Menggapai mimpi #5
"Haduuhh....sakit bu...", terdengar rintihan Daniar dari balik kamar milik bu haji.
Berkali-kali berteriak kesakitan karena menahan tangan bu haji yang menekan bagian pinggangnya. Pengobatan refleksi kali ini memang berbeda. Tidak seperti pijatan lainnya yang terkenal hanya pijat sana - sini sampai sekujur tubuh kesakitan. Pengobatan yang dilakukan bu hj begitu unik, cukup ditekan bagian yang sakit, kemudian akan bunyi seperti tulang patah, disitulah pijatan refleksinya manjur bekerja. Rasa sakit yang dialami pasien pun, berbeda-beda, karena tergantung tingkat keparahannya. Semakin sakit ditekan, berarti semakin parah penyakit tulang yang diderita pasien tersebut.
Om Rio dan keluarganya pun memang bercerita, pengobatan bu hj terkenal hingga ke tengah kota. Posisi rumah yang letaknya di kampung puncak, begitu Daniar menyebutnya, namun dicari oleh banyak orang. Terutama mereka yang mengalami kecelakaan patah tulang. Tidak hanya itu, hebatnya bu hj ini, bekerja sama dengan pihak rumah sakit ternama di salah satu kota puncak.
"Nanti kesini lagi hari Rabu ya neng. Sekali lagi berobat insyaa allah nanti paha kaki tidak bengkak lagi". Daniar mengangguk tanda paham atas ucapan bu hj.
"Terima kasih ya bu hj", ibu Daniar langsung menyodorkan kertas putih yang berisi selembar uang.
" Ya sama-sama bu, ga usah terlalu banyak pikiran, kalau sudah waktunya sembuh nanti juga lama-lama bisa berjalan normal lagi". Ucapan bu hj, seperti bisa menebak segala beban ibu yang memikirkan nasib Daniar.
*****
Setiap pagi Daniar dan ibunya berkeliling kampung puncak. Sambil menikmati udara yang begitu sejuknya, sekaligus mengikuti saran bu hj untuk berjalan berkeliling agar nanah-nanah yang keluar bisa lebih cepat. Daniar menyeret kakinya dengan sangat pelan, ia lupa sudah berapa lama ia berjalan pincang dengan membebankan pijakan di kaki kanan.
" Nanti jangan lupa berobat juga ke dokter ya neng". Ucap bu hj, saat mereka berpamitan pulang.
Daniar bersalaman dengan keluarga om Rio yang telah menampungnya selama pengobatan.
Ucapan doa dari mereka, membuat Daniar terharu ingin menangis. Ketulisan hati keluarga om Rio menampung Daniar selama tiga hari dan ibunya, serta ketulusan hati bu hj dengan tidak menargetkan tarif pengobatan. Menjadi pelajaran berharha bagi Daniar. Bahwa membantu orang lain yang membutuhkan, tak perlu menunggu banyaknya harta dan tahta.
Walaupun di sisi lain, harapan sembuh itu masih sama, seperti angan kosong bagi Daniar. Orang-orang yang telah mengobati Daniar, selalu memberikan harapan besar. Tapi, harapan itu seperti hanya ucapan kosong yang tak menghasilkan apapun.
Dan kini Daniar mulai mengikhlaskannya.
Ikhlas untuk menjalani kehidupan dengan caraNya. Ikhlas untuk biasa dengan kaki yang tak normal seperti gadis lainnya. Walau kata 'Sembuh' sudah tak lagi dipikirkan Daniar. Yang terpenting, Daniar ingin melihat wajah ibu senyum berseri dan bercahaya seperti sedia kala.
Daniar berjanji untuk tidak menangis lagi. Segala fikiran sekarang bukan pada kesembuhan. Daniar harus fokuss untuk membantu ibu dengan tidak merepotkannya saat ibu pulang bekerja. Sebisa mungkin Daniar harus bisa mengurus dirinya sendiri, apapun kondisi Daniar nanti. Kini, semangat Daniar membara lagi, namun bukan untuk kesembuhan yang dicari, justru kesabaran dalam melewati semua ujian ini.
*****
Diambilnya buku bekas yang masih kosong. Daniar mulai mengambil pulpen dalam tas ransel yang biasa dipakainya sekolah. Setelah Daniar mempelajari materi sekolah, kini ia mulai menuliskan beberapa kalimat dalam buku tulis tersebut. Menuliskan beberapa kalimat motivasi yang bisa membangkitkan nafsu belajarnya. Dan di sisi satu lagi, di belakang buku, Daniar menulis kisahnya, kepahitan dan kesedihan yang mendalam selama ia sakit dan terpaksa berdiam diri di atas kasur yang menjadi saksi bisu menemani Daniar selama ini.
****Bersambung****

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini