Pernikahan dengan Syarat#1

    Part#1
Kalla hadzil ard mataqfii masahahLau na’isibila samahahWanta’ayasna bihabLau tadiqil ardi naskan kalla kolb
Lagu populer yang dinyanyikan Sabyan, terdengar jelas berdering melalui ponsel Karin. Diliriknya bagian layar, tertera nama yang menghubungi. PAK WISNU. Deg!!!. Hati Karin seketika langsung berdebar. Karin menengok ke arah jam dinding yang menggantung. Pukul 10.30. Ini kan belum jam istirahat. Mengapa pak Wisnu tiba-tiba menelpon. Yah, walaupun pak Wisnu adalah seorang atasan tapi setidaknya pak Wisnu harus menghargai bawahannya dong. Karin menggerutu.

Angkat?
Tidak?
Angkat?
Tidak?

Huuuffttt....kalau di reject pasti pak Wisnu akan berbicara panjang lebar dan gak akan berhenti pas nanti ketemu.

"Rin...cepetan angkat tuuuh..berisik tau!!", teriak Lely yang tengah sibuk membuat kopi untuk para karyawan.

"Hallo, Assalamu'alaikum....",
"Rin...cepet kemari ya, aku tunggu kamu disini. Pak Johan udah stand bay didepan. Sudah siap tuh anter kamu kesini."
"Tapi pak....".
Tut tut tut...tiba-tiba saja ponsel diputus.
Ampuuuun deeeh....
Ini lelaki terbuat dari apa ya, salam ga dijawab. Ngomong asal nyerocos aja, ga ada titik dan koma. Karin manyun lima senti.
Walaupun Karin merasa kesal, tapi rasa deg-degan itu selalu muncul kala berbicara dengan pak Wisnu. Entah karena sosoknya yang sungguh menjadi idola para wanita di kantor, atau karena sifatnya yang kadang lucu bikin Karin mesem-mesem sendiri.
"Aku pergi dulu ya Lel...beeeentaaarrr doang", Karin memelas meminta izin kepada Lely. Sahabat karibnya.
"Mau kemana sih kamu say??", Lely penasaran.
"Ga kemana-mana, keluar doang. Bye", Karin buru-buru pergi sebelum Lely mengincar pertanyaan lainnya yang bikin bingung tujuh keliling. Hehe.

*****
"Pak Johan, kita mau kemana ya?", tanya Karin penasaran.
"Kata pak Wisnu, supres mbak", haha...Karin tersenyum geli mendengar pak Johan mengatakan supres. Lelaki usia 50 tahunan ini adalah supir pribadi pak Wisnu. Puluhan tahun setia bekerja untuk keluarga pak Wisnu. Keluarga pak Wisnu yang super baik kepada siapapun, tidak pandang bulu.
"Bukan supres pak...tapi Surprise", Karin membetulkan ucapan beliau.
"Hehe....makluum mbak. Dulu waktu sekolah ga ada pelajaran bahasa inggris", La iyalah... Boro-boro bahasa inggris, mungkin dulu sulit juga menemukan sekolah terdekat, gak kayak sekarang-sekarang ini.

"Sudah sampai mbak",
Karin melongo. Hah??Pantai??. Ini toh tempat surprisenya.
Seketika mata Karin mencari sosok lelaki yang menelponnya tadi.
"Terimakasih ya Pak Johan sudah antar saya", dengan cepat Karin turun dari mobil.
"Sama-sama mbak, Assalamu'alaikum", Pak Johan izin pamit
"Wa'alaikumussalaam....", dijawabnya sambil melemparkan senyum kepada pria tua itu sebagai tanda hormat. Lalu mobil yang dikendarai, melaju kembali meninggalkan Karin sendiri.
Duh....kenapa sepi banget ini pantai, batin Karin menggerutu. Kenapa harus di Pantai sih, kenapa ga ngobrol di kantor aja.
Mata Karin mengitari penjuru pantai yang terlihat sepi. Tak berapa lama, terdengar samar-samar orang yang memanggil. Karin celingukan sambil berjalan.
"Kaaarrriiiin....", lelaki dengan lengan kemeja yang digulung, melambai dan tersenyum mengembang ke arahnya. Khas sekali dengan jam tangan berwarna hitam yang selalu menempel di pergelangan tangan.
Hah!!! Di atas perahu???. Gileee..ngapain tuh pak bos, panas-panas beginian milih nangkring diatas perahu. Enakan juga ngadem di ruangan ber AC pak. Hehe...diam-diam Karin senyum-senyum sendiri.
"Assalamu'alaikuum....", seperti biasa Karin selalu mengucapkan salam terlebih dahulu setiap kali bertemu, dan seperti biasa juga pak Wisnu selalu saja tidak pernah menjawabnya.
Ombak yang berkejaran seakan terlihat senang melihat kami berdua disini. Di atas perahu, yang entah berapa harga yang disewa oleh pak Wisnu.
"Ada yang mau aku obrolin Rin", lagi-lagi Karin kecewa, pak Wisnu tak pernah menjawab salamnya. Padahal wajib kan untuk menjawab salam.
"Ayo dong sini !" Sambil mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Karin yang gemetaran. Karin pun mundur selangkah, tak ingin disentuh pak Wisnu.
"Maaf pak, saya ga bisa lama-lama banyak pekerjaan di Kantor, pak Wisnu ada perlu apa ya?", sengaja Karin tertunduk, merasa bahwa ini bukanlah moment yang bagus untuknya menjawab pertanyaan kemarin, yang sempat pak Wisnu lontarkan disaat Karin masuk ke ruangan pak Wisnu mengantarkan kopi.
Angin yang berhembus mengibarkan jilbab Karin, seakan membelai ikut menenangkan hatinya yang kacau. Tapi saat ini dirinya tak ingin dibebani dengan lamaran pak Wisnu tempo lalu. Karin hanya ingin fokus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hanya itu.
"Pak Wisnu, saya....saya....emm...sayaa....", kata-kata Karin masih terbata. Tak tahu bagaimana harus diucapkannya penolakan itu kepada pak Wisnu. Antara keinginan dan kenyataan yang tak bisa berjalan beriringan.
"Ayolaah Karin....", pak Wisnu memandangnya penuh harap.
"Apa ada yang kurang dari diri saya??", pertanyaan pak Wisnu benar-benar membuat Karin terkejut. Entah mengapa lelaki ini begitu ingin memiliki Karin yang jelas-jelas hanya sebagai Office Girl di sebuah kantor miliknya. Jauh sekali status sosial mereka, ibarat cinderella yang dilamar pangeran.
"Ada pak !!!", Jawab Karin tegas. Terlontar begitu saja. Tak tega sebenarnya.
"What??", pak Wisnu tersenyum tak percaya. Menyungginkan sebelah bibirnya. Membuang tatapan ke arah lautan yang luas.
Jabatan? direktur.
Tampang? mirip-mirip aktor Korea laah.
Kesetiaan? Jangan ditanya.
Huuhh...Karin liat dirinya kurang apalagi sih. Pak Wisnu tiba-tiba garuk kepalanya yang gak gatel.
"It'sokey....kamu boleh tulis apa aja yang kurang dari diriku ya, besok aku tunggu di kantor jam 7 sebelum karyawan datang", Lagi-lagi pak Wisnu kecewa dengan jawaban Karin.
Karin membalikkan badannya, berjalan lesu. Ditemani air laut yang tiba-tiba saja tenang, tak ada ombak yang berkejaran.
"Saya pulang dulu pak, Assalamu'alaikum....", tanpa menoleh ke arah pak Wisnu. Berjalan lurus meninggalkan pak Wisnu yang berada sendiri di atas perahu.
Lah, tumben pak Wisnu gak ngejar. Biasanya langsung menawarkan diri ngajak bareng ke kantor. Mungkin pak Wisnu kecewa tingkat dewa ya. Hihiy....
Ya sudahlah ke kantor naik angkot saja. Mungkin shock mendengar ucapanku tadi. Bisik Karin sambil senyum-senyum sendiri.

***Bersambung***

Terimakasih kepada pembaca yang sudah meluangkan waktunya.
Mohon kritik dan sarannya ya 😘😘
Masih perlu banyak belajar menulis cerbung.

Komentar

  1. Sudah lama sejak hobi baca cerita bersambung gini teh. Ceritanya ringan enak dibaca :3 duh jadi penasaran tampang Pak Wisnu nih teh 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayyooo...tebak...mirip2 artis korea laahh....uhuk uhuk

      Hapus
    2. Hayyooo...tebak...mirip2 artis korea laahh....uhuk uhuk

      Hapus

Posting Komentar

Silahkan kirim saran untuk tulisan ini

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2