Potret Keluarga


Masih terngiang, sebuah tulisan bu Septi Peni Wulandari. Dalam sebuah status beliau di facebook. POTRET KELUARGA, judulnya. Dari pilihan judul beliau, ku langsung menebak dan mengira-ngira, apakah gerangan maksud dalam tulisan beliau??. Mungkin tentang foto-foto yang berseliweran di medsos, terutama Facebook, Fikirku asal menebak.

Diluardugaan.
Gaya bahasa ibu Septi seakan membuat diriku terhipnotis sejenak. Di tengah maraknya foto-foto yang bersliweran di beranda facebook, instagram bahkan whatsapp, beliau mampu mengungkapkan kejujurannya.

Jujur, benar-benar mengakui bahwa beliau sudah insyaf. Awalnya agak aneh memang, saat kita harus menjadi sosok yang tiba-tiba membuat status yang berlawanan arus dengan para statuters lainnya. Banyak koment negatif atau positif??. Dan hal inilah yang benar-benar dilakukan oleh ibu Septi.

Beliau, membuat pertanyaan - pertanyaan kecil, tapi membuat kita berfikir berulang kali. Dan pertanyaan tersebut membuatku banyak termenung sambil bercermin untuk diri sendiri. Ibu Septi, seakan-akan memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak pernah mengupload foto bersama keluarga di media sosial manapun. Dirinya pun mengaku, insyaf. Lebih berhati-hati lagi mengabadikan moment yang akan di share di media sosial. Terlebih dahulu beliau izin kepada anak-anaknya. Boleh atau tidak jika fotonya di peetontonkan banyak konsumen medsos.

Beliau, memposisikan dirinya, sebagai ibu yang panik yang sedang melihat kehebohan para statuters yang mengupload foto bersama. Seakan-akan panik melihat para orangtua yang berhasil memotret keberhasilan anaknya dalam membuat karya atau bahkan piala. Seakan-akan panik melihat kemesraan pasangan entah suami istri atau hanya sekedar berpacaran. Sehingga timbullah gagal fokus. Fokus bukan menjadikan diri lebih baik, namun justru fokus melihat kebahagiaan orang lain.

Kehebohan dalam satu kali jepret, semua sudah diatur agar terlihat indah. Mungkin dibalik itu semua, ada hal-hal yang tidak diketahui oleh para konsumen medsos. Entah setiap hari bahagia atau bahagia yang dibuat-buat. Entahlah, tapi diri kita jangan sampai salah fokus memikirkan kehidupan foto yang belum tentu benarnya.

Ya, betul. Kebanyakan orang pasti ingin mengabadikan moment-moment istimewa yang jarang terjadi atau seperti moment satu tahun satu kali ini. Namun, ternyata melalui foto-foto yang kita share di berbagai medsos, apakah menimbulkan kemudharatan atau justru menambah kebaikan??. Inilah yang harus menjadi pertimbangan bagi emak-emak maupun kalangan muda yang sedang menikmati highttech .

Jika banyak menimbulkan kemudharatan, maka sebaiknya jangan ditunjukkan. Bisa saja diubah mode menjadi privacy pada bagian pengaturan share. Atau simpan dalam sebuah album yang memang tidak memicu kemudharatan untuk orang lain.

Bu Septi berpesan,
Jangan percaya foto/video yang hanya 1 sampai 60 detik kehidupan seseorang.
...
...
Semua yang tampak itu belum tentu seperti apa yang kita lihat dan kita persepsikan.

Apalagi terjebak persaingan dalam beranda facebook. Melihat sang kawan upload sebuah foto keren, kita gak kalah kerennya ikutan mengupload. Sehingga bagaikan lomba makan kerupuk, siapa yang paling banyak, seakan-akan menjadi sang juara.

Semuanya kembali lagi, kepada diri dan nasihat masing-masing. Tujuan kita menunjukkan foto-foto setiam aktifitas kita dalam media sosial. Tak ada yang salah ataupun disalahkan. Asalkan dalam koridor adab yang baik dalam menggunakan media sosial, insyaa allah akan membawa keberkahan di setiap aktifitas yang dilakukan.

Dan semata-mata agar kita tidak fokus pada kebahagiaan orang lain. Yang mungkin akan menimbulkan sifat kufur kepada Allah SWT. Naudzubullaahi mindzalik....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2