Kenapa Harus Aku


Sepeninggalnya, kami seperti tak tentu arah. Entahlah, kaki ini akan melangkaj kemana. Jika karena bukan kuasaNya. Tak mungkin ku bisa berdiri disini. Ya, waktu itu, keputusan yang amat berat, saat aku akan dikirim ke sebuah pesantren di salah satu desa. Ayahku meninggal saat usiaku menginjak 15 tahun. Ahh...kenapa harus aku??!. Kesal dan marah pada ibu. Apakah ibuku tak sanggup mengurus anaknya sendiri??, batinku menjerit.

Menangis semalaman membuatku lega. Segala penolakan sudah kulakukan, tapi terasa percuma. Seringkali ku marah kepadaNya. Mengapa harus aku yang 'dibuang' kesana??!. Pesantren kecil yang penuh dengan aturan yang kuanggap tak berguna.

"Buuu....aku ga mau ke pesantren. Titik", tangisku pecah saat ibu sedang beres-beres menyapu halaman.
"Rei....Pesantren tempatnya enak lho....", rayunya lagi, sambil mengelus rambutku pelan. Itu, itu dan itu saja yang ibu ucapkan. Enaklah. Banyak temenlah. Mandirilah. Bisa jadi ustadzahlah. Dan yang paling membuatku tak suka adalah ucapan ibu yang selalu mengungkit pesan ayah. Tapi ku sungguh tak percaya. Bagaimana mungkin ayah yang meminta??!. Ayah malah justru selalu tak rela jika aku jauh dari rumah. Selalu menuruti segala apa yang ku inginkan.

*****
Hari-hari di pesantren sungguh tidak mengenakkan kawan. Sungguh, percayalah. Disini aku selalu di suruh bangun tengah malam. Tadarus setelahnya. Selepas shubuh pun harus tetap memegang mushaf ini, Tahfidz !!! Ya, menghafal al-Qur'an. karena sore hari harus setoran hafalan kepada ustadzah Nuri disini, selaku pembimbing kami.

Tak hanya itu, bahasa sehari-hari kami gunakan bahasa inggris dan bahasa arab. Aahh...pelajaran mulok yang paling menyebalkan saat ku duduk di bangku SMP. Tapi Pelan-pelan kami diajarkan dan dibimbing ustadzah, hingga kami lancar berdialog menggunakannya.

Parahnya lagi, setiap waktu kecuali malam, jilbab ini harus menjulur panjang. Panas??! Ya, tentu saja. Tapi akhirnya kami pun terbiasa mengenakan kerudung yang panjang ini. Walaupun ga ngetrend seperti teman-teman lain yang ada diluar pesantren.

Tapi percayalah kawan, ternyata rasa TIDAK ENAK ini, hanya sebentar. Aku dan teman-teman menikmati masa-masa ini, saat dimarahi bahkan dihukum. Siapa yang salah??, ya tentu lah kami yang berulah.

*****
Setelah lulus, kami amat merindukan sekolah itu. Ilmu selama disana begitu luarbiasa manfaatnya. Bukan hanya hafalan al-Qur'an yang kita jaga. Bahasa yang dulu sering digunakan disana, masih begitu melekat. Bahasa inggris yang begitu menyebalkan, kini menjadi makanan harian tugas-tugas dikampus yang menggunung.

Hingga suatu hari, aku bersujud syukur kepadaNya. Menyesal karena dulu, ku salahkan Dia. Ku salahkan ibuku. Ku salahkan sekolah itu. Pesantrenku.
.
.
.
Berdebar saat pengumuman kampus terpajang, Ya Allah....Lolos !!!!
Mataku terbelalak dengan satu nama diurutan kedua 'Reika Dwi Anggraini'.
.
.
.
Pertukaran mahasiswa yang dipilih karena memiliki predikat bahas inggris terbaik. Aku terpilih ke Jepang !!!!. Hei...ke Jepang kawan !!! Yang banyak pohon Sakura tumbuh bersemi.
.
.
.
AllahuAkbar...sujud syukurku dan lantunan pujian padaNya tak henti kuucap. Selama enam bulan lamanya, aku dan dua mahasiswa lainnya akan diberangkatkan dengan cuma-cuma. Tak terasa menggenang air dipelupuk mataku. Tumpah seketika.

Ternyata benarlah,
Benar janjiNya,
Apa yang kita benci belum tentu buruk untuk kita.
Sesuai dengan firmanNya :
"...Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)

Dan langsung kuputuskan pulang ingin cepat bertemu dengannya, inginku memeluknya erat. ibuku!!!.

#End#

Mohon krisan dari teman-teman 🤗🤗
Cc Teh Yuni Astuti dan teh Winda
Seluruh member rumbel menulis IPBanten.


#harike2
#challenge14Hari
#RBMenulisBanten
#fiksibergambar
#ibuprofesionalbanten

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2