Pernikahan dengan Syarat#2


#Pernikahan_dengan_syarat
#Part_2

Pak Wisnu ngajak Nikah !!!
.
.
.
Huuuffttt....
Pikiran Karin kini benar-benar kalut dibuatnya. Bagaimana tidak?. Hidup Karin yang lurus mulus kayak aspal, kini seakan banyak polisi tidur dimana-mana.

Sebulan yang lalu, hubungan mereka masih biasa saja. Pak Wisnu melihat sosok Karin yang berbeda, membuat daya tarik tersendiri untuknya. Padahal Karin hanya seorang 'pegawai dapur' di kantoran.

Pak Wisnu memang selalu menanyakan berbagai macam hal terutama yang berhubungan dengan Islam.

Ya, karena keterbatasan pak Wisnu yang sama sekali tidak pernah mendalami Islam. Kalau sholat lima waktu sih tentu saja pak Wisnu tahu, tapi ogah-ogahan untuk menjalankannya alias suka bolong-bolong.

Sssttt....tapi sejak ketemu dengan Karin, pak Wisnu jadi rajin lho....hihi....ciiyyeehh....

Puasa?? Fuull Ramadhan sudah pasti.
Zakat?? Wuih, jangan ditanya.
Sedekah??? Sering memberikan ke masjid paling utama ditambah getol banget kepada fakir miskin.
Umroh??? pernah walaupun sesekali.

Tapi seperti ada rasa hampa. Walaupun pak Wisnu beragama Islam, ternyata bukan hanya 5 rukun Islam saja yang harus dijalankannya. Masih banyak sekali hal yang membuat pak Wisnu perlu pelajari dan bikin penasaran.

Tetap saja itu tak membuktikan apapun. Masih diperlukan kesungguhannya untuk menjadikan Karin istri.

Seperti halnya, saat awal masuk kerja. Pak Wisnu terheran-heran karena pakaian Karin yang dipakai lebih panjang selutut. Baju atasan yang tidak biasa digunakan oleh kebanyakan Office Girl lainnya yang ketat dan pendek. Belum lagi kerudung apaan tuh, lebar hingga menutupi dada. Yaaa ampuuun....ini cewe dari planet mana kali ya. Mungkin kira-kira begitulah pikiran pak Wisnu saat bertemu dengan Karin.

"Anda Office Girl disini kan??", tanyanya kepada Karin yang sedang menyuguhkan kopi di hari pertama bertemu.

"Iya....emmm....iya...pak", jawab Karin kaku. Khawatir banget dimarahin bos barunya.

"Pakaiannya sengaja dipanjangin atau gak ada yang cocok??", pak Wisnu menatap dari ujung jilbab Karin hingga kaos kaki yang dikenakannya.

"Ma....maaf pak....saya sengaja, tapi sudah diperbolehkan oleh pak Brata", Karin menunduk tak berani menatap.

"Ada yang diperlukan lagi pak?", Karin sengaja mengalihkan pembicaraan.
Pak Wisnu menggeleng, sambil menyeruput kopi, kemudian meringis seperti ada yang salah dengan kopinya.

Karin mempercepat langkah. Buru-buru keluar ruangan. Khawatir bermacam-macam pertanyaan nanti diajukan lebih banyak lagi.

"Hey...kamu...lain kali tolong tambahkan susu ya dikopinya".
.
.
Kamu?? Hey....Emang aku ga punya nama apa. Heuuu....dalam hati Karin greget liat pak bosnya yang baru.
"Baik, pak !", tanpa menoleh Karin makin cepat melangkah.

"Saya permisi...Assalamu'alaikum".
Huuuffttt....keluar dari ruangan pak Wisnu, lega rasanya.... Karin seperti bisa menghirup udara segar lagi. Seakan oksigen dalam ruangan itu begitu membuat sesak. Jauh berbeda sekali ya dengan pak Brata, ayahnya. Pak Brata sangat sopan dan penyayang. Diam-diam Karin merindukan pak Brata.

Tenaang Karriiiin....stay cool....gumamnya dalam hati.

Itu baru pertemuan di hari pertama dengan pak direktur baru bernama WISNU ARDHI BRATA, menggantikan sang ayah yang sudah mulai pensiun.

Waduh, gimana pertemuan selanjutnya pak Wisnu dengan cewek planet ini ya.

****
Hari kedua, pak Wisnu bikin Karin greget luarbiasa.

"Hey...kamu sholat apaan sih??", tiba-tiba pak Wisnu berada di belakang, dengan tangan dilipat di dada, sambil bersandar di daun pintu. Karin yang tengah membuka maukena, sontak kaget luarbiasa.

Duh, gak ada sopan santunnya apa yah orang ini, Karin cuma bisa ngedumel dalam hati.

Owalaah....pak Wisnu lagi. Mau apalagi sih bos yang satu ini.

"Saya abis sholat Dhuha pak", setelah melipat maukena dan memasukkan ke dalam lemari mushola, Karin keluar mendekati pak Wisnu.

"Ada yang bisa saya bantu pak?", tanya Karin lugu.

"Sholat Dhuha jam segini ya?, aku kira cuma ada sholat shubuh aja kalau pagi". Ekspresi pak Wisnu bikin Karin senyum sendiri. Tapi langsung ditahannya.

"Ini namanya sholat sunnah pak", Karin langsung menjelaskan sambil meninggikan nada. Greget.

"Ooh.... namanya Sholat Dhuha", Kepolosan pak Wisnu terlihat jelas, seperti baru mendengar kata Dhuha.
Duuhh....sholat Dhuha aja gak tahu, gimana sih pak Wisnu. Hehe...

"Tolong bersihkan ruang rapat! sebentar lagi ada meeting dengan klien", tanpa pamit pak Wisnu pergi".

"Baik pak".

*****
"Rin....Karin....", Lely menyadarkan lamunanku. Teriak tepat dekat telinga.

" Haaaduuhh Leeeel.....Please deh, gak usah pake teriak-teriak", Karin menggerutu.

"Ngelamun mulu....", Lely menjulurkan lidahnya.

Karin cuma cengir kuda. Hehe....Maklumlah...Lely adalah sahabat dekat Karin semenjak Karin merantau di kota besar ini. Nge-kost bareng dan ikut Lely kerja bareng di perusahaan milik pak Brata, ayah pak Wisnu.

"Besok aku cuti ya Lel",

"Hah??? Koq tiba-tiba cuti??", ekspresi Lely berubah seketika. Serius.

"Iyah, cuti. Cuma tiga hari koq. Aku kangen abah di kampung. Kangen juga dengan panorama kebun dan gunung disana. Atmosfer disini kan asap melulu, limbah udara....kayak rada sesak gitu", Karin mencoba mengajak Lely bercanda agar tidak terdengar aneh karena dirinya mendadak pulang.

"Sudah izin dengan pak Wisnu??", Lely sekedar mengingatkan.

"Insyaa Allah sore aku izin".

*****
Suasana pun berubah agak mendung, kebimbangan Karin atas proposal lamaran yang diberikan pak Wisnu, membuat dirinya harus segera menemui abah di kampung. Menghirup udara segar di sana sambil menikmati indahnya pegunungan yang mengelilingi pedesaan.

Baiklah. Keputusan sudah mantap. Melarikan diri dari lelaki aneh bernama WISNU.

Sambil refreshing juga ya Karin. Hehe....

*****
Karin meletakkan map merah berisi selembar surat izin yang dibuat oleh mbak Mekka, sekretaris pak Wisnu yang tinggi semampai mirip Luna Maya. Hehe....

Tak lupa diselipkannya kertas, berisi syarat yang dijanjikan saat berada dipantai kemarin. Semoga pak Wisnu mengerti. Ucap Karin penuh harap.

Urusan pernikahan bukanlah hal main-main pak. Dibutuhkan pertimbangan yang luarbiasa. Karena ini akan kita jalani sehidup semati. Bukan seenaknya jika tidak cocok, maka salah satu bisa seenaknya mencari pengganti. Karin menghela nafas panjang. Sambil meletakkan suratnya di atas meja kerja pak Wisnu.

"Bismillaahirrahmaanirraahiim....", ucap Karin pelan.
Segera dirinya keluar ruangan.

"Mbak Mekka, aku titip salam aja yah, bilang saja maaf ke bapak ga bisa izin langsung".

"Iya rin....hati-hati ya, salam untuk keluarga di kampung".

Mbak Mekka pun bersiap-siap pulang.
"Bareng yuk, aku antar ke kost'an ya?? Kan sekalian lewat juga".

Wah...mumpung ada yang ngajakin tuh Rin....langsung aja jawab iya. Lumayan kan ga pegel jalan kaki. Hihi...

"Ga ngerepotin mbak Mekka nih?", jawab Karin malu, "Yaa....boleh deh kalau mbak Mekka yang nawarin...".

*****
Esoknya...

"Pak, tunggu sebentar," Mbak Mekka menghalangi pak Wisnu yang hendak masuk ke ruangan.

"Ya, ada apa??", tampilan pak Wisnu seperti biasa cool.

Membuat para karyawati curi-curi pandang, cari muka dan seabreg alasan lainnya. Termasuk Mbak Mekka yang berharap banget akan masuk kategori calon istri pak Wisnu.

Hey....Mekka....pak Wisnu kan sudah milih Karin, iyah Karin yang kamu anterin ke kost-an. Wkwkkk.....

"Ada apa Mekka??", pak Wisnu mengulang pertanyaannya karena melihat mbak Mekka bengang bengong melihat pak Wisnu tanpa kedip. Terpesona.

"Oiyah, maaf pak, kemarin Karin meminta surat izin cuti. Dan sudah diletakkan diatas meja bapak.

Tanpa mengatakan apapun, pak Wisnu langsung buru-buru masuk ruangan.
Arah matanya langsung tertuju ke arah map merah yang diletakkan Karin semalam.

Ya aampuuun....Kaaarriiiin....
Pak Wisnu membanting tubuhnya di atas kursi kerja. Pelan-pelan dibukanya map merah yang terlihat rapih.

"Hari ini kau mengecewakanku lagi", ucap pak Wisnu pelan.

Setelah menandatangani surat cuti, pak Wisnu mengernyitkan dahi, heran saat ditemukannya kertas putih berisi syarat yang di catat Karin dengan tulisan yang tak beraturan, senyum pak Wisnu mengembang. "Iyeeesss....", meninjukan lengan kanan ke atas udara.

Teriaknya kencang bak sorak sorai 'Goooaaalll' para penonton yang menjagokan pemainnya yang berhasil memasukkan bola ke gawang.

Yeeeee...pak Wisnu kege-eran. Memangnya situ tipenya Karin. Jangan senang dulu pak ! Ehem...

Diambilnya HP dikantong pak Wisnu,
"Hallo, pak Johan. Siapkan saya mobil ya!!! Sekarang pak. Saya mau ke Cianjur. Tidak perlu pak. Saya pergi sendiri saja kesana", ditutupnya telepon genggam tersebut. Sambil senyum sendirian.

Aku benar-benar serius Karin. Akan kubuktikan kepadamu. Suara pak Wisnu mantap. Menatap ke langit ruangan, dibarengi simpul senyuman.

****Bersambung****


#harike5
#challenge14hari
#RBmenulisbanten
#fiksibergambar
#ibuprofesionalbanten

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2