita) tapi Lillaahita'ala. Ehem... Mantaps sekali pak bos ini.

"Nak Wisnu, ga masuk dulu, barangkali ingin berbincang dengan Karin?," Ibu menawarkan pak Wisnu yang hendak berpamitan.

"Salam saja tante, semoga besok Karin sudah bisa pulang darisini."

"Oh ya sudah kalau begitu. Insyaa allah nanti tante sampaikan ke Karin."

Seperti biasa Pak Wisnu membawakan makan siang untuk abah dan ibu agar tidak repot mencari makanan di luar rumah sakit.

"Wuah, ga perlu repot-repot membawakan makan. Ya sudah, kalau begitu nak Wisnu juga ikut makan, ayo!." ajak abah.

"Insya Allah hari ini sedang shaum Bah, oiya, maaf saya harus segera pamit. Karena urusan di Kantor belum selesai."

Ciyyeehhh..., ehem... Pak Wisnu puasa senin Kamis euy, ceemunguutt pak !!!.

"Assalamu'alaikum..." ucapnya sambil meninggalkan keduanya di koridor Rumah sakit.

"Wa'alaikumussalaam..."

Abah dan ibu pun saling pandang.

Seperti ada yang berbeda.

Hoorreeee..., pak Wisnu Vs Aziz, 1 - 1. Hehe...

*****
Abah dan Ibu menunggu keputusan Karin.

"Baiklah..., Karin menerima saran abah dan ibu, tapi izinkan Karin beberapa hari lagi ya?," Sebisa mungkin dirinya menahan air yang membendung di pelupuk mata.

"Abah dan ibu pulang duluan, hati-hati ya nak!", Abah memasuki Taxi yang sudah menunggu di depan.

"Kalau ada apa-apa, langsung telepon adikmu, ya!" Sambung ibu, seperti tak rela meninggalkan anak sulungnya yang sudah sembuh, yang kini tinggal masa pemulihan.

Mau tidak mau, abah dan ibu harus pulang. Sudah seminggu berada di kota ini. Banyak urusan yang ditinggalkan selama menjaga Karin di Rumah sakit. Belum lagi, abah yang masih aktif menjadi Ustadz di pesantren, tidak bisa lama-lama menemani Karin.

Ibu merayu Karin untuk pulang bersama. Tapi sebisa mungkin tanpa membantah, Karin menjelaskan kepada ibu bahwa dirinya memerlukan waktu membereskan semuanya.

"Bu, keputusan Ibu dan Abah berat banget untuk Karin penuhi. Tapi sebisa mungkin Karin relakan bu... Jadi, biarkan Karin disini dulu untuk beberapa hari lagi."

Rin, keputusan apa sih yang bikin kamu berat??!!. Jangan... Jangan... Duh, duh, duh.

*****
"Hai, Rin! Kamu sudah sembuh?," hampir seluruh pegawai dapur menanyakan kabar Karin. Senang melihatnya sudah berada di dapur kantor.

Dibalasnya dengan senyuman.

"Alhamdulillaah, sudah baikan. Kangen banget bisa kumpul lagi disini." Karin agak terharu. Yang perempuan memberikan pelukan kangen kepada Karin.

"Hehe..., kayaknya hari ini ada acara traktiran," celetuk salah satu pegawai. Roni.

"Huuuu... Ada orang abis sakit, malah minta traktiran." Lely menjulurkan lidahnya ke arah Roni.

Semua tertawa terbahak-bahak. Melihat Lely dan Roni kayak kucing tikus yang kejar-kejaran.

"Insyaa allah nanti siang ya, kita makan di Kantin bareng. Sudah aku boked juga. Khusus kita." Seperti sudah direncakan sebelumnya.

Seisi ruangan, tertawa senang. Sorak sorai bersahutan berucap doa untuk kesehatan Karin.

Karin pun turut senang, melihat teman-temannya. Sedangkan dalam hatinya terselip kesedihan.

Huuuffttt... Aku harus kuat. Bisik hati Karin menyemangati.

*****
Langkah kaki Karin, tertuju pada salah satu ruangan. Ya, ruangan kerja mak Wisnu. Kakinya kaku untuk melangkah kesana.

Waduh, mau ngapain tuh Karin?!.

"Mbak Mekka, pak Wisnu ada??," tanyanya kepada sekretaris yang mirip Luna Maya.

"Oh, bentar ya Rin, aku coba hubungi dulu. Eh, sorry aku ga sempet jenguk kamu. Jadwal pak Wisnu padet banget beberapa bulan ini. Maaf yah."

"Ahh.. Ga papa mbak, cukup do'a, sudah lebih dari cukup."

Jantung Karin terasa semakin cepat berdetak. Ahh...bagaimana ia harus menjelaskannya pada pak Wisnu.

"Silahkan Rin, pak Wisnu ada di dalam."

"Thank's yah mbak." sambil melempar senyum.

Bismillaahirrahmaanirraahiim...

Langkah kaki Karin, tampak ragu.

Tok
Tok
Tok
.
.
"Masuk!" suara pak Wisnu yang sudah lama tak didengar Karin. Lebih jutek dan kurang ramah.

Yaa... Ampuun kaarriin... Masih juga curiga sama pak Wisnu. Hadeeuh.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumussalaam.."

"Ya, ada yang bisa saya bantu?", Pak Wisnu terdengar basa basi.

Tak berani menatap pak Wisnu. Diserahkannya sebuah map berwarna kuning yang sedari tadi di genggam Karin.

Pak Wisnu mengernyitkan dahi.

"Apa ini?," dibacanya selembar kertas dengan tulisan ketik, begitu rapih. Terdapat dibawahnya tandatangan Karin yang meliuk-liuk khas, tanda berawalan 'M'.

Deg!!

Apalagi ini Meila Karina Putri??, pak Wisnu berfikir keras.

Seketika wajah pak Wisnu berubah. Tak percaya. Dipandanginya lama selembat kertas yang dipegangnya.

Duh, penasaran nih pak Wisnu, apaan sih isi lembaran suratnya??!. Hehe....

Apakah harus dengan cara seperti ini Rin?. Pak Wisnu mengeluh dalam hati.

Karin yang berdiri kaku. Hanya tertunduk lemas. Jarinya meremas-remas. Dingin. Gelisah. Maafkan saya, Pak. Ya Allah, Semoga ini jalan yang terbaik. Hatinya berbisik.

Pak Wisnu menelpon Mekka. Disuruhnya masuk ke dalam ruangan.

****Bersambung****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2