Tema Cinta Ramadhan
Kemarin, tepat 17 Mei 2018 adalah tanggal 01 Ramadhan. Aku dan suami sudah dibuat bingung dengan rengekan teteh Alya.
"Mi....teteh mau maakaan..." katanya sambil merengek.
Sontak saja kami berdua pun tertawa.
Saat malamnya, teteh Alya sangat senang menyambut puasa dengan semangat membara. Dan sahur pun dimakan dengan lauk seadanya. Padahal biasanya mencari-cari lauk lainnya. Dan yang membuat kami geleng-geleng kepala, teteh Alya sudah makan nasi jam 10 pagi, hehe...itu pun makan di rumah neneknya tanpa sepengetahuan kami.
"padahal teteh Alya dari kemarin semangat banget lhoooo mau puasa sampai maghrib....kenapa sekarang berubah pikiran ingin makan lagi jam segini??." Godaku, meledek teteh yang sudah nanggung manyun.
Diliriknya jam yang menunjukkan pukul 15.45.
" Tapi teteh lapeerrr mi...." rengeknya lagi.
Tahun lalu, memang belum dimulai belajar puasa saat usianya enam tahun. Yah, salah satu kesalahan kami, melewatkan moment bulan suci. Apabila sebelumnya sudah diajarkan 'belajar suka' bahkan cinta berpuasa...barangkali tahun ini tidak akan sesulit begini.
Ku coba diamkan sejenak. Ternyata rengekannya makin menjadi. Jika kupaksakan diawal Ramadhan ini, khawatir justru akan puasa dengan terpaksa bukan cinta.
Akhirnya....
Aku mencoba membangun kembali motivasi. Tema 'Cinta Puasa' ini yang harus kutanamkan lagi dalam diri anak-anak. Baiklah....walaupun belum berhasil, akan kita coba keesokan harinya. Tentu saja, ada kesepakatan aku dan teteh Alya. Teteh Alya meminta shalat tarawih di masjid, dengan berazzam puasa insyaa Alloh akan dijalankan. Aku pun mengiyakan.
Sebelumnya, memang untuk sholat Tarawih tidak langsung kuijinkan sebagaimana ibu kebanyakan. Rasa ngantuk yang cukup berat saat pelaksanaan sholat Tarawih, bisa membuat teteh Alya merengek sepanjang malam karena kecapekan.
Tanggal 18 Mei / 02 Ramadhan. Tekad teteh Alya akan berpuasa sampai jam 3. Hihiy . . . Untuk awal-awal, kami coba perlahan. Lama kelamaan, tantangan akan kami tambah setelah beberapa hari kemudian.
Sepulang sekolah, terlihat ada rona wajah bahagia.
Siang hari, sedikit mulai terdengar rengekannya. Meminta minum, haus katanya. Sedikit demi sedikit, ku ingatkan kembali niat puasa teteh Alya. Semangatny di awal dan kucoba pula mengajarkannya merasakan bagaimana orang-orang yatim yang kelaparan. Rengekannya agak mereda.
Tiap kali teteh Alya merengek...ku coba bangkitkan motivasinya lagi. Mencoba mengalihkannya dengan kegiatan menggambar dan mewarnai. Menonton video yang sambil kutemani, agar bisa mengambil pelajaran dalam setiap dialog tokoh didalamnya.
Pukul 15.00, ku tawarkan berbuka puasa. Hanya dijawab dengan gelengan kepala. Sengaja kuberikan pilihan. Apakah ingin kembali pada kesepakatan berbuka saat jam 3 atau maghrib seperti yang lainnya. Hal ini benar-benar akan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi teteh Alya. Yupz.... Mulai belajar mengambil sebuah keputusan.
Rasa haus itu pun datang menghampiri di jam 5 sore. Satu jam sebelum adzan maghrib. Rengekan teteh kembali terdengar. Menurutku hal tersebut wajar. Melihat seusianya sudah membulatkan tekad ingin berpuasa satu hari penuh pun, sudah luarbiasa. Tidak ada yang salah. Dan tidak ada yang perlu disalahkan. Di saat itu pun, aku berusaha memberikan motivasi lagi, mengalihkan pembicaraannya dengan menatap langit dengan membahas awan gelap dan terang. Ku coba memberikan kesempatan, ingin berbuka silahkan, dan dilanjutkan pun sudah hebat luarbiasa. Namun dirinya, masih tertarik membahas awan yang berjalan.
Kuratapi diriku.... Masyaa Alloh...sungguh luarbiasa menjadi ibu. Mendidik mereka adalah hal yang paling menantang. Bagaimana cara agar mereka mampu mencintai puasa sejak dini, seakan-akan menjadi PR besar di tahun Ramadhan ini. Aku harus memiliki berbagai cara, warna, motivasi, kata-kata, dan teladan, agar kelak mereka mampu memahami makna sesungguhnya puasa di bulan nan suci ini.
AllahuAkbar....
Terakhir kuiringi dengan do'a dalam hati kepada Rabb Yang Maha Membolak-balikkan hati agar kami sekeluarga senantiasa berada diatas jalan ini.
By : Ibu yang berproses memperbaiki diri
"Mi....teteh mau maakaan..." katanya sambil merengek.
Sontak saja kami berdua pun tertawa.
Saat malamnya, teteh Alya sangat senang menyambut puasa dengan semangat membara. Dan sahur pun dimakan dengan lauk seadanya. Padahal biasanya mencari-cari lauk lainnya. Dan yang membuat kami geleng-geleng kepala, teteh Alya sudah makan nasi jam 10 pagi, hehe...itu pun makan di rumah neneknya tanpa sepengetahuan kami.
"padahal teteh Alya dari kemarin semangat banget lhoooo mau puasa sampai maghrib....kenapa sekarang berubah pikiran ingin makan lagi jam segini??." Godaku, meledek teteh yang sudah nanggung manyun.
Diliriknya jam yang menunjukkan pukul 15.45.
" Tapi teteh lapeerrr mi...." rengeknya lagi.
Tahun lalu, memang belum dimulai belajar puasa saat usianya enam tahun. Yah, salah satu kesalahan kami, melewatkan moment bulan suci. Apabila sebelumnya sudah diajarkan 'belajar suka' bahkan cinta berpuasa...barangkali tahun ini tidak akan sesulit begini.
Ku coba diamkan sejenak. Ternyata rengekannya makin menjadi. Jika kupaksakan diawal Ramadhan ini, khawatir justru akan puasa dengan terpaksa bukan cinta.
Akhirnya....
Aku mencoba membangun kembali motivasi. Tema 'Cinta Puasa' ini yang harus kutanamkan lagi dalam diri anak-anak. Baiklah....walaupun belum berhasil, akan kita coba keesokan harinya. Tentu saja, ada kesepakatan aku dan teteh Alya. Teteh Alya meminta shalat tarawih di masjid, dengan berazzam puasa insyaa Alloh akan dijalankan. Aku pun mengiyakan.
Sebelumnya, memang untuk sholat Tarawih tidak langsung kuijinkan sebagaimana ibu kebanyakan. Rasa ngantuk yang cukup berat saat pelaksanaan sholat Tarawih, bisa membuat teteh Alya merengek sepanjang malam karena kecapekan.
Tanggal 18 Mei / 02 Ramadhan. Tekad teteh Alya akan berpuasa sampai jam 3. Hihiy . . . Untuk awal-awal, kami coba perlahan. Lama kelamaan, tantangan akan kami tambah setelah beberapa hari kemudian.
Sepulang sekolah, terlihat ada rona wajah bahagia.
"Masih puasa teh?? Temen-temen banyak yang puasa kaaan???." Tanyaku padanya.Hanya kubalas dengan senyuman. Tak banyak berkata. Hanya berdo'a, semoga tidak ada angin yang menggoyangkan niatnya.
Teteh Alya cuma cengir kuda.
"iyah teteh juga mau kayak temen-temen puasa sampai maghrib yah mi....", semangat berpuasa kembali membara.
Siang hari, sedikit mulai terdengar rengekannya. Meminta minum, haus katanya. Sedikit demi sedikit, ku ingatkan kembali niat puasa teteh Alya. Semangatny di awal dan kucoba pula mengajarkannya merasakan bagaimana orang-orang yatim yang kelaparan. Rengekannya agak mereda.
Tiap kali teteh Alya merengek...ku coba bangkitkan motivasinya lagi. Mencoba mengalihkannya dengan kegiatan menggambar dan mewarnai. Menonton video yang sambil kutemani, agar bisa mengambil pelajaran dalam setiap dialog tokoh didalamnya.
Pukul 15.00, ku tawarkan berbuka puasa. Hanya dijawab dengan gelengan kepala. Sengaja kuberikan pilihan. Apakah ingin kembali pada kesepakatan berbuka saat jam 3 atau maghrib seperti yang lainnya. Hal ini benar-benar akan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi teteh Alya. Yupz.... Mulai belajar mengambil sebuah keputusan.
Rasa haus itu pun datang menghampiri di jam 5 sore. Satu jam sebelum adzan maghrib. Rengekan teteh kembali terdengar. Menurutku hal tersebut wajar. Melihat seusianya sudah membulatkan tekad ingin berpuasa satu hari penuh pun, sudah luarbiasa. Tidak ada yang salah. Dan tidak ada yang perlu disalahkan. Di saat itu pun, aku berusaha memberikan motivasi lagi, mengalihkan pembicaraannya dengan menatap langit dengan membahas awan gelap dan terang. Ku coba memberikan kesempatan, ingin berbuka silahkan, dan dilanjutkan pun sudah hebat luarbiasa. Namun dirinya, masih tertarik membahas awan yang berjalan.
Kuratapi diriku.... Masyaa Alloh...sungguh luarbiasa menjadi ibu. Mendidik mereka adalah hal yang paling menantang. Bagaimana cara agar mereka mampu mencintai puasa sejak dini, seakan-akan menjadi PR besar di tahun Ramadhan ini. Aku harus memiliki berbagai cara, warna, motivasi, kata-kata, dan teladan, agar kelak mereka mampu memahami makna sesungguhnya puasa di bulan nan suci ini.
AllahuAkbar....
Terakhir kuiringi dengan do'a dalam hati kepada Rabb Yang Maha Membolak-balikkan hati agar kami sekeluarga senantiasa berada diatas jalan ini.
By : Ibu yang berproses memperbaiki diri
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini