Bahaya Dot
Karena Bahaya Pemakaian BOTOL DOT bukan hanya sekedar Bingung Puting
Saya terhenyak saat kira-kira 2 hari lalu seorang rekan nakes, dokter yang bertugas jauh di Indonesia paling Timur memposting foto ini, dari orang tua pasiennya.
Ya Allah, bukan soal jijik dan mual yang pertama saya pikirkan adalah bagaimana nasib bayi & anak yang menggunakannya. Bagaimana bayi dan anak bisa selamat, bagaimana bayi / anak tersebut bisa survive dari diare berulang, malnutrisi – gizi buruk yang membayangi.
Sudah umum diketahui dan banyak faktanya bahwa isi dari botol dot, apalagi untuk kalangan ekonomi lemah & makin kompleks bila tinggal di daerah terpencil itu sebagian besar isinya BUKAN ASI perah (ASIp), tapi bisa isinya : Infant Formula (SuFor untuk bayi), Susu bubuk/Sufor kategori umur lainnya, Teh Manis, Air Tajin, Air Madu, Air Susu Kental Manis, dll.
Kalangan ekonomi lemah, apalagi yang tinggal di pedalaman manalah kenal istilah BingPut alias Bingung Puting. Dan Edukasi pentingnya ASI, pentingnya ASI dengan cara disusui langsung, bahaya penggunaan botol dot & empeng di area dengan sanitasi yang buruk & akses air bersih terbatas itu tidaklah mereka dapatkan semudah kita yang pegang smartphone dengan internet ini.
WHO dengan tegas MELARANG pemberian botol dot & empeng karena dapat menghambat tercapainya keberhasilan menyusui.
Langkah ke-9 dari 10 LMKM (Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui) :
“STEP 9
9.1 “Give no artificial teats or pacifiers (also called dummies or soothers) to breast-feeding
infants.”
Both pacifiers (-empeng-) and artificial teats (dot botol) can be harmful, by carrying infection, by reducing the time spent suckling at the breast and thereby interfering with demand feeding, and possibly by altering oral dynamics.
Dengan jelas WHO memaparkan alternatif pemberian asupan bagi bayi selain dot :
The alternative method for feeding infants who cannot breastfeed is by cup. This is recommended particularly for infants who are expected to breastfeed later, and in situations
where hygienic care of bottles and teats is difficult.”
Bahkan di India dikenalkan khusus media pemberian ASIp/sufor sistem seperti cup feeder dengan nama paladai, yang mudah dibersihkan.
Meng-iklan-kan Empeng & Botol Dot pun termasuk yang dilarang dalam Kode Internasional WHO. Jadi perusahaan yang memproduksi dan meng-iklan-kan empeng, bot dot telah melanggar International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes.
Entah kali keberapa saya menolak undangan menjadi Pembicara di mana sponsornya perusahaan yang memproduksi empeng & botol dot (walaupun empeng & botol dot bukan produk utamanya, tetap saya yang sudah menandatangani komitmen sebagai La Leche League Leader, tidak diperbolehkan mengikuti, mendukung hingga menjadi narasumber di acara tersebut).
Untuk kasus menyusui khusus seperti bayi dengan cacat bawaan yaitu bibir , langit-langit sumbing , kelainan rahang seperti micrognathia & penyakit2 lainnya yang membuat bayi tidak dapat menyusu langsung pada payudara Ibu maupun minum dengan cup, maka ya, tentu dibutuhkan botol dot khusus seperti Haberman Feeder.
Tapi untuk bayi normal sehat plus Ibu juga tidak ada masalah kelainan anatomi payudara yang betul2 menghambat bayi menyusu langsung, maka dengan Edukasi & pendampingan serta dukungan yang tepat , tidak perlu menggunakan botol dot sama sekali.
Bila ada tekad , untuk bayi yang terlanjur bingung puting dan tidak mau lagi menyusu pada payudara Ibu jangan sungkan minta bantuan langsung ke Konselor menyusui &/ Konsultan laktasi. Program relaktasi perlu komitmen, tekad, dukungan & kerjasama dari berbagai pihak terutama dari orang terdekat yaitu suami.
Untuk para Suami, Nenek, pengasuh, mari belajar bersama, bahwa memberikan ASIp melalui media lain selain dot itu BISA.
Salam #ASI
PS: Tulisan ini Tidak untuk mendiskreditkan Ibu yg dengan berbagai alasan tidak memberikan ASI
Credit foto : dr Regina (Terimakasih sharingnya ya dok)
F.B. Monika
Konselor Menyusui
La Leche League (LLL) International Leader
Penulis “Buku Pintar ASI & Menyusui”
Saya terhenyak saat kira-kira 2 hari lalu seorang rekan nakes, dokter yang bertugas jauh di Indonesia paling Timur memposting foto ini, dari orang tua pasiennya.
Ya Allah, bukan soal jijik dan mual yang pertama saya pikirkan adalah bagaimana nasib bayi & anak yang menggunakannya. Bagaimana bayi dan anak bisa selamat, bagaimana bayi / anak tersebut bisa survive dari diare berulang, malnutrisi – gizi buruk yang membayangi.
Sudah umum diketahui dan banyak faktanya bahwa isi dari botol dot, apalagi untuk kalangan ekonomi lemah & makin kompleks bila tinggal di daerah terpencil itu sebagian besar isinya BUKAN ASI perah (ASIp), tapi bisa isinya : Infant Formula (SuFor untuk bayi), Susu bubuk/Sufor kategori umur lainnya, Teh Manis, Air Tajin, Air Madu, Air Susu Kental Manis, dll.
Kalangan ekonomi lemah, apalagi yang tinggal di pedalaman manalah kenal istilah BingPut alias Bingung Puting. Dan Edukasi pentingnya ASI, pentingnya ASI dengan cara disusui langsung, bahaya penggunaan botol dot & empeng di area dengan sanitasi yang buruk & akses air bersih terbatas itu tidaklah mereka dapatkan semudah kita yang pegang smartphone dengan internet ini.
WHO dengan tegas MELARANG pemberian botol dot & empeng karena dapat menghambat tercapainya keberhasilan menyusui.
Langkah ke-9 dari 10 LMKM (Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui) :
“STEP 9
9.1 “Give no artificial teats or pacifiers (also called dummies or soothers) to breast-feeding
infants.”
Both pacifiers (-empeng-) and artificial teats (dot botol) can be harmful, by carrying infection, by reducing the time spent suckling at the breast and thereby interfering with demand feeding, and possibly by altering oral dynamics.
Dengan jelas WHO memaparkan alternatif pemberian asupan bagi bayi selain dot :
The alternative method for feeding infants who cannot breastfeed is by cup. This is recommended particularly for infants who are expected to breastfeed later, and in situations
where hygienic care of bottles and teats is difficult.”
Bahkan di India dikenalkan khusus media pemberian ASIp/sufor sistem seperti cup feeder dengan nama paladai, yang mudah dibersihkan.
Meng-iklan-kan Empeng & Botol Dot pun termasuk yang dilarang dalam Kode Internasional WHO. Jadi perusahaan yang memproduksi dan meng-iklan-kan empeng, bot dot telah melanggar International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes.
Entah kali keberapa saya menolak undangan menjadi Pembicara di mana sponsornya perusahaan yang memproduksi empeng & botol dot (walaupun empeng & botol dot bukan produk utamanya, tetap saya yang sudah menandatangani komitmen sebagai La Leche League Leader, tidak diperbolehkan mengikuti, mendukung hingga menjadi narasumber di acara tersebut).
Untuk kasus menyusui khusus seperti bayi dengan cacat bawaan yaitu bibir , langit-langit sumbing , kelainan rahang seperti micrognathia & penyakit2 lainnya yang membuat bayi tidak dapat menyusu langsung pada payudara Ibu maupun minum dengan cup, maka ya, tentu dibutuhkan botol dot khusus seperti Haberman Feeder.
Tapi untuk bayi normal sehat plus Ibu juga tidak ada masalah kelainan anatomi payudara yang betul2 menghambat bayi menyusu langsung, maka dengan Edukasi & pendampingan serta dukungan yang tepat , tidak perlu menggunakan botol dot sama sekali.
Bila ada tekad , untuk bayi yang terlanjur bingung puting dan tidak mau lagi menyusu pada payudara Ibu jangan sungkan minta bantuan langsung ke Konselor menyusui &/ Konsultan laktasi. Program relaktasi perlu komitmen, tekad, dukungan & kerjasama dari berbagai pihak terutama dari orang terdekat yaitu suami.
Untuk para Suami, Nenek, pengasuh, mari belajar bersama, bahwa memberikan ASIp melalui media lain selain dot itu BISA.
Salam #ASI
PS: Tulisan ini Tidak untuk mendiskreditkan Ibu yg dengan berbagai alasan tidak memberikan ASI
Credit foto : dr Regina (Terimakasih sharingnya ya dok)
F.B. Monika
Konselor Menyusui
La Leche League (LLL) International Leader
Penulis “Buku Pintar ASI & Menyusui”
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini