Pernikahan dengan Syarat#3
#Pernikahan_dengan_syarat
#Part_3
#Mudho_Wamah
Surat cinta??!!
.
.
.
Tentu bukan dong !!!
Surat ini adalah permintaan pak Wisnu saat perjanjian di atas perahu kemarin ketika bertemu Karin. Menanyakan kepastian !!!
Setelah membaca tulisan tersebut, secercah harapan itu muncul. Entah Karin yang salah menulis kata dalam surat atau pak Wisnu yang salah memahami alias ke-ge-er-an. Hehe....
Yang pasti mengembang senyuman khas orang yang lagi kesemsem pingin cepat bertemu camer alias calon mertua. Padahal sebelum bertemu Karin, tak pernah sedikit pun ada keseriusan pak Wisnu untuk berbicara soal PERNIKAHAN.
Masih teringat jelas saat itu, ketika pak Wisnu bertanya soal pernikahan.
"Kenapa ya rin, banyak orang langsung menjalin ikatan pernikahan?". Tanya pak Wisnu penasaran.
"Duh ya, tanyanya ke yang sudah nikah dong pak. Saya kan belum pernah nyobain. Lha wong saya belum pernah menjalani". Jawab Karin asal, tidak terlalu tertarik.
Tiba-tiba teringat brosur itu.
"Ooya pak, ada seminar lho... Temanya membangun keluarga Sakinah Mawadah Warohmah", sambil mengingat-ingat sebuah brosur yang pernah dilihatnya di pinggir jalan.
"Jangan dibanyakin pacar pak, tapi diperbanyak ilmu. Agar setelah menjalin hubungan pernikahan itu berkah. Pernikahan itu berbeda dengan pacaran", sambungnya lagi, kayak mamah dedeh yang sedang ceramah. Hehe...
Dan atas saran Karin pun, akhirnya pak Wisnu mengikuti seminar tersebut. Ya, lumayanlah. Setelah mengikuti seminar tersebut, ada sedikit perubahan dalam diri pak Wisnu.
Haha...ingat pak!! baru sedikit lho...
Pak Wisnu, yang sering sekali gonta ganti pacar, kini memilih menghindar dari wanita-wanita yang berusaha mendekatinya.
Duuuhhh...yaaa ampuuun....playboy juga ya. Ehem... Mulai dari yang berambut pendek hingga berambut panjang. Tapi kalau yang berjilbab katanya sih belum pernah.
*****
"Permisi pak..."
Lamunannya pecah, saat Lely menawarkan kopi susu kepada pak Wisnu.
"Silahkan pak", Lely langsung pamit keluar.
Teringat map merah itu, langsung ditandatanganinya surat izin cuti milik Karin. Kemudian, pak Wisnu segera bergegas keluar ruangan. Tak lupa beberapa stok kaos dan kemeja dalam lemari buru-buru diambilnya, jaga-jaga jikalau dirinya pulang larut malam.
Ciiyyeee... Mengejar jodoh ceritanya. Ehem...
Dibalik pintu, Mekka sudah siap hendak memberikan jadwal meeting.
"Pak, hari ini kita ada meeting dengaaan....", belum selesai Mekka berbicara, pak Wisnu pergi dengan cueknya. Langsung melipat kertas yang diberikan Mekka.
"Batalkan saja ya!!! Nanti saya kabari lagi".
Pak Wisnu berjalan dengan cepat memasuki lift. Tanpa sedikit pun menatap Mekka. Yaaah...tak apa ya Mekka, maju terus pantang mundur!.
*****
Mobil pak Wisnu menembus beberapa mobil lainnya, melewati tol Tangerang, tol Meruya dan masuk melalui jalur puncak. Butuh waktu 6 jam untuk sampai ke alamat yang di tulis oleh Karin.
Waduh, pakai acara macet lagi. Pak Wisnu ngomel sendiri di dalam mobil. Membunyikan klakson berkali-kali.
Duh, Pak! Sabar dong! Jalanan umum begini asal klakson aja, sama keeleesss yang lainnya juga buru-buru ingin cepat jalan.
Pak Wisnu membuka jendela dan membeli minuman dingin yang dijual pedagang keliling.
"Satu ya bang!", disodorkannya uang sepuluh ribu kepada pedagang keliling.
"Ada acara apa sih bang? Sampai macet begini?",
"Asean Games om, biasalah om...menyambut para pejabat dan tamu undangan, jalan satu arah. Bus aja ga boleh masuk jalur puncak". Lelaki tersebut mencoba menjelaskan. Setelah memberikan uang kembalian, pedagang tersebut kembali berkeliling menawarkan botol minumannya.
Acara Paralayang yang diadakan pihak Asean Games, benar-benar membuat pengguna jalan harus ekstra sabar. Ditambah penonton yang berjubel memenuhi pinggiran jalan puncak, semakin membuat sukses acara tersebut. Jarang banget Asean Games diadakan di Indonesia kita ini. Jadi, yaa...nikmati saja ya pak Wisnu. Gak usah buru-buru laah....Santaaaai !!! Hihihi...
Aksi Paralayang dengan titik kejauhan menjadi sorak sorai para penonton di sekitar area. Berdecak kagum kepada peserta yang sanggup terbang tinggi melintasi antar jurang yang kapan saja siap melahap peserta yang jatuh. Tapi tidak dengan pak Wisnu. Fikirannya terus saja memandangi GPS, alamat yang tertera disana. Ya, alamat yang diberikan oleh Karin kemarin.
Di dalam sebuah surat di kertas putih,
Assalamu'alaikum.wr.wb.
Pak Wisnu, maafkan saya. Karena harus cuti mendadak. Ada yang harus saya selesaikan. Dan jika pak Wisnu serius ingin menjalin hubungan dengan saya, silahkan datang ke rumah abah saya. Tepatnya di Kampung dolan rt 08 rw 02 desa martosari. Cianjur.
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb
Isi surat yang bikin pak Wisnu ke-ge-er-an. Yeee.... Ternyata gitu doang isinya !!! Hehe... Padahal cuma di suruh bertemu dengan abahnya Karin. Tapi, pak Wisnu luarbiasa senang bukan kepalang euy.
*****
Sesampainya di tengah-tengah kota Bogor, seketika rasa lapar menyerang. Menelusuri jalanan puncak yang naik turun membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
Sebuah Cafe elite di apit oleh beberapa ruko modern, menjadi tujuan pak Wisnu untuk beristirahat sejenak. Memilih sofa putih dekat jendela.
Pandangannya tertuju ke luar. Lampu biru yang menerangi Cafe dan sekelilingnya membuat pak Wisnu merasakan keindahan kota ini. Design interior yang begitu unik.
Mungkin mirip-mirip Luca's Cafe dan Resto di salah satu wilayah Bogor.
"Mbak, pesan Oxtail Soup dan Fish-Chip, masing-masing satu porsi ya mbak!", Pak Wisnu menunjuk ke arah lembaran menu yang ditunjukkan oleh pelayan Cafe.
Yaelah..., jauh-jauh makan yang dipilih cuma sop buntut, ikan dan kentang. #upz.
"Minumannya Mint Tea ya mbak!", tambahnya lagi.
Tapi salut dengan pak Wisnu yang berubah drastis, sejak pak Wisnu yang super aktif bertanya ini dan itu kepada Karin, termasuk ke makanan yang halal. Yaa...sebelumnya segala makanan aneh dilahapnya bareng teman nongkrong, katanya yang penting MAKAN, entah yang dimakan haram atau halal.
Tapi kini pak Wisnu nampak berhati-hati. Kata Karin, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi. Emmm...kayaknya Karin mengutip salah satu ayat dalam Al-Qur'an.
Sayangnya pak Wisnu lupa ayat berapa. Ahh...boro-boro mengingat nama surat, lha wong baca aja gak pernah. Iyaa kaan pak?!!, hayooo ngaku.... Hihi.
Selesai memesan, pak Wisnu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
.
.
Lelah.
*****
Sebuah rumah yang tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan rumah-rumah di kota Tanggerang. Tapi berbeda dari rumah lain disekitarnya. Rapih dan bersih. Rumah milik abah Karin.
"Permisi.....", pak Wisnu lupa lagi untuk mengucapkan salam.
"Halloooo....permisi....", sahutnya lagi. Tak lama kemudian, terdengar jawaban dari dalam.
Gadis berkulit kuning manis, mengenakan rok dan berjilbab panjang. Namun terlihat lebih muda dari Karin. Siapa ya?!, pak Wisnu malah bengong.
"Maaf, cari siapa pak?".
Yaa aampuuunn...emang kelihatan kayak bapak-bapak ya, pak Wisnu menggerutu dalam hati.
"Ada Karinnya gak?".
Duh, ga sopan banget ya, langsung cari Karin. Emm...salah lagi deh.
"Ooh...bapak temannya Teh Karin?, Silahkan masuk dulu pak".
Pak Wisnu masuk.
Ternyata ramai sekali di dalam rumah Karin. Ada beberapa orang sedang berkumpul dan bersiap seperti sedang menunggu tamu.
"Owalaah...ini toh orangnya?, kasep pisan euy".
Seorang ibu yang cukup berusia lanjut, memuji pak Wisnu yang baru saja hendak bersalaman.
Pak Wisnu pasti kaget. Haha....
"Aduh, bukan. Ini temannya Karin".
Ibu yang terlihat lebih muda dibalut kerudung biru menjelaskan, menyuruh pak Wisnu duduk. Bentuk wajah Mirip seperti Karin. Pasti ibunya Karin!. Tebak pak Wisnu. Sepertinya Karin sudah cerita kalau pak Wisnu akan datang.
"Bagaimana nak Wisnu? Nyasar ya?", ibunya Karin langsung menyuguhkan teh hangat.
"Gak tante, hanya macet tadi di jalur puncak. Sepertinya disini akan ada acara ya tante?", pak Wisnu dengan ragu-ragu bertanya.
"Acara biasa, insyaa allah sebentar lagi datang laki-laki yang ingin dijodohkan oleh abahnya Karin".
Uhuk...uhuk...
Tiba-tiba pak Wisnu tersedak.
Mencerna kata-kata ibunya Karin barusan.
Tak percaya.
Dahinya mengernyit.
Jantungnya berdetak lebih kencang.
"Lamaran bu?", tanya pak Wisnu semakin penasaran.
Sudah nanggung kege-eran sih, berakhir kecewa juga. Yang sabar ya pak Wisnu. Hehe...
"Bukan nak, hanya baru perkenalan saja". Buru-buru ibunya Karin menjelaskan. Seperti bisa membaca pikiran pak Wisnu yang langsung kalut.
Baru saja pak Wisnu ingin bertanya lebih lanjut. Tiba-tiba terdengar suara motor masuk ke halaman rumah Karin.
Deg!!!
Hati pak Wisnu tambah kacau tak karuan.
Dilihatnya lelaki yang tidak terlalu tinggi, dengan mengenakan kemeja hitam bergaris. Rambut cepak. Terlihat Sederhana. Namun elegan. Menyapa ibu dan adiknya Karin di teras rumah.
Mengapa Karin ga jujur sedari awal sih?.
Yaa aampuuun kaarriiiin...
Awas ya, kalau nanti ketemu. Pak Wisnu terbawa emosi.
Lalu, seorang wanita memakai pakaian panjang, tiba-tiba memasuki ruang tamu. Jilbab panjang menutupi dada dengan motif kembang-kembang berwarna pink. Melempar senyum kepada pak Wisnu.KARIN.
*****Bersambung*****
Terimakasih kepada teman-teman yang bersedia melipir kesini.😘
Ditunggu kritik dan sarannya.
Mohon maaf jika banyak kekurangan dalam tulisan ini. 🤗
Cc teh Yuniastuti dan teh Winda Ayu Retno Asih
#harike6
#challenge14hari
#RBmenulisbanten
#fiksibergambar
#ibuprofesionalbanten

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini