Jadikan Ramadhan istimewa
Jumat, 23 Ramadhan 1438 H. Jumat ini adalah Jumat terakhir di bulan ini. Di jumat mendatang kita tak bisa menemuinya lagi. Jika kita ingin bertemu dengan Jumat Ramadhan berikutnya, kita harus menunggu hingga di tahun depan.
Ada yang merasa kurang. Saat mereka mencurahkan ketidakingin berpisahan dengan Ramadhan. Saat mereka benar-benar ingin Ramadhan ini diperpanjang. Rasa yang menghadirkan semangat beribadah selama sebulan penuh lamanya. Yang tak kita temui di bulan lainnya.
Teringatku pada sosok beliau. Yang selalu menghabiskan waktu bersama Ramadhan. Entah pagi, siang atau malam. Tak pernah sampai terlewat. Padahal sudah dijanjikannya syurga dengan berbagai kenikmatan. Namun beliau memilih tetap beribadah. Ya, beribadah. Memaksimalkan waktu di bulan dengan beribadah. Semakin akan habis, semakin banyak pula dan bertambah pula semangat untuk meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas beribadah. Itulah beliau, sosok luar biasa di masa 14 abad silam.
Apakah beliau hanya memikirkan ibadah saja??. Tentu saja ya ! Pekerjaan beliau, kegiatan-kegiatan yang dilakukan, semuanya adalah ibadah, karena pada dasarnya setiap aktivitas kita yang apabila dilandasi dengan ketaatan kepadaNya merupakan ibadah. Termasuk tidur pun ibadah. Jika memang tidur tersebut kita porsikan sesuai dengan ukuran dan tempatnya.
Manusia pilihan Allah sekaligus yang mengemban amanah dalam memikul tugas menyebarkan Islam ke seluruh penjuru negeri. Tidak hanya menyebarkan, justru mendidik umat agar mencintai Islam. Bukan untuk memberatkan umat, namun beliau memberikan kehidupan terbaik diantara kehidupan yang baik. Mengabarkan kabar gembira bagi mereka yang beriman dan bertaqwa.
Perjalanan hidup yang tidaklah mudah. Bukanlah Islam yang harus disalahkan ketika seorang muslim keliru dalam mempraktekkannya. Islam adalah penyempurna, bagi aturan-aturan sebelum zaman beliau. Ramadhan adalah salah satu bulan penggemblengan diri. Yang bersamanya diri kita mampu meningkatkan ibadah baik secara kuantitas maupun kualitas.
Apakah cukup sampai di Ramadhan saja??!!. Tentu saja tidak. Jika Ramadhan ini adalah pembekalan sekaligus penggemblengan, maka bulan lainnya adalah pertempuran. Pertempuran ini ialah antara diri kita sendiri dengan waktu. Pertempuran dengan 11 bulan berikutnya, dengan aktivitas kita sehari-hari, dengan menyeimbangkan kadar ibadah yang sudah kita bangun, apakah masih bisa dipertahankan atau ditingkatkan di bulan berikutnya??. Atau malah terjebak dalam sebuah rutinitas harian. Yang melenakan kita, terhadap pondasi ibadah yang kita bangun.
Lagi-lagi beliau pun telah mencontohkan di abad 14tahun silam. Selepas Ramadhan, tidak ada semalam pun terlewat shalat Tahajud menghadapNya. Tidak ada sehari pun terlewat untuk menghadap di waktu DhuhaNya. Kecuali darurat yang mengharuskan beliau meninggalkannya. Ukuran predikat yang diberikan Allah bagi mereka yang lulus melewati Ramadhan ialah Taqwa.
Insan yang bertaqwa akan menjadikan dirinya semakin hari akan semakin lebih baik lagi. Menjadikan dari bulan ke bulan lainnya bertambah semangat lagi. Menjadikan diri dari tahun ke tahun mencapai puncak pembentukan diri. Untuk menjadi seorang muslim yang bertaqwa.
Kita tidak akan bisa mencapai apa yang beliau lakukan, tapi diri kita mampu melaksanakan apa yang beliau contohkan. Semuanya akan terlihat mudah, jika diri kita terus menerus memperbaharui hati serta rohani agar hidayah mudah masuk ke dalam diri. Sebaliknya, diri kita akan melihat Ibadah itu susah dilaksanakan, jika kita mempersempit jalan hati dan rohani kita untuk menerima hidayahNya. Banyak sekali musuh-musuh yang mengelilingi kita hingga kita lupa siapa pencipta kita. Siapa yang memberikan rezeki. Siapa yang membolak-balikkan hati. Siapa yang memudahkan jalan kita di dunia ini.
Mari kita jadikan Ramadhan kali ini, bulan istimewa yang akan mengiringi langkah kita di bulan-bulan selanjutnya. Menjadikan diri kita benar-benar muslim yang taat kepada sang Pencipta.
#latepost
#DipenghujungRamadhan
Ada yang merasa kurang. Saat mereka mencurahkan ketidakingin berpisahan dengan Ramadhan. Saat mereka benar-benar ingin Ramadhan ini diperpanjang. Rasa yang menghadirkan semangat beribadah selama sebulan penuh lamanya. Yang tak kita temui di bulan lainnya.
Teringatku pada sosok beliau. Yang selalu menghabiskan waktu bersama Ramadhan. Entah pagi, siang atau malam. Tak pernah sampai terlewat. Padahal sudah dijanjikannya syurga dengan berbagai kenikmatan. Namun beliau memilih tetap beribadah. Ya, beribadah. Memaksimalkan waktu di bulan dengan beribadah. Semakin akan habis, semakin banyak pula dan bertambah pula semangat untuk meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas beribadah. Itulah beliau, sosok luar biasa di masa 14 abad silam.
Apakah beliau hanya memikirkan ibadah saja??. Tentu saja ya ! Pekerjaan beliau, kegiatan-kegiatan yang dilakukan, semuanya adalah ibadah, karena pada dasarnya setiap aktivitas kita yang apabila dilandasi dengan ketaatan kepadaNya merupakan ibadah. Termasuk tidur pun ibadah. Jika memang tidur tersebut kita porsikan sesuai dengan ukuran dan tempatnya.
Manusia pilihan Allah sekaligus yang mengemban amanah dalam memikul tugas menyebarkan Islam ke seluruh penjuru negeri. Tidak hanya menyebarkan, justru mendidik umat agar mencintai Islam. Bukan untuk memberatkan umat, namun beliau memberikan kehidupan terbaik diantara kehidupan yang baik. Mengabarkan kabar gembira bagi mereka yang beriman dan bertaqwa.
Perjalanan hidup yang tidaklah mudah. Bukanlah Islam yang harus disalahkan ketika seorang muslim keliru dalam mempraktekkannya. Islam adalah penyempurna, bagi aturan-aturan sebelum zaman beliau. Ramadhan adalah salah satu bulan penggemblengan diri. Yang bersamanya diri kita mampu meningkatkan ibadah baik secara kuantitas maupun kualitas.
Apakah cukup sampai di Ramadhan saja??!!. Tentu saja tidak. Jika Ramadhan ini adalah pembekalan sekaligus penggemblengan, maka bulan lainnya adalah pertempuran. Pertempuran ini ialah antara diri kita sendiri dengan waktu. Pertempuran dengan 11 bulan berikutnya, dengan aktivitas kita sehari-hari, dengan menyeimbangkan kadar ibadah yang sudah kita bangun, apakah masih bisa dipertahankan atau ditingkatkan di bulan berikutnya??. Atau malah terjebak dalam sebuah rutinitas harian. Yang melenakan kita, terhadap pondasi ibadah yang kita bangun.
Lagi-lagi beliau pun telah mencontohkan di abad 14tahun silam. Selepas Ramadhan, tidak ada semalam pun terlewat shalat Tahajud menghadapNya. Tidak ada sehari pun terlewat untuk menghadap di waktu DhuhaNya. Kecuali darurat yang mengharuskan beliau meninggalkannya. Ukuran predikat yang diberikan Allah bagi mereka yang lulus melewati Ramadhan ialah Taqwa.
Insan yang bertaqwa akan menjadikan dirinya semakin hari akan semakin lebih baik lagi. Menjadikan dari bulan ke bulan lainnya bertambah semangat lagi. Menjadikan diri dari tahun ke tahun mencapai puncak pembentukan diri. Untuk menjadi seorang muslim yang bertaqwa.
Kita tidak akan bisa mencapai apa yang beliau lakukan, tapi diri kita mampu melaksanakan apa yang beliau contohkan. Semuanya akan terlihat mudah, jika diri kita terus menerus memperbaharui hati serta rohani agar hidayah mudah masuk ke dalam diri. Sebaliknya, diri kita akan melihat Ibadah itu susah dilaksanakan, jika kita mempersempit jalan hati dan rohani kita untuk menerima hidayahNya. Banyak sekali musuh-musuh yang mengelilingi kita hingga kita lupa siapa pencipta kita. Siapa yang memberikan rezeki. Siapa yang membolak-balikkan hati. Siapa yang memudahkan jalan kita di dunia ini.
Mari kita jadikan Ramadhan kali ini, bulan istimewa yang akan mengiringi langkah kita di bulan-bulan selanjutnya. Menjadikan diri kita benar-benar muslim yang taat kepada sang Pencipta.
#latepost
#DipenghujungRamadhan
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini