Menggapai Mimpi #6
"Huh....lo sih gak asik net....masa' temen lagi sakit gak jenguk", suara Sri agak meninggi saat mendadak tahu neti tidak jadi menyusul.
"Yaudah deh, kalau lo gak bisa, kita mau balik aja pulang ke rumah". Nadanya agak kesal.
Langsung ditutupnya telepon genggam milik Sri dengan type terbaru dari sebuah merk handphone ternama. Sri, Adel, Neti, Lareta dan Riri memiliki handphone yang canggih dan selalu update untuk urusan handphone. Apalagi Adel, anak salah satu pengusaha kaya Raya di kota ini. Dirinya yang paling sering kebanjiran barang elektronik dari pipih dan mimihnya. Sedangkan Daniar dan Manda, hanya bengong jika mereka sedang membicarakan tentang handphone. Manda termasuk anak yang mampu untuk membeli benda semacam itu, namun mamahnya memilih untuk tidak memfasilitasi benda tersebut. Karena dinilainya Manda masih cukup menggunakan telepon rumah saja. Ayahnya Manda sudah lama meninggal, sama seperti Daniar. Diantara kami berlima, Manda yang paling rajin membantu ibunya membereskan urusan rumah terutama dapur. Manda pulang tepat waktu dan seringkali menolak untuk sekedar nongkrong makan omlet di kantin sekolah, atau hanya sekedar makan Mie ayam Bakso pak De yang bersebelahan dengan gedung sekolah.
"Neti gak jadi kesini??", tanya Adel menegaskan
"Yoi" dijawabnya Sri sambil menyandarkan badan ke sofa butut Daniar.
"Gak papa ko Sri. Barangkali memang Neti ada urusan", jawab Daniar mencoba mencairkan kekesalan Sri dan temannya yang sudah menunggu lama. Padahal Neti sudah berjanji untuk datang menjenguk. Neti selalu meramaikan suasana, dengan tingkahnya yang lucu dan kepolosannya. Jika tidak ada Neti, terasa hambar ketika mereka kumpul-kumpul berenam. Lima sahabat Daniar, mereka tak pernah memandang sebelah mata terhadap dirinya. Bagaimanapun kondisi ekonomi dan keadaan Daniar, mereka tetap setia menjalin persahabatan. Dari mata Daniar terlihat, dirinya sangat terharu karena sahabatnya mampu menjadi penyemangat untuk kembali memiliki harapan sembuh.
"Niar, kamu harus kuat yah. Aku yakin ko, kamu pasti bisa sembuh". Tangan Riri menggenggam punggung tangan Daniar kuat.
Dirinya hanya bisa menggangguk, tanpa bicara.
"Iya, Niar. Lo harus semangat terus. Ga boleh sampai putus asa kayak kemaren-kemaren tuh." Sri menimpali dengan gaya bahasa gaulnya yang khas.
Daniar tersenyum tanda sepakat.
"Yup, balik yuk, udah sore nih". Lareta mulai cemas karena jam menunjukkan pukul empat sore. Rumah Daniar yang sangat jauh letaknya, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Iya, aku juga sudah janji akan pulang secepatnya", Manda mulai cemas sambil merayu-rayu Sri untuk pulang.
"Iyeh iyeh....ini gue kan lagi siap-siap nona Manda anak mamah. Hehe...". Ledekan Sri membuat Manda tambah melotot.
"Thanx yah, udah mau jengukin aku". Daniar menepuk bahu Adel yang duduk disebelahnya.
"Sama-sama Niar, kita juga kan sekalian jalan-jalan". Adel menyeringai lebar.
"Huuuuu.....". Sorak Sri, Lareta, Riri dan Manda bersamaan.
Dari kejauhan, mereka melambaikan tangan ke arah Daniar, sambil menancapkan gas motor Sri dan Adel. Sedangkan Lareta dan Manda menumpang di motor keduanya.
Hari itu pun menjadi hari yang menyenangkan bagi Daniar, ditemani sahabat-sahabat yang menghibur walau hanya sesaat. Daniar masuk ke dalam kamar sambil menyeretkan kaki kirinya yang sudah agak mengecil. Kotoran nanah yang sedikit demi sedikit keluar dari bisul kecil di kaki membuat nyeri hingga ke tulang pinggang dan Daniar memutuskan untuk beristirahat sejenak, menunggu ibunya pulang.
****bersambung****

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini