Anakku seperti malaikat#part4


Ini kali pertama ku gendong malaikat kecilku. Di saat bayi lainnya menangis, Afra hanya diam, untungnya dokter langsung menepuk punggung Afra dan ucapan syukur pun terlantun di bibir dokter Cindy. Di saat yang lain tertawa bahagia melihat buah hati mereka, kami justru menahan tangis membayangkan kondisi Afra yang memprihatinkan.

Salah satu perawat yang mengantarkan Afra ke ruangan, menceritakan beberapa hal yang perlu diperhatikan saat Afra menggunakan pipet agar susu masuk langsung ke dalam mulut. Langit mulut tanpa penutup, akan rawan sekali tersedak dan susu masuk paru-paru.
" Sabar ya sayang....kamu pasti cepat normal. ...ga akan pakai pipet ini lagi...", sapa kak Dini langsung menggendong Afra tanpa ragu.
" Iya mbak...banyak kasus bayi Afra di luar sana. Dan sekarang sudah normal seperti anak lainnya." Sambil pamit perawat pun menyodorkan box susu beserta pipetnya.
" Terima kasih, sus", mas Adit mewakili. Sedangkan aku, hanya bisa menatap Afra yang sedang tertidur dalam pangkuan kak Dini.

****
Kusandarkan tubuhku di ranjang besi milik mamah.
" Sampai kondisiku stabil", kata mas Adit.
Saat kutanya berapa lama kami tinggal di rumah mamah. Tentu saja, kak Dini sangat senang sekali. Dengan begitu kak Dini merasa tidak kesepian seperti sebelumnya. Belum memiliki keturunan adalah salah satu hal yang membuat wanita lemah. Lemah dihadapan suami. Lemah dihadapan mertua. Lemah dihadapan keluarga apalagi masyarakat. Saat harus menghadapi pertanyaan serupa, "Din, ko kamu belum hamil juga ya", salah satu teman kak Dini nyinyir. Namun, kelemahan itulah yang justru membuat kak Dini tegar. Sejak kehadiran Afra, kak Dini seperti terhibur. Mulai melupakan kelmahannya. Kak Dini dan kak Andi sangat senang menjaga dan menggendong Afra.

" Fir, besok kak Dini saja yang bawa Afra ke Jakarta ya. Biar mamah yang nungguin kamu disini", Pinta kak Dini.
" Aku ga enak, kak Dini harus izin kantor besok",
" Sssttt....udah ga papa...satu hari izin ga akan dipecat. Lagipula bos kakak sudah memberikan izin besok. Katanya berapa hari pun ga masalah", nada kak Dini tersenyum bangga. Mana ada bos yang mecat karyawan sebagus kak Dini.
Semua persiapan beres. Masih ada ketidakrelaan saat harus melepas Afra besok. Tapi tak mungkin juga aku ikut. Kondisi pasca secar lebih menyakitkan ketimbang lahiran normal. Tenang saja Fira, pasrahkan semua kepadaNya, bathinku menenangkan.

"Mas...", panggilku lembut.
" Ya, ada apa sayang??, masih kepikiran besok ya??". Tebak mas Adit. Aku pun menggangguk.
Diremasnya jari jemariku, " Insya Allah besok mas akan langsung hubungi saat hasil ronsen otak sudah dijelaskan dokter. Sekarang yang penting kita semua berdoa semoga tidak ada kelainan lainnya". Lagi-lagi airmataku mengalir tak terbendung.
" Setelah itu, kita hanya bisa pasrah", peluk mas Adit sambil menyandarkan kepalaku didadanya. Dicium keningku sambil berkata, " Semua ini akan kita lalui bersama sayang, Allah pasti ingin menjadikan kita hambaNya yang sabar dan bersyukur".
****
" Titip Afra yah kak...", kak Fira hanya tersenyum dan menggangguk. Aku, mamah dan papah hanya bisa melihat mobil yang sudah berlalu dari halaman perkir. Lantunan doa tak berhenti.
Sesekali melihat HP yang tak berdering. Belum ada kabar.
Tidurpun tak bisa. Susah payah memejamkan mata. Sebisa mungkin kuhafal dan kuulang surat-surat pendek Al-Qur'an sebagai penguat.
Bagaimana jika nantinya Afra tak bisa melihat atau mengalami kelumpuhan. Duh...ya Allah tak bisa kubayangkan kepahitan hidup ini. Secara sadar akupun tahu, akan ada ujian bagi mereka yang menyatakan orang beriman. Namun disisi lain, aku penuh keluh kesah dalam menghadapiNya.

Tak lama kemudian,
Suara dering HPku berbunyi.
Ku baca dengan hati tak menentu. Seakan jantung semakin cepat berdetak. Ku baca pesa whatsapp di layar depan. Dari kak Dini.
Ya Allah, apapun hasilnya akan kami terima dengan ikhlas. Doaku pasrah.

****bersambung****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2