Kata Ibu
Teringat pada ibu-ibu gemuk yang kemarin memberikanku uang. Ibu itu salah satu rombongan yang sengaja berkunjung kesini. Ke tempat biasa aku dan teman-teman bermain. Keraton Kaibon namanya. Aku pun bingung, mengapa banyak orang berkunjung ke Banten ini. Kata ibu ini tempat bersejarah zaman kesultanan. Jauh sebelum aku dilahirkan. Dan yang lebih aku bingungkan lagi mengapa ibuku selalu menyuruh mengajak adik perempuanku setiap minggu untuk bermain disini. Walaupun aku tak suka bermain disini. Karena disini sangat panas sekali. Keringat mengucur membasahi.
Lelah sekali berkali-kali mengelilingi keraton Kaibon, walaupun luasnya yang kata orang-orang hanya mencapai 2 hektar. Lebih kecil dan lebih sempit dari keraton Surosowan. Tetap saja kakiku selalu merasa kepanasan. Sambil mengelilingi Keraton, kami terus mengikuti setiap rombongan yang datang, kata ibu harus selalu mengikuti mereka.
"Caaaapek kak..", adikku merintih karena telapak kaki kepanasan.
"Ya sudah, jangan kemana-mana ya, tunggu disini ya, nanti kakak balik lagi", pesanku.
Aku segera berlari ke arah gerbang yang memiliki lima pintu. Mengejar rombongan ibu-ibu gemuk itu. Lima pintu artinya lima waktu shalat, begitu ibuku pernah bercerita saat ku bertanya tentang gerbang ini. Selain itu, disini merupakan tempat tinggal ratu Aisyah. Sayangnya, bangunan ini hancur saat peperangan dengan belanda zaman dahulu.
Setiap kali orang yang datang kesini, selalu berfoto di antara reruntuhan dan sisa pondasi. Dan setiap kali mereka membutukan bantuan, disinilah aku datang menawarkan.
"Bu....saya bantu foto, mau ga?", ini kata-kata yang selalu ibu ajarkan.
"Ohh..iya dek...tolong bantuin ibu ya. Foto dari sana ya dek", Ibu gemuk itu menyodorkan Handphone yang baru pertama kali ini aku lihat. Handphone yang sangat besar. Aku sering melakukan ini. Kata ibu ini seperti permainan. Bermain handphone dengan memotret orang-orang.
Setelah ku membantu mereka, langsung kusodorkan toples bekas yang kujinjing setiap minggu. Beragam pemberiannya. Ada yang memberikan 2.000, 5.000 bahkan 10.000. Ada juga yang tidak memberikan uang sama sekali. Ahh..tapi itu sungguh tak masalah bagiku. Karena kata bu guru, jika kita membantu orang lain, maka akan mendapat pahala di akhirat. Tapi berbeda dengan ibuku, ibu selalu marah jika kuceritakan orang yang tidak memberiku uang. Kata ibu, harusnya aku bisa memelas meminta-minta hingga mereka memberikan uangnya. Tapi sungguh aku tidak mau.
Pernah juga ada yang bertanya,
"Ibumu mana dek??", tanya seorang perempuan yang terlihat lebih muda dari ibu gemuk tadi.
"Kelas 6 kak",
"Uangnya untuk apa itu??", menunjuk ke arah toples milikku.
"Kata ibu untuk membeli beras kak",
Aku tak banyak bicara, karena kata ibu, tidak boleh berlama-lama mengobrol dengan orang yang tidak kita kenal.
Ku segera pergi tanpa pamit dan berlari ke tempat adikku menunggu.
Ibu tak tahu, ditengah panasnya terik matahari yang menyorot kulit hitamku, airmata tiba-tiba menetes. Tak terasa. Namun langsung ku hapus, dengan baju lusuhku. Tak boleh menangis. Aku pasti kuat. Mencarikan ibuku uang untuk membayar hutang beras di warung milik bu Indah.
Jika rombongan sudah tidak ada yang datang, aku dan Nina boleh pulang. Begitu kata ibu, berarti mainnya sudah selesai. Uang yang di dapat kumasukkan kantong plastik besar. Ku gandeng adikku. Rasa lapar juga sudah membuat perutku melilit kesakitan.
"Nin...kalo ibu tanya, bilang ya sudah ga ada orang",
Seperti biasa, dia mengangguk mengiyakan.
#end#
Cc Teh Yuniastuti & Teh Winda
#harike3
#challenge14hari
#RBmenulisbanten
#fiksibergambar
#ibuprofesionalbanten

hihihi, jadi agak sensi saya kalau baca judulnya, soalnya jadi merasa gemuk hahahah
BalasHapustapi bagus juga ya jadi panggilan "ibu-ibu gemuk" :D
Duh duh duh...maafkeun...ceritanya anak kecil yg cerita.hihi...
BalasHapusDuh duh duh...maafkeun...ceritanya anak kecil yg cerita.hihi...
BalasHapus