Hanya akan jadi kenangan
Tepat di tanggal 16 Juli 2018, ramai sekali jalan. Memenuhi jalur beton yang biasa sepi selama lima minggu liburan. Kini sudah dipadati dengab kendaraan motor dan mobil yang siap balapan.
Tidak biasanya....karena hari ini masuk sekolah. Awal tahun ajaran baru kan dimulai. Masing-masing siswa yang sibuk menjalani Masa Orientasi pun mulai melirik balon-balon yang berjejer dijalanan.
Tahun tetap berganti tahun.
2017-2018 berganti 2018-2019.
Semangat siswa tak kalah dari semangat orangtua yang sudah siap siaga. Baik menyiapkan dari pagi buta sampai mengantar hingga ke pintu gerbang. Semua tampak biasa. Tapi bagi mereka yang menjalankan, semua terasa istimewa, karena hari ini akan menjadi kenangan di tahuk berikutnya. Tak kalah orangtua yang memasukkan anaknya ke tingkat sekolah dasar sudah berebut kursi dari hari sebelumnya. Hihiy....senyum dan geli dibuatnya. Saking (bahasa banten) khawatir anaknya tidak kebagian bangku di kelas satu. Begitu ucapnya. Di tulisnya pula nama anak di kertas kosong yang ditempel di atas meja sekolah dengan solasi kecil.
Kami pun memaklumi, semangat yang luarbiasa dari para walimurid menjadi warna di awal tahun ini. Kan jadi kenangan di tahun depan nanti.
Begitu pula dengan kepindahan ini, hanya sebatas pindah tugas ke daerah yang lebih dekat domisili. Tapi meninggalkan tempat mengajar di sekolah sebelumnya, sangat membuat hati terasa berat. Meninggalkan seluruh rangkaian kegiatan yang sudah rutin dijalankan bertahun-tahun dan harus melepaskannya dengan keikhlasan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Baik sementara di dunia maupun perpisahan kekal selamanya.
Isak tangis siswa membuat haru lapangan upacara. Sebenarnya sudah bersiap diri menyambut hari ini, menahan segala rasa. Namun akhirnya tumpah juga. Tak kalah guyonan guru yang menjadi makanan harian, kini terpaksa harus ditinggalkan.
Pilihan tetaplah pilihan.
Inilah jalan yang harus ditempuh dan dijalani. Hanya bisa berdo'a dalam hati. Berharap Allah selalu menentramkan kaki dimanapun ia berpijak. Menjadikan keberkahan bagi ruh semesta alam. Yang lalu, hanya tinggal kenangan, warna yang mungkin tak bisa dilupakan. Walaupun tak hanya tawa yang berhias, nuansa yang gelap kadang menyelimuti hari-hari kita. Dan kian lama kan terhapus jua dengan berbagai peristiwa di sekeliling kita. Hari ini kan menjadi masa lalu di masa yang akan datang. Semua akan terasa berbeda. Yang tetap sama hanyalah amal yang kita lakukan, yang akan menjadi jejak di sebuah buku amalan. Yang di catat oleh para malaikat yang ditugaskan. Perpisahan yang hak hanyalah akhirat. Karena hanya ada dua pilihan tempat kita kembali.
Pesan terakhir....
Saat ku ucapkan dalam isakan.
Jangan pernah berputus asa nak....
Belajar belajar belajar dan teruslah belajar. Terakhir berdoalah, semoga allah memampukan segalanya. Menjadikan insan yang mulia di dunia. Aaamiiiin yaa robbal 'alamii .....
Tidak biasanya....karena hari ini masuk sekolah. Awal tahun ajaran baru kan dimulai. Masing-masing siswa yang sibuk menjalani Masa Orientasi pun mulai melirik balon-balon yang berjejer dijalanan.
Tahun tetap berganti tahun.
2017-2018 berganti 2018-2019.
Semangat siswa tak kalah dari semangat orangtua yang sudah siap siaga. Baik menyiapkan dari pagi buta sampai mengantar hingga ke pintu gerbang. Semua tampak biasa. Tapi bagi mereka yang menjalankan, semua terasa istimewa, karena hari ini akan menjadi kenangan di tahuk berikutnya. Tak kalah orangtua yang memasukkan anaknya ke tingkat sekolah dasar sudah berebut kursi dari hari sebelumnya. Hihiy....senyum dan geli dibuatnya. Saking (bahasa banten) khawatir anaknya tidak kebagian bangku di kelas satu. Begitu ucapnya. Di tulisnya pula nama anak di kertas kosong yang ditempel di atas meja sekolah dengan solasi kecil.
Kami pun memaklumi, semangat yang luarbiasa dari para walimurid menjadi warna di awal tahun ini. Kan jadi kenangan di tahun depan nanti.
Begitu pula dengan kepindahan ini, hanya sebatas pindah tugas ke daerah yang lebih dekat domisili. Tapi meninggalkan tempat mengajar di sekolah sebelumnya, sangat membuat hati terasa berat. Meninggalkan seluruh rangkaian kegiatan yang sudah rutin dijalankan bertahun-tahun dan harus melepaskannya dengan keikhlasan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Baik sementara di dunia maupun perpisahan kekal selamanya.
Isak tangis siswa membuat haru lapangan upacara. Sebenarnya sudah bersiap diri menyambut hari ini, menahan segala rasa. Namun akhirnya tumpah juga. Tak kalah guyonan guru yang menjadi makanan harian, kini terpaksa harus ditinggalkan.
Pilihan tetaplah pilihan.
Inilah jalan yang harus ditempuh dan dijalani. Hanya bisa berdo'a dalam hati. Berharap Allah selalu menentramkan kaki dimanapun ia berpijak. Menjadikan keberkahan bagi ruh semesta alam. Yang lalu, hanya tinggal kenangan, warna yang mungkin tak bisa dilupakan. Walaupun tak hanya tawa yang berhias, nuansa yang gelap kadang menyelimuti hari-hari kita. Dan kian lama kan terhapus jua dengan berbagai peristiwa di sekeliling kita. Hari ini kan menjadi masa lalu di masa yang akan datang. Semua akan terasa berbeda. Yang tetap sama hanyalah amal yang kita lakukan, yang akan menjadi jejak di sebuah buku amalan. Yang di catat oleh para malaikat yang ditugaskan. Perpisahan yang hak hanyalah akhirat. Karena hanya ada dua pilihan tempat kita kembali.
Pesan terakhir....
Saat ku ucapkan dalam isakan.
Jangan pernah berputus asa nak....
Belajar belajar belajar dan teruslah belajar. Terakhir berdoalah, semoga allah memampukan segalanya. Menjadikan insan yang mulia di dunia. Aaamiiiin yaa robbal 'alamii .....
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini