Vina yang Malang
Salah satu muridku, Sebut saja Vina namanya. Saat aku dan siswa-siswa lainnya sedang asyik membahas matematika, Vina menghampiriku.
"Ada apa Vina??." tanyaku
"Ga papa bu guru, cuma mau tanya. Harga kaos olahraga berapa-an bu?" tanyanya sambil mengatur nafas saat berkata. Ada nada yang aneh terucap dari bibirnya.
"Wah, untuk harga bu guru kurang hafal. Vina langsung tanyakan ke bu Anah yah...bagian koperasi" jawabku sambil berfikir kenapa Vina ingin membeli seragam baru.
Setelah kutanya langsung, mengapa ingin membeli seragam baru.
"Seragam Olahraga saya hilang bu." jawabnya agak menyesali.
"Loh ko bisa hilang?? Dimana??" penasaranku makin menjadi.
"di kali bu, saat ibu nyuci baju saya" jawabnya lagi.
" Nanti saat jam istirahat, Vina ke kantor yah. Kita tanya langsung kd bu Anah". Ku akhiri percakapan dengan Vina. Langsung ku ber-Istighfar dalam hati. Menghening sejenak. Lalu kulanjutkan soal Matematika yang belum selesai.
Kedua orangtua Vina sudah lama berpisah alias bercerai. Masing-masing sudah memiliki pasangan. Nenek Vina adalah orangtua kandung dari pihak bapak. Biasa memang, jika seorang single parents ingin menjalin hubungan dengan pasangan yang lebih cocok. Namun, ini terdengar aneh bagiku. Aneh, jika salah satu orangtuanya tidak membawa putri-putrinya hidup bersama. Aneh, jika orangtua tidak merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh tanggungjawab. Terlebih aneh lagi, orangtuanya sama sekali tidak mempedulikan kebutuhan Vina dan adiknya.
Mendengar ceritanya pun, sangat membuatku iba. Ahh....orangtua macam apa itu, fikirku. Jangankan untuk membeli baju baru, mungkin kaoskaki sekolah pun tak dibelikannya. Apalagi biaya sekolah, semakin meningkat. Perlu buku tulis dan alat-alat lainnya. Perlu baju seragam karena pasti suatu saat akan sobek dan terlihat berganti warna.
Nenek dan kakeknyalah yang merawat dan mendidik keduanya. Memberikan uang jajan serta makanan yang menunjang kesehatan mereka. Walaupun hanya sekedar tempe. Seringkali ku melihat Vina melamun di kelas. Atau mengeluh lapar. Dan dia hanya menjawab belum sarapan. Ku tengok tabungan Vina, angka Rp. 63.000. Tabungan selama 10 bulan lamanya. Uang jajan pun hanya dapat ala kadarnya.
Teringat ku pada tahun lalu, neneknya Vina sengaja menemuiku saat di tengah jalan dan meminta ku berhenti sejenak saat ku berangkat menuju sekolah. Yah, betul, masih teringat dibenakku dengan nada memohon, jika Vina tidak bisa membeli buku dan neneknya sedang tidak ada uang. Neneknya bermaksud untuk meminjam uang dan berjanji akan mencicil jika nanti ada uang. Sesampainya di sekolah, akupun menceritakannya kepada rekan guru. Alhamdulillah, tanpa berfikir panjang lebar, beliau pun segera membelikan kebutuhan buku Vina. Tanpa meminta kembali uang tersebut. Masyaa Alloh....Allohu Akbar...tidak ada kata yang tidak mungkin di dunia ini. Rezeki hanyalah hak Alloh dan jaminanNya. Bahkan seekor burung pun, sudah ada jatah rezekinya. Apalagi manusia, yang diciptakan sempurna.
Dan ku yakin, tanpa nafkah dari orangtuanya. Akan ada uluran tangan-tangan yang bersedia dan ikhlas memberikannya cuma-cuma. Karena Allohlah yang menggerakkan hati manusia. Tanpa nafkah orangtuanya, Vina dan adiknya akan senantiasa bertahan hidup dan menikmati masa kanak-kanak mereka.
"Ada apa Vina??." tanyaku
"Ga papa bu guru, cuma mau tanya. Harga kaos olahraga berapa-an bu?" tanyanya sambil mengatur nafas saat berkata. Ada nada yang aneh terucap dari bibirnya.
"Wah, untuk harga bu guru kurang hafal. Vina langsung tanyakan ke bu Anah yah...bagian koperasi" jawabku sambil berfikir kenapa Vina ingin membeli seragam baru.
Setelah kutanya langsung, mengapa ingin membeli seragam baru.
"Seragam Olahraga saya hilang bu." jawabnya agak menyesali.
"Loh ko bisa hilang?? Dimana??" penasaranku makin menjadi.
"di kali bu, saat ibu nyuci baju saya" jawabnya lagi.
" Nanti saat jam istirahat, Vina ke kantor yah. Kita tanya langsung kd bu Anah". Ku akhiri percakapan dengan Vina. Langsung ku ber-Istighfar dalam hati. Menghening sejenak. Lalu kulanjutkan soal Matematika yang belum selesai.
Ibu bagi Vina adalah nenek kandung yang selama ini merawatnya. Nenek bagi Vina bagaikan ibu dan ayah yang selama ini tak pernah ada disampingnya. Padahal keduanya masih dan dalam keadaan sehat wal 'afiat. Keduanya pun mungkin hidup berkecukupan, namun tidak untuk Vina dan adiknya.
Kedua orangtua Vina sudah lama berpisah alias bercerai. Masing-masing sudah memiliki pasangan. Nenek Vina adalah orangtua kandung dari pihak bapak. Biasa memang, jika seorang single parents ingin menjalin hubungan dengan pasangan yang lebih cocok. Namun, ini terdengar aneh bagiku. Aneh, jika salah satu orangtuanya tidak membawa putri-putrinya hidup bersama. Aneh, jika orangtua tidak merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh tanggungjawab. Terlebih aneh lagi, orangtuanya sama sekali tidak mempedulikan kebutuhan Vina dan adiknya.
Mendengar ceritanya pun, sangat membuatku iba. Ahh....orangtua macam apa itu, fikirku. Jangankan untuk membeli baju baru, mungkin kaoskaki sekolah pun tak dibelikannya. Apalagi biaya sekolah, semakin meningkat. Perlu buku tulis dan alat-alat lainnya. Perlu baju seragam karena pasti suatu saat akan sobek dan terlihat berganti warna.
Nenek dan kakeknyalah yang merawat dan mendidik keduanya. Memberikan uang jajan serta makanan yang menunjang kesehatan mereka. Walaupun hanya sekedar tempe. Seringkali ku melihat Vina melamun di kelas. Atau mengeluh lapar. Dan dia hanya menjawab belum sarapan. Ku tengok tabungan Vina, angka Rp. 63.000. Tabungan selama 10 bulan lamanya. Uang jajan pun hanya dapat ala kadarnya.
Teringat ku pada tahun lalu, neneknya Vina sengaja menemuiku saat di tengah jalan dan meminta ku berhenti sejenak saat ku berangkat menuju sekolah. Yah, betul, masih teringat dibenakku dengan nada memohon, jika Vina tidak bisa membeli buku dan neneknya sedang tidak ada uang. Neneknya bermaksud untuk meminjam uang dan berjanji akan mencicil jika nanti ada uang. Sesampainya di sekolah, akupun menceritakannya kepada rekan guru. Alhamdulillah, tanpa berfikir panjang lebar, beliau pun segera membelikan kebutuhan buku Vina. Tanpa meminta kembali uang tersebut. Masyaa Alloh....Allohu Akbar...tidak ada kata yang tidak mungkin di dunia ini. Rezeki hanyalah hak Alloh dan jaminanNya. Bahkan seekor burung pun, sudah ada jatah rezekinya. Apalagi manusia, yang diciptakan sempurna.
Dan ku yakin, tanpa nafkah dari orangtuanya. Akan ada uluran tangan-tangan yang bersedia dan ikhlas memberikannya cuma-cuma. Karena Allohlah yang menggerakkan hati manusia. Tanpa nafkah orangtuanya, Vina dan adiknya akan senantiasa bertahan hidup dan menikmati masa kanak-kanak mereka.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini