Ini Salah Mama !!!
" Bangun nduk....bangun....hei...sudah siang nih, mana belum sholat shubuh nduk. Mau jadi apa kamu?".
Suara si mbok terdengar nyaring ditelingaku. Berisik. Kututup kepala dengan bantal.
"Yaa ampuuun....sholat nduk!, ayo sudah jam 6 ini."
Lama kelamaan gendang telingaku bisa pecah mendengar ocehan mbok yang ga jelas. Langsung ku mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi, sambil lulur lebih asyik ketimbang diceramahi di atas tempat tidur.
"Oiyah mbok, mama kemana? Sudah pergi?", tanyaku sambil mengeringkan rambut panjang dengan handuk.
"Ya begitulah nduk, mbok juga ga lihat ibumu pergi jam berapa", muka si mbok terlihat sedih.
Sebetulnya tanpa menanyakan pun aku sudah tahu kemana mama pergi. Aku pun tahu, jam berapa mama keluar rumah. Diam-diam shubuh tadi ku sengaja mengintip di balik jendela. Mama pergi setiap hari diam-diam entah kemana.
Sedangkan aku??. Hanyalah anak yang tak tahu harus menempuh jalan yang mana.
" Huuussttt....kok melamun??, ayo di makan nasi gorengnya, mumpung masih hangat". Ku balas dengan cengiran.
" Minta uang dong mbok, mau jalan bareng teman pulang sekolah".
" Uang melulu, kemarin mbah udah kasih lima puluh ribu kamu kemanain??"
" Abis mbok, jaman sekarang ga cukup uang segitu" rayuku seperti anak kecil.
Si mbok malah ngeloyong pergi ke dapur tanpa berkata apapun.
" Ga banyak kok mbok..." Rayuku lagi.
Si mbok tetap diam.
" Uang kamu abis buat apa nduk".
Yess...akhirnya rayuanku berhasil. Si mbok ga bakalan tega, lihat cucunya mengemis seperti ini. Walaupun kusadari, perbuatanku tidak pernah membuat mbok bahagia. Mulai dari kasih sayang dan materi semua mbok berikan kepadaku, hingga kumerasa tak pernah kekurangan sedikit pun.
Tapi masa bodo ahh....itu bukan urusanku. Aku ga pernah minta dilahirkan dari rahim mamaku. Mama ga pernah memberikan uang jajan, jadi ya wajar dong aku minta ke mbok.
Langsung ku tancap gas.
Menjauhi rumah mbok yang terlihat sudah sangat usang. Kualihkan rasa iba ini dan ku buang jauh-jauh. Ini semua salah mama!
*****
" Hei....traktiran lagi nih! " dari jauh May menyapa.
" Capucino aja, gue lagi kanker alias kantong kering ". Jawabku sinis.
" Kenapa lagi sih lho?! ", tanyanya sambil mencolek pundakku.
" Bete !!!"
" ahh...paling kalau ada kak Yoga betenya langsung hilang ", May meledek seakan tahu perasaanku saat ini.
Kak Yoga, kakak kelas kami di sekolah. Dia menjabat sebagai ketua MPK saat ini. Ke bayang banget betapa pintar dan kerennya. Dan kalau lihat kak Yoga bicara, seakan semua terhipnotis melihat gaya bicaranya.
" Win...lho udah bicara ma nyokap?! "
Pertanyaan May memecahkan lamunanku tentang kak Yoga.
" Udah deh, ga usah di bahas. Males gue."
" Win.... "
Langsung kutinggalkan May di Kantin sendiri.
" Win....tunggu dong ". Teriak May hingga membuat semua Siswa menoleh ke arah kami.
May langsung menggenggam pergelangan tanganku kencang.
" Ga usah dibahas lagi deh May ", jawabku ngotot.
" Okeey.... Gue gak akan bahas lagi. Tapi lo harus sadar Win, semuanya ga akan selesai dengan cara seperti ini!" May memulai ceramahnya lagi.
Satu-satunya orang yang tahu keadaanku kini, hanya May.
Ku melihat mama di mall minggu lalu. Mama yang dahulu kubanggakan. Mama yang kukira banting tulang dari shubuh hingga malam. Ternyata membodohi kami di belakang.
Hingga suatu hari saat mama kegirangan mendapat segepok uang, hendak memberikannya kepadaku. Memberikan kebebasan untuk membeli apapun. Tapi langsung kulemparkan uang itu ke wajah mama.
Uang itu tak sebanding dengan semua kenyataan ini. Sejak itu aku hanya diam. Seluruh keperluan hidup, kini kulimpahkan ke si mbok.
" Win, tante Wina semalam telfon. Menanyakan kenapa lo berubah dan ga mau ngomong."
" Bodo amat, gue gak mau mikirin. Pagi tadi gue lihat sendiri, nyokap dijemput sama om yang kemarin kita lihat di mall. Setiap hari dan di jam yang sama May. Coba aja lo bayangin, janda pergi sama lelaki yang bukan suaminya."
" Ya kan lo belum tanya Win, itu siapa dan mereka ada hubungan apa?" May ikutan ngotot.
Tiba-tiba Aris memanggil kami dengan nafas ngos-ngosan.
" Win, cepet ke kantor, ada telepon penting".
Mataku beradu dengan May saling menatap. May menaikkan bahu tanda tak mengerti.
" Hallo, Win, Cepat pulang sekarang yah!", suara seorang lelaki dari seberang telepon terdengar terburu-buru.
" Halo ini siapa ya?! Halo?! Halo?!", perasaanku semakin tak menentu, suara lelaki itupun tak terdengar.
" Win, nanti diantar Bu Tati dan Pak Angga ya". Bu Tati semakin menambah rasa penasaranku.
Mobil sekolah yang dikendarai pak Angga, menunggu di pintu gerbang. Bu Tati meminta May menemaniku.
"Ada apa ini?! Apa sesuatu terjadi pada si mbok yah?." fikiranku sudah tak terkendali. Seperti sedang bermain teka teki.
*****
Aku pun turun dari mobil sekolah, melihat sekitar yang sedang duduk rapih dan tenang. Tak kalah bendera kuning yang seakan menyambutku dengan histeris. Menambah dadaku berdegup kencang dan semakin kencang.
Siapa??. Mbok ?? Atau Mbah ??.
Mulai ku melangkah dengan berat. May membantu langkahku, seakan sudah siap jika ku pingsan sewaktu-waktu.
Semua tamu memandangku dengan iba. Menatapku dengan rasa kasihan.
Dia, lelaki itu??
" May, kenapa lelaki yang di mall ada disini??", bisikku menghentikan langkah saat hendak memasuki rumah tua milik mbok.
May pun tak berkata.
Kulihat dibalik jendela mbok sedang berbicara bersama tetangga sambil mengusap airmata. Mbah yang duduk termenung seperti biasa, karena lumpuh jadi hanya bisa duduk tak berdaya.
Lalu, siapa yang ada dibalik kain panjang tergeletak terbujur kaku??!!
Mama???!!!.
Airmata seakan tak kuat lagi terbendung dipelupuk mata ini.
" Ini ada titipan dari mama", lelaki itu memberikan beberapa amplop kepadaku.
Segera ku baca satu persatu. Tanpa kuhayati lagi, kubaca dengan cepat.
Mataku pun tertuju pada beberapa kalimat yang ditulis mama di surat itu.
Tangisanku pun semakin pecah.
Semua seakan seperti mimpi.
Yang ku tak tahu bagaimana menghadapi semuanya sendiri.
"Windy...". Tangan itu menggenggamku. Ku peluk ayah erat.
" Maafin Windy.... Ini bukan salah mama!!! ".
" Istighfar Windy....mama sudah mengikhlaskan semuanya, kamu juga yah. Mama juga sudah memahami dan memaafkan kamu." kata-kata ayah seakan membuat ketenangan baru dihati ini.
***** Tamat *****
Suara si mbok terdengar nyaring ditelingaku. Berisik. Kututup kepala dengan bantal.
"Yaa ampuuun....sholat nduk!, ayo sudah jam 6 ini."
Lama kelamaan gendang telingaku bisa pecah mendengar ocehan mbok yang ga jelas. Langsung ku mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi, sambil lulur lebih asyik ketimbang diceramahi di atas tempat tidur.
"Oiyah mbok, mama kemana? Sudah pergi?", tanyaku sambil mengeringkan rambut panjang dengan handuk.
"Ya begitulah nduk, mbok juga ga lihat ibumu pergi jam berapa", muka si mbok terlihat sedih.
Sebetulnya tanpa menanyakan pun aku sudah tahu kemana mama pergi. Aku pun tahu, jam berapa mama keluar rumah. Diam-diam shubuh tadi ku sengaja mengintip di balik jendela. Mama pergi setiap hari diam-diam entah kemana.
Sedangkan aku??. Hanyalah anak yang tak tahu harus menempuh jalan yang mana.
" Huuussttt....kok melamun??, ayo di makan nasi gorengnya, mumpung masih hangat". Ku balas dengan cengiran.
" Minta uang dong mbok, mau jalan bareng teman pulang sekolah".
" Uang melulu, kemarin mbah udah kasih lima puluh ribu kamu kemanain??"
" Abis mbok, jaman sekarang ga cukup uang segitu" rayuku seperti anak kecil.
Si mbok malah ngeloyong pergi ke dapur tanpa berkata apapun.
" Ga banyak kok mbok..." Rayuku lagi.
Si mbok tetap diam.
" Uang kamu abis buat apa nduk".
Yess...akhirnya rayuanku berhasil. Si mbok ga bakalan tega, lihat cucunya mengemis seperti ini. Walaupun kusadari, perbuatanku tidak pernah membuat mbok bahagia. Mulai dari kasih sayang dan materi semua mbok berikan kepadaku, hingga kumerasa tak pernah kekurangan sedikit pun.
Tapi masa bodo ahh....itu bukan urusanku. Aku ga pernah minta dilahirkan dari rahim mamaku. Mama ga pernah memberikan uang jajan, jadi ya wajar dong aku minta ke mbok.
Langsung ku tancap gas.
Menjauhi rumah mbok yang terlihat sudah sangat usang. Kualihkan rasa iba ini dan ku buang jauh-jauh. Ini semua salah mama!
*****
" Hei....traktiran lagi nih! " dari jauh May menyapa.
" Capucino aja, gue lagi kanker alias kantong kering ". Jawabku sinis.
" Kenapa lagi sih lho?! ", tanyanya sambil mencolek pundakku.
" Bete !!!"
" ahh...paling kalau ada kak Yoga betenya langsung hilang ", May meledek seakan tahu perasaanku saat ini.
Kak Yoga, kakak kelas kami di sekolah. Dia menjabat sebagai ketua MPK saat ini. Ke bayang banget betapa pintar dan kerennya. Dan kalau lihat kak Yoga bicara, seakan semua terhipnotis melihat gaya bicaranya.
" Win...lho udah bicara ma nyokap?! "
Pertanyaan May memecahkan lamunanku tentang kak Yoga.
" Udah deh, ga usah di bahas. Males gue."
" Win.... "
Langsung kutinggalkan May di Kantin sendiri.
" Win....tunggu dong ". Teriak May hingga membuat semua Siswa menoleh ke arah kami.
May langsung menggenggam pergelangan tanganku kencang.
" Ga usah dibahas lagi deh May ", jawabku ngotot.
" Okeey.... Gue gak akan bahas lagi. Tapi lo harus sadar Win, semuanya ga akan selesai dengan cara seperti ini!" May memulai ceramahnya lagi.
Satu-satunya orang yang tahu keadaanku kini, hanya May.
Ku melihat mama di mall minggu lalu. Mama yang dahulu kubanggakan. Mama yang kukira banting tulang dari shubuh hingga malam. Ternyata membodohi kami di belakang.
Hingga suatu hari saat mama kegirangan mendapat segepok uang, hendak memberikannya kepadaku. Memberikan kebebasan untuk membeli apapun. Tapi langsung kulemparkan uang itu ke wajah mama.
Uang itu tak sebanding dengan semua kenyataan ini. Sejak itu aku hanya diam. Seluruh keperluan hidup, kini kulimpahkan ke si mbok.
" Win, tante Wina semalam telfon. Menanyakan kenapa lo berubah dan ga mau ngomong."
" Bodo amat, gue gak mau mikirin. Pagi tadi gue lihat sendiri, nyokap dijemput sama om yang kemarin kita lihat di mall. Setiap hari dan di jam yang sama May. Coba aja lo bayangin, janda pergi sama lelaki yang bukan suaminya."
" Ya kan lo belum tanya Win, itu siapa dan mereka ada hubungan apa?" May ikutan ngotot.
Tiba-tiba Aris memanggil kami dengan nafas ngos-ngosan.
" Win, cepet ke kantor, ada telepon penting".
Mataku beradu dengan May saling menatap. May menaikkan bahu tanda tak mengerti.
" Hallo, Win, Cepat pulang sekarang yah!", suara seorang lelaki dari seberang telepon terdengar terburu-buru.
" Halo ini siapa ya?! Halo?! Halo?!", perasaanku semakin tak menentu, suara lelaki itupun tak terdengar.
" Win, nanti diantar Bu Tati dan Pak Angga ya". Bu Tati semakin menambah rasa penasaranku.
Mobil sekolah yang dikendarai pak Angga, menunggu di pintu gerbang. Bu Tati meminta May menemaniku.
"Ada apa ini?! Apa sesuatu terjadi pada si mbok yah?." fikiranku sudah tak terkendali. Seperti sedang bermain teka teki.
*****
Aku pun turun dari mobil sekolah, melihat sekitar yang sedang duduk rapih dan tenang. Tak kalah bendera kuning yang seakan menyambutku dengan histeris. Menambah dadaku berdegup kencang dan semakin kencang.
Siapa??. Mbok ?? Atau Mbah ??.
Mulai ku melangkah dengan berat. May membantu langkahku, seakan sudah siap jika ku pingsan sewaktu-waktu.
Semua tamu memandangku dengan iba. Menatapku dengan rasa kasihan.
Dia, lelaki itu??
" May, kenapa lelaki yang di mall ada disini??", bisikku menghentikan langkah saat hendak memasuki rumah tua milik mbok.
May pun tak berkata.
Kulihat dibalik jendela mbok sedang berbicara bersama tetangga sambil mengusap airmata. Mbah yang duduk termenung seperti biasa, karena lumpuh jadi hanya bisa duduk tak berdaya.
Lalu, siapa yang ada dibalik kain panjang tergeletak terbujur kaku??!!
Mama???!!!.
Airmata seakan tak kuat lagi terbendung dipelupuk mata ini.
" Ini ada titipan dari mama", lelaki itu memberikan beberapa amplop kepadaku.
Segera ku baca satu persatu. Tanpa kuhayati lagi, kubaca dengan cepat.
Mataku pun tertuju pada beberapa kalimat yang ditulis mama di surat itu.
Seakan petir menyambar bagian ubun-ubunku, semua terasa gelap. Tak kuat ku membayangkan apa yang selama ini kufikirkan. Jahat sekali rasanya diri ini. Di saat mama sedang sakit tapi ku tak ada di sisinya. Hingga ajal menjemput mama. Yang kutahu, mama memang pernah menikah sebelumnya, dan aku tak pernah tahu, wajah ayah kandungku. Mama hanya mengenalkanku dengan pria yang menelantarkan kami. Membuat gelap kehidupan kami. Memaksa kami, kembali ke rumah mbok. Mama tak pernah memberitahuku, bahwa dirinya memiliki penyakit yang bisa merenggut nyawa kapan saja. Uang itu??!!! Yang kulemparkan dan kukira uang hasil melacur. Itu adalah uang pemberian ayah kandungku sendiri. Mama ingin mengajakku jalan-jalan sebelum kepergian selama-lamanya.
Lelaki itu adalah dokter mama, yang selama ini mengajak mama terapi. Bukan hanya sekedar dokter, dia adalah lelaki yang dahulu mama tinggalkan hanya demi pria yang mama kira baik dan sholih. Lelaki ini adalah ayah kandungmu, Windy. Ayahmu yang meninggalkan mama dan kamu adalah hanya sekedar ayah tiri. Namun mama tak ingin kamu memandang sebelah mata terhadap siapapun dan sebanyak apapun kesalahan yang diperbuat ayah tirimu. Kini, kembalilah kepada ayah kandungmu. Sudah waktunya, sosok ayah hadir untuk melengkapi warna hidupmu.
Tangisanku pun semakin pecah.
Semua seakan seperti mimpi.
Yang ku tak tahu bagaimana menghadapi semuanya sendiri.
"Windy...". Tangan itu menggenggamku. Ku peluk ayah erat.
" Maafin Windy.... Ini bukan salah mama!!! ".
" Istighfar Windy....mama sudah mengikhlaskan semuanya, kamu juga yah. Mama juga sudah memahami dan memaafkan kamu." kata-kata ayah seakan membuat ketenangan baru dihati ini.
***** Tamat *****
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini