Razan, sang sukarelawan !
Sepulang sekolah. Sejenak ku duduk di depan televisi. Berniat hanya istirahat, lalu sekilas berita infotaiment di salah satu channel, mengajak mata seakan-akan untuk merenung sejenak.
*****
Sukarelawan !
Hanyalah sebutan untukmu
Hanyalah sekedar keping profesi yang tak begitu berarti
Bagi mereka yang tak berpenghasilan
Hanyalah sekedar label bagi mereka yang ingin mengorbankan kesenangan
Sukarelawan !
Akupun tak tahu apa arti kata ini
Sering ku dengar berkali-kali
Hanya terlintas mengawan dalam imajinasi
Orang-orang yang mungkin tak punya pekerjaan dan iseng menjadi sukarelawan !
Hingga di detik ini,
Saat kulihat aura wajahmu di aura televisi
Menimbulkan banyak pertanyaan dalam hati
Apakah gerangan yang membuatmu dimakamkan didampingi manusia bak lautan
Apakah gerangan yang terjadi di sebelah negeri ini
Apakah gerangan yang membuatmu sekejap memilukan hati kami
Sukarelawan !
Kumengerti kini
Perjuangan yang engkau lakukan
Bukanlah semata-mata karena tak ada pekerjaan atau tak berpenghasilan
Sungguh hati menangis saat mata ini menangkapmu di balik layar televisi
Kebanyakan orang di sebelah negeri ini merasa kehilanganmu
Karena perpisahannya denganmu bukanlah dengan cara yang wajar untuk diungkapkan
Sukarelawan !
Ku belajar di bulan yang suci ini
Kelelahan yang terpancar tidaklah sebanding dengan pengorbananmu yang menakjubkan
Entah apa yang membuat hatimu begitu mulia memberikan segalanya
Hanya untuk mereka yang tak kau kenal
Sungguh,
Kecintaanmu padaNya tak membuatmu goyah
Menghadapi maut yang mampu mengambil nyawamu kapan saja
Dan kini ku belajar darimu sukarelawan !
Apalah arti dunia yang penuh kesenangan
Dibandingkan dengan mati syahid yang kau ajarkan
Hanya dua pilihan
Hidup dengan kemuliaan atau mati diujung kesyahidan
*****
Tiba-tiba hati ini benar-benar pilu. Sedih. Senang. Malu. Takjub. Ngeri. Merinding. Marah. Gelisah. Seakan semua menjadi koleksi aliran hati ini. Betapa tidak, seorang wanita yang dinyatakan mati syahid dalam pandangan kami saat ini, benar-benar nyata terjadi. Dan mungkin sudah beribu kali model perempuan yang mempertaruhkan nyawa hanya sekedar menjalankan misi kemanusiaannya. Dan untuk kesekian kalinya pula, kesedihan ini pun muncul. Secara manusiawi, rasa kehilangan pasti ada. Membayangkan lautan manusia di sebelah negeri sana, berduka untuk kepergiannya.
Melihat video saat peluru tiba-tiba menusuk, hingga berhasil membuat jasad tak lagi bernyawa, seakan membuat hati ini bertanya, mereka yang berada disana, setiap hari harus merasakan kegelisahan luar biasa. Tak adakah rasa takut dalam diri mereka atau dalam dirimu, hai sukarelawan??.
Benarlah janji Allah SWT, kehidupan yang sebenarnya adalah sesudah kematian. Benarlah janjiNya, bahwa kehidupan sesungguhnya adalah mati syahid atau hidup mulia. Dan nampaklah janji itu, dalam dirimu. Pilihanmu, sebagai medis sukarela, diusia yang belia. Saat wanita lainnya memilih untuk bekerja mengharapkan gaji yang mungkin tak seberapa, tapi kau lebih memilih mengobati dan merawat mereka.
Entah darimana asalmu, hai wanita sukarelawan. Nama Razan akan selalu terngiang di telinga, dan kelak menjadi sejatah dan kisah nyata. Berderet dengan nama wanita pejuang lainnya, yang hanya mengharapkan syurga di akhiratNya.
Entah darimana asalmu, hai Razan sang sukarelawan setia. Memilih berada di tengah peluru dan derita mereka. Memilih tidur dengan alas tembakan yang siap menerjang kapan saja. Menjadikan hidup ini benar-benar mulia. Dan tepat membuat malu diri ini, melihatmu yang lebih muda, membuat keputusan yang begitu mempesona. Kami yakin, keluargamu kan merasa bangga dalam kesedihannya.

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini