Rayap, Televisi dan Cerita
"Aaaarrrggghhh....", teriakku saat melihat rayap berkerumunan di baju teteh Alya dalam lemari. "His...his..his....kenapa rayap-rayap ini bisa berkembang....haaduuuh...", lanjut omelanku tak berhenti mengisi ruangan kamar.
"Ada apa neng", tanya suamiku
"ini rayap banyak banget di dalam lemari. Merinding liatnya....dari mana sih datangnya...haduh...harus beres-beres semua baju anak-anak dong ..." jawabku.
Langsung ku bongkar pakaian Alya yang masih selamat dari kerumunan rayap. Ku pisahkan dengan yang sudah terlanjur termakan rayap. Hatiku masih saja mengeluh, mengomel dan terus memarahi rayap yang pasti tak mengerti bahasa omelanku.
Salah satu pembasmi nyamuk langsung ku semprotkan di wilayah kayu lemari yang terkena rayap. Selesai ku semprot. Selanjutnya membersikan rayap yang sudah klepek-klepek keracunan. Walaupun dalam keadaan mengomel....aku masih sempat minta maaf kepada rayap loh, sebelum pembasmian. Hihiy....pasti ada rasa bersalah juga menghancurkan rumah miliknya. Aahh....sambil berdoa semoga ada hikmahnya rayap datang tak diundang.
Lemari pun aku pindah ke ruangan tengah. Ku tukar dengan lemari plastik yang berisi boneka teteh Alya. Karena rayap tidak doyan dengan plastik. Segera kurapihkan pakaian sedikit demi sedikit.
Lemari yang terkena rayap dipindah, otomatis televisi diatasnya pun terpaksa aku pindahkan. "Eits, kalau televisi dipindah, anak-anak pasti kehilangan film kesayangan", gumamku dalam hati. Ku coba diskusikan dengan suami karena pasti akan ada protes anak-anak yang selalu menonton film kesayangan hingga ktiduran.
Sepulangnya anak-anak dari TPA, mendapati televisi yang berada di ruang tengah.
"miiiii.....kenapa tipinya diluar??, nanti teteh ga bisa nonton tipi deh sambil tidur" teteh Alya merengek kencang. Hehe ....aku hanya senyum-senyum sendiri.
"lemarinya kena rayap, jadi harus dipindah. Nonton tivi abis belajar aja yah, dibatesin sampai jam8" suamiku menjelaskan sampai ketiganya sepakat.
Fahmi dan Fakhri hanya menjawab, "ohh...yaudah nanti bisa belajar aja yah bi ga usah nonton tivi".
Ada protes dari wajah teteh Alya. Tapi terpaksa mengiyakan peraturan baru abinya.
"nanti umi bacain cerita-cerita aja yah sebelum tidur" sahutku mendamaikan.
Daaaaan.....tak ada jawaban dari teteh Alya. Seperti biasa. Hanya cemberut.
Pukul 20.00 film kesayangan pun selesai. Fahmi tidur lebih awal. Teteh Alya mengangkut kasurnya ke dalam. Sesuai kesepakatan, langsung masuk ke dalam kamar.
Sebisa mungkin ku alihkan dengan bercerita. Kisah bayi yang di bunuh. Salah satu kisah yang ku ambil dari dalam Al-Qur'an. Karena masih minim sekali buku-buku sejarah nabi terdahulu, ku ceritakan dengan sebisanya.
Masyaa Alloh...di luar dugaan, Fakhri begitu antusias mendengarkan. Sedangkan teteh lebih bersemangat lagi bertanya dan tak kalah menyahut pula dengan cerita versi dirinya. Kisah Fir'aun yang tega membunuh hampir semua bayi laki-laki pada masa kejayaannya. Teteh Alya pun mengingat berita yang sempat kami tonton kemarin sore, tentang bayi yang di bunuh dan di buang. Alhamdulillah...bisa mengaitkan dengan fenomena hari ini.
Sedangkan aku, masih memikirkan rayap. Ahh...harusnya aku yang berterima kasih pada mereka. Jika lemari tak dikeluarkan, maka televisi akan selalu menghantui setiap malam tidur ketiga anakku. Menjadi saingan antara ceritaku yang nyata dan cerita televisi yang hanya imajinasi belaka.
Baru ku menyadari kehadiran rayap di rumah kami, bukanlah suatu hal yang tidak baik. Justru, kejadian inilah yang membuka jalan bagiku untuk tetap memberikan pendidikan yang terbaik semaksimalku. Melalui mendidik dengan kisah para pendahulu.
Harus berlatih lagi bercerita kisah-kisah para pendahulu.... Mengenalkan mereka, agar anak-anakku mampu mengambil setiap pelajaran dan hikmah di balik semua kisah nyata, bukan dongeng ataupun film fiksi belaka.
#mendidikdengankisahpart2
#sesi2
#odopfor99days2018
"Ada apa neng", tanya suamiku
"ini rayap banyak banget di dalam lemari. Merinding liatnya....dari mana sih datangnya...haduh...harus beres-beres semua baju anak-anak dong ..." jawabku.
Langsung ku bongkar pakaian Alya yang masih selamat dari kerumunan rayap. Ku pisahkan dengan yang sudah terlanjur termakan rayap. Hatiku masih saja mengeluh, mengomel dan terus memarahi rayap yang pasti tak mengerti bahasa omelanku.
Salah satu pembasmi nyamuk langsung ku semprotkan di wilayah kayu lemari yang terkena rayap. Selesai ku semprot. Selanjutnya membersikan rayap yang sudah klepek-klepek keracunan. Walaupun dalam keadaan mengomel....aku masih sempat minta maaf kepada rayap loh, sebelum pembasmian. Hihiy....pasti ada rasa bersalah juga menghancurkan rumah miliknya. Aahh....sambil berdoa semoga ada hikmahnya rayap datang tak diundang.
Lemari pun aku pindah ke ruangan tengah. Ku tukar dengan lemari plastik yang berisi boneka teteh Alya. Karena rayap tidak doyan dengan plastik. Segera kurapihkan pakaian sedikit demi sedikit.
Lemari yang terkena rayap dipindah, otomatis televisi diatasnya pun terpaksa aku pindahkan. "Eits, kalau televisi dipindah, anak-anak pasti kehilangan film kesayangan", gumamku dalam hati. Ku coba diskusikan dengan suami karena pasti akan ada protes anak-anak yang selalu menonton film kesayangan hingga ktiduran.
Sepulangnya anak-anak dari TPA, mendapati televisi yang berada di ruang tengah.
"miiiii.....kenapa tipinya diluar??, nanti teteh ga bisa nonton tipi deh sambil tidur" teteh Alya merengek kencang. Hehe ....aku hanya senyum-senyum sendiri.
"lemarinya kena rayap, jadi harus dipindah. Nonton tivi abis belajar aja yah, dibatesin sampai jam8" suamiku menjelaskan sampai ketiganya sepakat.
Fahmi dan Fakhri hanya menjawab, "ohh...yaudah nanti bisa belajar aja yah bi ga usah nonton tivi".
Ada protes dari wajah teteh Alya. Tapi terpaksa mengiyakan peraturan baru abinya.
"nanti umi bacain cerita-cerita aja yah sebelum tidur" sahutku mendamaikan.
Daaaaan.....tak ada jawaban dari teteh Alya. Seperti biasa. Hanya cemberut.
Pukul 20.00 film kesayangan pun selesai. Fahmi tidur lebih awal. Teteh Alya mengangkut kasurnya ke dalam. Sesuai kesepakatan, langsung masuk ke dalam kamar.
Sebisa mungkin ku alihkan dengan bercerita. Kisah bayi yang di bunuh. Salah satu kisah yang ku ambil dari dalam Al-Qur'an. Karena masih minim sekali buku-buku sejarah nabi terdahulu, ku ceritakan dengan sebisanya.
Masyaa Alloh...di luar dugaan, Fakhri begitu antusias mendengarkan. Sedangkan teteh lebih bersemangat lagi bertanya dan tak kalah menyahut pula dengan cerita versi dirinya. Kisah Fir'aun yang tega membunuh hampir semua bayi laki-laki pada masa kejayaannya. Teteh Alya pun mengingat berita yang sempat kami tonton kemarin sore, tentang bayi yang di bunuh dan di buang. Alhamdulillah...bisa mengaitkan dengan fenomena hari ini.
Sedangkan aku, masih memikirkan rayap. Ahh...harusnya aku yang berterima kasih pada mereka. Jika lemari tak dikeluarkan, maka televisi akan selalu menghantui setiap malam tidur ketiga anakku. Menjadi saingan antara ceritaku yang nyata dan cerita televisi yang hanya imajinasi belaka.
Baru ku menyadari kehadiran rayap di rumah kami, bukanlah suatu hal yang tidak baik. Justru, kejadian inilah yang membuka jalan bagiku untuk tetap memberikan pendidikan yang terbaik semaksimalku. Melalui mendidik dengan kisah para pendahulu.
Harus berlatih lagi bercerita kisah-kisah para pendahulu.... Mengenalkan mereka, agar anak-anakku mampu mengambil setiap pelajaran dan hikmah di balik semua kisah nyata, bukan dongeng ataupun film fiksi belaka.
#mendidikdengankisahpart2
#sesi2
#odopfor99days2018

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini