Aku Ingin Hamil !!!

Aku memegang perutku, seperti ibu-ibu lainnya yang datang bergantian kesana. Kulihat satu persatu perut mereka, ada yang sebesar balon, ada yang masih kempes seperti tidak berisi, ataupun ada juga yang sangat besar karena badan kegemukan. Tapi aku sangat senang, senang sekali melihat mereka yang memiliki perut kebesaran. Lagi-lagi ku memegang perutku sendiri.

" Sudah berapa bulan mbak?? ", tanya salah seorang ibu muda berbaju merah.
" Ohh... Sudah 9 bulan mbak", jawab ibu yang satu lagi sambil menahan lelah karena menggotong perutnya yang sembilan bulan.
Kuperhatikan mereka yang asyik mengobrol berdua. Seru. Asyik. Menyenangkan melihatnya.
" Ibu Mita.... Ibu Mita.... Ibu Mita.... ", panggil salah seorang bidan puskesmas itu kepada seluruh pasien yang berada di ruang tunggu. Tapi ibu Mita tidak kunjung datang, atau mungkin ibu Mita pulang setelah mendaftar.
" Mbak, siapa namanya?? ", salah satu ibu setengah baya tersebut menatapku, mungkin dikiranya aku adalah ibu Mita.
Aku hanya diam, diam seribu bahasa tanpa berkata. Justru aku menghindar, karena aku bukan ibu Mita.
Setengah berlari kecil aku menuju ke kamarmandi Puskesmas. Ku bersembunyi di balik pintu kamarmandi yang terbuka. Ku mengintip diam-diam ibu tadi. Bukan, aku bukan ibu Mita. Tapi tidak ku jawab.
Setelah ibu itu pergi ke ruang pengambilan obat, aku keluar dari kamarmandi, duduk kembali melihat orang-orang masuk bergantian ke ruangan dokter yang memeriksa kandungan.
" Aduh maaaaasss.....sakit banget nih...", salah seorang wanita yang terlihat pucat mengadu kesakitan di atas kursi roda, perutnya sudah membesar dan seperti ingin melahirkan. Langsung dibawa perawat ke bagian IGD, dan aku bersorak kegirangan sambil berloncatan.

Kulihat jam yang menggantung di atas, menunjukkan pukul 10.15. Berarti sudah 3 jam aku duduk disini. Sendiri.
" Nay.... ", lelaki bertubuh agak besar dengan bidang dada lebar tiba-tiba merangkulku. Ya, didepan semua orang yang ada disini. Dirinya tidak peduli melakukan hal itu.
" Nay.... Ayo kita pulang ! ", ajaknya lagi sambil menatap mataku dalam dan menggenggan erat kedua tanganku. Matanya sudah berkaca, namun ditahannya.
" Selamat pagi mas Andri ", salah seorang perawat menyapanya.
" Pagi sus ", suamiku menjawab dengan sigap
" Tidak apa-apa , mba Nayna disini baik-baik saja", perawat melihat kecemasan lelaki yang berada disampingku.
Lelaki ini adalah suamiku. Orang yang selalu mendukungku, tak pernah lelah memenuhi segala kebutuhanku. Selalu mendampingiku saat aku pergi dari rumah. Walaupun terkadang ku tahu dia begitu lelah di tengah kesibukannya. Lelaki ini adalah suamiku, yang meminangku 12 tahun yang lalu.

Perlahan dia memegang pergelangan tanganku, mengajakku pulang.
Tak kujawab. Ku hanya diam. Ku hanya ikuti alur langkahnya. Tanpa rasa malu dia tetap menuntunku. Aku tak tahu mengapa semua orang malu berjalan denganku. Merasa marah jika kudekati. Akhirnya kuputuskan untuk menyendiri. Ku lebih senang menikmati suasana ruang tunggu ibu hamil hingga siang hari. Dan suamiku selalu menjemputku sepulang kerja. Aku pun tahu bahwa kehamilan pertama yang menggugurkan kandunganku membuat rahimku harus diangkat. Itulah yang membuat kemarahan ibu mertuaku. Tapi aku tak tahu mengapa mereka menganggapku sebagai orang gila. Aku hanya senang dan tertawa sendiri, sambil membawa boneka mungil.
Lalu, mas Andri menyapa salah satu dokter disana,
" Terima kasih bu dokter, atas pengertiannya", suamiku memulai pembicaraan sambil bersalaman
" Iya mas, ga apa-apa. Mbak Nayna juga sudah terlihat lebih baik dari kemarin. Saya perhatikan tadi di ruang tunggu, hanya masih takut dengan orang lain. Mungkin akibat stress hebat yang menimpanya. Insyaa alloh mbak Nayna segera sembuh " dokter perempuan itu tersenyum kepadaku. Dan kulihat rona bahagia di balik wajah suamiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2