Menggapai Impian # 4


Angin malam seperti menusuk hingga ke tulang.  Pukul 03.15 dilihatnya jam yang melingkar di tangan mungil kurus Daniar. Pantaslah jika angin yang menyapa seakan dingin bersalju, berbeda sekali dengan kampung Daniar yang hawa panasnya seperti menyelimuti seluruh sisi kota dengan asap pabrik dimana-mana.  Belum lagi padatnya kendaraan memenuhi jalanan raya bak Jakarta pusat yang dipenuhi para pejabat kaya yang memiliki lebih dari satu mobil di rumahnya. Tapi kini, kaki Daniar sedang menginjak tanah subur di salah satu kota negeri ini. Yang terkenal dengan khas dodolnya, serta kesejukan alam yang luarbiasa nikmatNya.

Dinginnya malam tak bisa mengalahkan kepanikan hati Daniar.  Panik saat Daniar harus melangkahkan kaki dari rumah. Pukul 19.30, selepas shalat Isya. Seluruh keluarga berkumpul, menyaksikan rasa sakit kaki yang tak bisa ditahan lagi. Hanya bisa mengucap kalimat syahadat dari mulutnya yang mungil. Daniar masih menjerit-jerit, sedang ibu menangis tak ada henti.

Rencana awal akan berangkat pun terpaksa dimajukan, melihat kondisi Daniar yang gawat darurat kesakitan. Keluarga yang lain, keberatan jika ibu membawa Daniar ke daerah yang sangat jauh. Yang membutuhkan kurqng lebih 6-8 jam perjalanan dari kampungnya. Keluargapun hanya bisa memberikan saran untuk membawa Daniar ke rumah sakit. Namun, ibu masih dalam tangisannya, dan masih mengikuti hati nuraninya, untuk membawa Daniar ke pengobatan alternatif disana.

Pak Kosih, selaku ketua RT pun ikut membantu keberangkatan Daniar dan ibunya didampingi om Rio. Bus malam yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.

*****
"Kampung mete...kampung mete ..mete....mete....mete....kadieu kasep...mbok ayu...",  para kenek menawarkan diri membawakan berbagai macam belanjaan yang telah dibeli para pedagang eceran di pasar tersebut.

Beberapa pasang mata kenek pun berlari kecil menuju arah om Rio, Daniaf dan ibunya. Terlihat kenek tersebut mengingat-ingat wajah om Rio dari kejauhan.
"kumaha damang?? Rio?? Sanes teh Rio nya?." mata pak kenek tak lepas dari wajah om Rio, berkali - kali menanyakan dengan logat kesundaan khas daerah.
"ahh...si mamang teh lupa, nyak... Abdi teh Rio mang",
Kenek itu pun mengangguk senang melihat om Rio. Ternyata om Rio dan pak kenek tinggal di salah satu kampung yang sama. Mungkin pak kenek kebingungan karena sudah lama tidak melihat om Rio di kampungnya. Maklumlah, om Rio mulai merantau di kampung Daniar, selama tujuh tahun lamanya. Menjalani bisnisnya, ke berbagai para pengecer yang sering mengambil barang di kontrakkan om Rio, yang bersebelahan dengan rumah Daniar.

"Ayo bu, kita naik angkot dari seberang pasar sini. Disini tengah malam masih ramai bu." Ucapan om Rio menyadarkan lamunan ibu dan Daniar.
 "Walaupun masih jam 3 sebelum shubuh, sudah banyak orang belanja untuk di jual lagi di kampung masing-masing", sambung om Rio sambil menghisap rokoknya yang tinggal seujung jari.
Para penjual dan pembeli yang berlalu lalang dihadapan Daniar, membuatnya seperti orang aneh. Jelas saja, tubuh Daniar rapih terbungkus jaket tebal dan kaoskaki belang. Tak lupa jilbabnya yang panjang menutupi dada, seakan menjadi pusat perhatian keramaian pasar.

Seperti orang-orang dikampungnya, yang banyak memperbincangkan soal urusan jilbab yang dipakai Daniar menjadi fenomenal. Tapi tidak bagi ibu. Ibu tak pernah melarang Daniar untuk mengganti jilbab panjangnya dengan jilbab yang lain. Ibu pun tak pernah melarang Daniar memakai kaoskaki setiap kali keluar rumah. Ibu pun tak pernah mengecap dirinya Fanatik,  Seperti yang diucapkan kebanyakan orang.

Tapi untuk sekarang, Daniar tak ingin membebani hatinya dengan fikiran-fikiran itu. Daniar hanya ingin sembuh dari penyakit yang menyebabkan dirinya tak bisa lagi beraktivitas dan sekolah seperti teman-teman yang lain.
"Bismillaah....", hati Daniar menguatkan.
"Apapun hasilnya nanti, akan sembuh atau tidak, semua kuserahkan padaMu ya Allah", rintih Daniar lagi, dalam hati. Membuat air keluar dari pelupuk matanya. Tak terasa. Dalam angkot yang diselimuti kegelapan malam, membawa dirinya menuju arah ketidakpastian.

****Bersambung****

Komentar

  1. Nunggu kelanjutan ceritanya๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihiy....iyups...seminggu sekali posting mbak

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus

Posting Komentar

Silahkan kirim saran untuk tulisan ini

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2